Kuliner Malam Sukoharjo Batal Normal Sesuai Skenario Transisi

SOLOPOS.COM - Kondisi trotoar jalan di pinggir Jl. Ir.Soekarno, Solo Baru sepi dari aktivitas pedagang kuliner saat pemberlakukan pembatasa kegiatan masyarakat, Kamis. (21/1/2021). (Solopos.com-Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO — Kondisi trotoar jalan di sepanjang Jl. Ir. Soekarno tepatnya di sekitar Bundaran Pandawa menuju Jembatan Bacem bertahan lengang setelah sempat mendapat janji surga bakal normal pada masa transisi pandemi Covid-19.

Kondisi sore hari hingga malam hari tidak berubah lebih ramai. Deretan rumah toko (ruko), baik di sisi utara maupun selatan sepanjang jalan protokol itu lengang sebagaimana kondisi lazimnya masa pandemi Covid-19.

Dulu, puluhan tenda pedagang kaki lima (PKL) yang menawarkan menu makanan dan minuman berjajar di sepanjang trotoar jalan saat malam hari. Harapannya, kondisi Solo Baru sebagai pusat bisnis terbesar di Soloraya yang juga dikenal sebagai surga kuliner malam, ramai lagi.

Baca Juga: 7 Tanaman Ini Kata Fengsui Bawa Hoki & Kekayaan

Masyarakat mstinya bisa kembali lesehan menyantap makanan dan minuman yang dijajakan para pedagang hingga larut malam. Di masa normal, saking ramainya para pengunjung harus mengantre untuk bisa menikmati beragam menu kuliner seperti nasi goreng, nasi liwet, bakmi goreng hingga wedangan hik.

Kini, kondisi kuliner malam di kawasan Solo Baru menyisakan suasana lengang. Trotoar jalan yang pada masa normal mestinya menjadi lokasi pedagang mengais rejeki sepi dan lengang sejak munculnya pandemi Covid-19 pada akhir Maret 2020.

Masyarakat memilih menghabiskan waktu dan bekerja di rumah lantaran khawatir terpapar Covid-19. Sejatinya, aktivitas usaha yang dijalankan para pedagang mulai menggeliat saat masa transisi menuju kenormalan baru.

Baca Juga: 9 Bulan Diadopsi, Anak Balita Disiksa Hingga Tewas

Para pedagang kembali menggelar lapak demi menyambung hidup dengan catatan wajib menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Itu pun masih sepi. Jumlah pengunjung tak seperti sebelum muncul pandemi Covid-19. Saya tetap rugi jika kondisinya seperti ini terus menerus,” kata pemilik Wedangan Pak Item, Joko Surepto, saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (21/1/2021).

Usaha kuliner yang dijalankan Joko terus merugi selama masa pandemi Covid-19. Omzet penjualan merosot hingga 50% dibanding sebelum masa pandemi Covid-19. Penghasilan yang didapat setiap bulan tak mampu menutup biaya operasional seperti membayar upah sembilan karyawan, tagihan listrik dan air bersih serta angsuran mobil pikap.

Kondisi ini diperparah dengan kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) selama dua pekan mulai 11 Januari-25 Januari. Jam operasional restoran, warung makan dan sejenisnya dibatasi hingga pukul 21.00 WIB. “Kadang rugi Rp200.000, kadang sampai Rp300.000. Bahkan, saat malam pergantian tahun, saya rugi Rp600.000 lantaran sepinya pengunjung,” ujar dia.

Baca Juga: Gempa Sulawesi Barat Dinilai Tak Lazim, Mengapa?

Joko menceritakan jam ramai pengunjung wedangan hik di atas pukul 19.00 WIB. Sebagian besar pengunjung merupakan keluarga yang ingin berkumpul sembari menikmati makanan dan minuman di wedangan hik. Mereka bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam hingga larut malam.

Lantaran tak ingin terus merugi, Joko memutuskan untuk tak berjualan saat pembatasan kegiatan masyarakat mulai diberlakukan pada 11 Januari. “Lokasi lapak saya tepat di depan ruko. Otomatis harus menunggu ruko tutup pada pukul 17.00 WIB. Kemudian, persiapan mendirikan tenda dan menata dagangan hingga pukul 18.00 WIB. Makan di wedangan paling pas ya makan di tempat. Lebih nikmat. Sementara aturannya di atas pukul 19.00 WIB dilarang melayani makan di tempat,” papar dia.

100 PKL Lebih

Jumlah PKL di kawasan Solo Baru lebih dari 100 orang. Pada kondisi normal sebelum panemi Covid-19, mereka menyebar di sepanjang Bundaran Pandawa hingga Jembatan Bacem dan Bundaran Pandawa hingga RS Indriati.

Baca Juga: Kristen Gray Dideportasi Via Bandara Soekarno-Hatta

Saat ini, sebagian pedagang memilih tak berjualan lantaran tak ingin mengambil risiko lantaran ada pembatasan jam operasional saat pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat. Kelangsungan hidup para pedagang kian berat setelah pemerintah memastikan bakal memperpanjang kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat selama dua pekan hingga 8 Februari.

“Kami hanya minta berjualan seperti hari biasa. Tak diberi bantuan tak masalah. Para pedagang komitmen untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat namun jam operasional tak perlu dibatasi,” timpal Ketua Paguyuban PKL Solo Baru, Sudarsi.

Aspirasi itu telah disampaikan perwakilan pedagang saat hearing dengan para wakil rakyat di Gedung DPRD Sukoharjo pada beberapa waktu lalu. Sudarsi mempertanyakan esensi pembatasan jam operasional usaha kuliner malam hari. Dia membandingkan dengan kerumunan orang di pasar tradisional yang sulit dihindari.

Baca Juga: Film Animasi Siswa SMK RUS Berprestasi Internasional

Ketua DPRD Sukoharjo, Wawan Pribadi, mengatakan kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat ditempuh pemerintah untuk menahan laju persebaran pandemi Covid-19 dan menekan angka kematian atau mortality rate pasien positif.

Banyak pertimbangan yang telah dikaji secara mendalam oleh pemerintah. Wawan memahami beratnya kondisi yang dirasakan para pedagang akibat pembatasan jam operasional pada malam hari. Pandemi Covid-19 tak hanya memukul para pedagang melainkan seluruh sendi kehidupan selama hampir satu tahun.

Di sisi lain, Penjabat (Pj) Sekda Sukoharjo, Budi Santoso, mengatakan pemerintah telah melonggarkan jam operasional usaha kuliner hingga pukul 21.00 WIB. Budi meminta para pedagang mematuhi regulasi demi kesehatan dan keselamatan masyarakat di tengah gerusan pandemi Covid-19.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Berita Terbaru

Anggota Polres Sragen Ikuti Vaksinasi Demi Buktikan Vaksin Covid-19 Aman

Solopos.com, SRAGEN -- Sebanyak 578 anggota Polres Sragen sudah menjalani penyuntikan vaksin Covid-19. Mereka membuktikan bila vaksin aman dipakai...

17 Wastafel Berpedal Jadi Sarana Penegakan Protokol Kesehatan di SMPN 1 Sragen

Solopos.com, SRAGEN -- Sebuah wastafel yang berfungsi jika penggunanya menginjak pedal yang berada di bagian bawah terpasang di depan...

Bantu Nakes Lacak Kontak Erat, 177 Bhabinkamtibmas Ikuti Pelatihan 3T

Solopos.com, KARANGANYAR -- Sebanyak 177 orang bhabinkamtibmas Polres Karanganyar mendapatkan pelatihan sebagai pelacak Covid-19. Dalam waktu dekat, mereka akan...

PMI Solo Jadikan Rumah Sakit Institusi Pertama Jaring Donor Plasma

Solopos.com, SOLO — Masih ada antrean pasien yang membutuhkan plasma konvalesen dari PMI Kota Solo. Semua pihak berkepentingan berkomitmen...

Dinkes Jateng: Vaksin Untuk Pelaku Ekonomi Ditarget April

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mulai melaksanakan penyuntikan vaksin Covid-19 bagi petugas pelayanan publik mulai Rabu (24/2/2021). Sementara...

Inspiratif, 20 Perempuan Donor Plasma Konvalesen

Solopos.com, SOLO--Tangan kanan Erlyn Tusara, 23, meremas bola karet sekitar satu jam untuk menyumbangkan  komponen darah pada alat di...

Kuatkan Daya Tubuh Anak di Masa Pandemi, Polres Wonogiri Beri Ratusan Paket Susu

Solopos.com,WONOGIRI -- Polres Wonogiri membagikan ratusan paket susu di Kampung Siaga Candi Covid-29, Selasa (23/2/2021). Susu itu selanjutkan didistribusikan...

Pangdam & Kapolda ke Boyolali demi Dukung PPKM Mikro

Solopos.com, BOYOLALI — Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Bakti Agus Fadjari, dan Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol. Ahmad Luthfi,...

Di Klaten, Pasien Tanpa Gejala Pilih Isolasi di Rumah

Solopos.com, KLATEN — Sejumlah desa dan kecamatan di Klaten jauh hari sudah menyiapkan tempat isolasi terpusat. Nyatanya, warga yang...

Satgas Sukoharjo Optimalkan Posko Covid-19 di Desa

Solopos.com, SUKOHARJO – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sukoharjo mengoptimalkan posko Covid-19 di setiap desa/kelurahan. Hal ini untuk pencegahan,...