Pondok Makan Tebing Grenjengan, Sendang, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri, ramai pembeli, Kamis (6/6/2019). (Solopos/Rudi Hartono)

Solopos.com, WONOGIRI -- Berburu kuliner di Wonogiri tidak lah sulit. Warung makan di sekitar objek wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) menyediakan berbagai jenis makanan terutama olahan ikan.

Pantauan Solopos.com, Kamis (6/6/2019) siang, warung-warung di sepanjang jalan Wonogiri-Pracimantoro itu ramai pengunjung yang berburu kuliner. Beberapa warung makan menawarkan menu berbeda.

Ada warung yang menyajikan makanan tradisional khas Wonogiri, seperti nasi tiwul, nasi asul-asul, dan sebagainya. Warung lainnya menyajikan botok ikan.

Dua warung yang menjadi favorit pemudik, yakni Pondok Makan Tebing Grenjengan dan Warung Botok Ikan Bu Karni. Pondok Makan Tebing Grenjengan dipilih pemudik yang ingin bernostalgia dengan makanan tradisional khas Wonogiri.

Letaknya sekitar 200 meter dari Wisata WGM ke arah Wuryantoro, warung paling dekat dengan tempat wisata andalan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri itu.

Pemilik warung, Reni Toriliana, saat ditemui Solopos.com, Kamis, di warungnya di Bendorejo, Sendang, Kecamatan Wonogiri, mengatakan pada momen Lebaran kali ini jumlah pengunung meningkat dibanding hari biasa.

Pembeli di warung Reni yang memiliki tipe khusus, yakni orang yang kangen dengan masakan tradisional khas Wonogiri yang kini sudah sulit ditemukan. Warungnya khusus menyajikan nasi tiwul, nasi asul-asul, nasi bancakan, nasi gurih, sayur lombok, oseng-oseng daun pepaya, mangut iwak kali, dan camilan peyek gereh.

Selain itu Reni juga menyediakan olahan ikan seperti warung lainnya, seperti nila bakar, gurami bakar, dan ayam goreng. Harga makanan tradisional tergolong murah. Reni mematok harga nasi bancaan Rp17.000/porsi, nasi bancaan spesial Rp28.000/porsi, nasi asul-asul yang dahulu hanya bisa didapat di acara hajatan Rp17.000/porsi, nasi tiwul Rp15.000/porsi, sayur lombok Rp8.000/porsi, gudangan Rp8.000/porsi, dan oseng daun pepaya Rp8.000/orang.

“Kami buka warung ini setahun lalu. Alhamdulillah lumayan ramai,” kata Reni.

Banyak pengunjung yang merasa bersyukur akhirnya keinginannya makan makanan jaman dulu (jadul) terkabul. Mereka kepada Reni mengaku sudah lama ingin makan makanan yang saat masih kecil sering mereka nikmati.

Bahkan, ada pengunjung yang sampai menangis seusai makan tiwul atau nasi bancakan, karena teringat masa hidup susah dahulu.

“Ada juga pembeli yang sangat senang karena bisa memenuhi keinginan keluarganya yang ngidam makanan zadul [zaman dulu]. Saya membuka warung ini memang tidak murni berorientasi profit. Lebih karena ingin melestarikan budaya dan ingin memenuhi keinginan orang yang pengin bernostalgia,” imbuh istri mantan Kades Sendang, Budi Hardono, itu.

Terpisah, pemilik Warung Botok Ikan Bu Karni, Sumiyati, saat ditemui Solopos.com di warungnya di Kedungareng, Sendang, mengaku jumlah pembeli di warungnya meningkat signifikan dibanding hari biasa. Mereka kebanyakan pemudik yang sudah menjadi pelanggan lama.

Di warung itu pembeli dapat menikmati botok ikan nila dan patin yang lezat. Hanya, Sumiyati tidak dapat memberi keterangan lebih lanjut karena sibuk melayani pembeli.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten