Kunjungan Peserta BPJS Kesehatan ke RS Turun 40%, Ini Sebabnya
Ilustrasi iuran BPJS Kesehatan. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO—Jumlah peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Surakarta yang mengakses layanan kesehatan khususnya rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL) di rumah sakit menurun drastis hingga 40% - 50% di masa pandemi Covid-19.

Penurunan jumlah kunjungan pasien ke layanan RJTL di RS memunculkan dua kemungkinan, yakni masyarakat/pasien enggan periksa ke RS lantaran takut didiagnosis Covid-19 atau pola layanan kesehatan sudah sesuai kebutuhan medis atau belum.

Tambahan 40 Kasus Baru Covid-19 Solo Pada Akhir Pekan, 6 Di Antaranya Anak-Anak

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surakarta, Rahmad Asri Ritonga, mengatakan sejumlah RS yang menjadi mitra BPJS Kesehatan di tingkat fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) banyak yang merawat pasien Covid-19. Maka dari itu, banyak peserta rawat jalan memilih mengurungkan niat mereka ke RS.

“Kalau di fasilitas kesehatan tingkat pertama [FKTP] tidak banyak berubah. Apalagi kami memiliki sejumlah program yang bisa dimanfaatkan masyarakat selama masa pandemi, seperti mengakses layanan konsultasi melalui JKN mobile, ada yang via telepon, hingga Whatsapp. Sedangkan pada FKRTL mereka kemungkinan banyak menahan diri,” ujarnya, saat ditemui wartawan, akhir pekan lalu.

Namun demikian, menurutnya untuk masyarakat dengan penyakit kronis yang masuk program rujuk balik kunjungannya ke RS masih tinggi. Antara lain, mereka dengan sakit diabetes mellitus, hipertensi, jantung, penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), stroke, dan lainnya.

Cegah Covid-19, Ini Pesan Para Dokter di Peringatan Hari Dokter Nasional

Mulai Membaik

BPJS Kesehatan Cabang Surakarta mencatat jumlah pasien rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL) di rumah sakit turun drastis pada April 2020 lalu, yakni sebanyak 66.321 pasien. Angka ini mulai membaik pada Mei 2020, sebanyak 88.265 pasien. Sebelumnya jumlah pasien RJTL di RS pada Januari sebanyak 120.822 pasien, pada Februari sebanyak 111.965 pasien, dan Maret sebanyak 82.641 pasien.

“Hipotesis jadi berkembang banyak, apakah selama ini pemanfaatan layanan ini over atau tidak. Jadi sebenarnya yang enggak perlu ke RS mereka ke sana karena ada kemudahan. Kami tanggapi dugaan ini positif. Apakah angka pasien yang periksa ini adalah yang sebenarnya, perlu dikaji oleh para ahli, benar tidak kebutuhan biaya kesehatan sebanyak itu,” paparnya.

Di sisi lain, jumlah kunjungan pasien yang mengakses layanan kesehatan FKRTL kembali naik mulai Juni 2020 lalu. Menurutnya, seharusnya jika angka pemanfaatan layanan kesehatan turun, maka ada penurunan penggunaan anggaran. Namun demikian, pihaknya mengantisipasi adanya rebound pasien lantaran dimungkinkan masyarakat lebih banyak menahan diri tidak periksa. Dengan demikian, saat periksa jatuhnya lebih parah.

“Dalam sebulan rata-rata kami membayar tagihan klaim Rp130 miliar sebelum pandemi. Lalu ada penurunan sekitar Rp100 miliar. Sedangkan proyeksi penggunaan anggaran Rp1,5 triliun lebih per tahun,” katanya.

Sementara itu, Direktur Perluasan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan, Andayani Budi Lestari, mengatakan masyarakat bisa memanfaatkan JKN Mobile baik untuk skrining mandiri, antrean online, hingga berkonsultasi dengan dokter di masa pandemi ini.

“Sampai dengan 20 Oktober 2020 Jumlah FKTP 13 yang terintegrasi antrean online sebanyak 15.112 FKTP. Sedangkan hingga 30 September 2020 ada sebanyak 10,299 juta orang mengakses JKN Mobile. Mereka memanfaatkan ini untuk melakukan perubahan alamat, perubahan FKTP, perubahan kelas, pendaftaran, permintaan informasi, dan pengaduan,” jelasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom