Kue Lebaran Khas Pemalang Ini Kini Sudah Jarang Ditemui

Kue Amprut atau dikenal juga sebagai kue sagon dulunya kerap beredar dan menghiasi sajian di setiap perayaan Lebaran.

 Kue Amprut (Youtube Resep Mama Nizar)

SOLOPOS.COM - Kue Amprut (Youtube Resep Mama Nizar)

Solopos.com, PEMALANG — Di jaman modern ini, dalam setiap perayaan Hari Raya Idul Fitiri, masyarakat lebih cenderung menyuguhkan kue-kue ‘impor,’ sebut saja kastangel, nastar, lapis legit dan kue-kue lain yang merupakan peninggalan kolonial

Di Pemalang, terdapat kue lokal yang dulu sering disajikan saat perayaan Idul Fitri. Kue Amprut atau dikenal juga sebagai kue sagon dulunya kerap beredar dan menghiasi sajian di setiap perayaan Lebaran.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Melansir dari situs Okezone.com, Rabu (12/5/2021), Kue Amprut ini biasanya dimakan sebelum sungkeman kepada orangtua. Secara filosofi memakan Kue Amprut sebelum sungkem  itu tanda keseriusan untuk meminta maaf.

Baca Juga : Ganjar Minta Pengelola Wisata Batasi Pengunjung 30%

Teknisnya,  memakan Kue Amprut memerlukan keseriusan  agar tidak tersedak. Sama halnya saat sungkeman untuk minta maaf harus serius seperti makan Kue Amprut. Tidak boleh main-main, harus fokus dan penuh sopan santun.

Namun kini hanya sedikit warga yang masih menyuguhkan Kue Amprut saat Lebaran. Cara membuatnya yang membutuhkan waktu lama dan agak sulit secara teknis membuat panganan ini mulai ditinggalkan.

Berdasarkan pantauan  Solopos.com melalui kanal Youtube Resep Mamah Nizar, untuk membuat Kue Amprut ini dibutuhkan 3 bahan utama saja, yaitu 500 gram tepung ketan, 1 butir kelapa yang  sudah diparut dan 250 gram gula pasir serta cetakan berbentuk persegi panjang untuk nanti dimasukan dalam panggangan

Baca Juga : Alhamdulillah, 1.159 Perusahaan di Jateng Telah Bayar THR

Secara teknis, cara membuatnya tidak begitu susah, tepung ketan dan kelapa parut disangrai hingga kering dan ringan. Proses sangrai ini dilakukan sendiri-sendiri, tidak dengan dicampur. Setelah kering, sisihkan tepung ketan dan parutan kelapa.

Proses sangrai ini membutuhkan waktu 1-1,5 jam untuk mendapatkan tekstur ringan dan kering dari tepung ketan dan kelapa parut.  Proses inilah yang membuat orang enggan untuk membuat Kue Amprut, karena proses pembuatannya cukup lama

Kemudian masukan gula dalam wadah parutan kelapa yang sudah disangrai dan aduk hingga tercampur rata. Setelah itu campurkan tepung ketan yang sudah disangrai dan aduk hingga tercampur rata.

Baca Juga : Sedapnya Lontong Dekem Pemalang, 1 Piring Pasti Kurang

Setelah itu, masukan adonan dalam cetakan  kue yang sudah dibersihkan sebelumnya, tekan-tekan sampai adonan merata dalam cetakan, lalu panggang dalam oven panas selama 15 menit. Tektur dari kue ini renyah dan berwarna putih karena tekstur adonannya memang kering dari awal.

Titi Faryanti
Titi Faryanti, Penjual Kue Amprut (Okezone.com)

Salah satu yang masih melestarikan Kue Amprut ini adalah Titi Faryanti, pemilik dari sebuah toko cemilan khas Pemalang yang berlokasi di Perumahan Sugihwaras Indah No. 61 Pemalang. Pelanggannya yang kebanyakan dari luar kota banyak yang mencari Kue Amprut ini.

Kue Amprut ini dijual Rp20.000 per toples dengan berat seperempat kilogram. Karena teksturnya kering sehingga panganan ini bisa bertahan hingga 6 bulan. Rasa dari kue ini dominan gurih dan manis. Rasa gurihnya berasal dari parutan kelapa

Sumber: Okezone.com, kanal Youtube Resep Mamah Nizar

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Perhatian! UMK Kota Semarang 2023 Diusulkan Naik 7,95%, Jadi Segini Besarannya

      Berikut perkiraan UMK Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) tahun 2023 jika besaran kenaikan mencapai 7,95 persen.

      Kabid Dokkes Polda Jateng Sebut Jenis Racun yang Bunuh Keluarga di Magelang

      Pelaku pembunuhan satu keluarga di Magelang diduga menggunakan racun jenis sianida maupun racun jenis arsenik.

      Balai Bahasa Jateng Buka Pelatihan Menulis Puisi & Feature

      Balai Bahasa Jateng membuka Bengkel Literasi untuk pelatihan penulisan feature maupun puisi bagi generasi muda.

      Tega, Bayi Laki-Laki di Pekalongan Dibuang dalam Karung

      Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki ditemukan di dalam karung di kawasan Pantai Dewi, Kota Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng).

      Mantul! Desa di Jateng Ini Raih Predikat Desa Antikorupsi Terbaik di Indonesia

      Desa Banyubiru di Kabupaten Semarang dinobatkan sebagai desa antikorupsi terbaik di Indonesia oleh KPK.

      Waspada, Mangkang & Tambak Lorok Semarang Potensi Banjir Rob pada Rabu Besok

      BMKG Tanjung Emas Semarang memberikan peringatan terkait potensi banjir rob di kawasan Mangkang dan Tambak Lorok pada Rabu (30/11/2022).

      Kronologi Pembunuhan Tiga Orang dalam 1 Keluarga di Magelang

      Berikut kronologi pembunuhan tiga orang dalam satu keluarga di Magelang, Jawa Tengah (Jateng), dengan cara diracun.

      Percepat Penanganan Stunting, Telkomsel Dukung Digitalisasi BKKBN Jateng

      Dukungan Telkomsel kepada BKKBN jateng diwujudkan dalam bentuk kerja sama seperti pengadaan layanan contact center.

      Harum Manis Mutiara Ajaib dari Dieng

      Dataran Tinggi Dieng menyimpan mutiara ajaib beraroma harum yang khas sebagai salah satu kekayaan kuliner.

      Pelaku Pembunuhan Keluarga di Magelang Sempat Tolak Autopsi untuk 3 Korban

      Pelaku pembunuhan tiga orang dalam satu keluarga di Magelang dengan cara memberi racun merupakan anak kedua dari korban.

      Peroleh 4 Mobil Baru, Polres Salatiga Bertekad Tingkatkan Layanan Masyarakat

      Keempat unit kendaraan dinas tersebut merupakan bantuan dari Korlantas, Baharkam Polri, dan BRI Cabang Salatiga.

      KPK Launching Desa Antikorupsi di Banyubiru Kabupaten Semarang

      Ketua KPK Firli Bahuri mengatakan potensi desa memiliki nilai yang strategis. Hal itu karena desa-desa Indonesia memiliki kekayaan yang begitu luar biasa.

      Pelaku Pembunuhan Keluarga di Magelang Akui Beri Racun ke Orang Tua & Kakak

      Pelaku pembunuhan satu keluarga di Magelang, DD, telah mengakui perbuatan menghabisi orang tua dan kakak dengan memberikan racun.

      Ternyata! Pelaku Pembunuhan Keluarga Magelang Pernah Campur Racun dengan Dawet

      Pelaku pembunuhan keluarga di Magelang yang merupakan anak kedua korban ternyata pernah berusaha menghabisi nyawa korban dengan mencampur racun pada minuman dawet.

      UMK Semarang 2023 bakal Naik 7,95%, Pengusaha Protes

      Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Kota Semarang tahun 2023 diusulkan naik 7,95 persen menjadi Rp3.600.348,78.

      Terkuak! Ini Motif Pelaku Pembunuhan Keluarga di Magelang dengan Racun

      Plt Kapolresta Magelang, AKBP Mochammad Sajarod Zakun, mengungkapkan motif pelaku pembunuhan tiga orang dalam satu keluarga di Mertoyudan Magelang.