Pengunjung di gapura pintu masuk kompleks Keraton Agung Sejagat Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (14/1/2020). (Solopos-Anis Efizudin)

Solopos.com, SLEMAN -- Para pengikut Raja Keraton Agung Sejagat (KAS) Toto Santoso yang tersisa di rumah kontrakan di Berjo Kulon, Ngabangan, Sidoluhur, Godean, Sleman, diminta angkat kaki dari tempat itu. Hal ini setelah para pengikut Toto bertemu perwakilan warga untuk mediasi.

Pertemuan setelah penggerebekan yang dilakukan oleh polisi itu disaksikan oleh aparat desa, kepolisian, dan TNI. Pertemuan dilakukan di rumah warga bernama Deki Rinawan, 31, sejak Kamis (16/1/2020) malam pukul 21.00 WIB hingga Jumat (17/1/2020) dini hari pukul 00.23 WIB dengan dihadiri tokoh masyarakat dan warga Sidoluhur sekitar 25 orang.

Camat Godean, Sarjono, mengatakan beberapa kesepakatan telah dicapai dalam mediasi antara warga dan penanggung jawab anggota KAS bernama Mursinah. Dalam pertemuan, pengikut Kerajaan Agung Sejagat sanggup menghentikan kegiatan dan tidak menerima tamu. Mereka juga sanggup meninggalkan tempat itu dalam tiga hari terhitung sejak Jumat (17/1/2020).

Satu hal lain yang disepakati adalah mereka sanggup memindahkan makam janin bayi dari anak Fanni Aminadia dan Toto Santoso ke permakaman umum. Diberitakan Solopos.com sebelumnya, warga menemukan gundukan tanah yang ternyata merupakan kuburan janin Fanni.

"Tidak ada ultimatum, itu kita kesepakatan tadi malam. Kesepakatan dituangkan ke surat pernyataan antara warga masyarakat yang disaksikan dari pemerintah kemudian polsek, koramil, dan desa. Kemudian di sana ada yang tanggung jawab atas nama Mursinah selaku penanggung jawab yang menunggu rumah di situ," ujar Sarjono, Kamis (17/1/2020).

Sebelum ada kesepakatan, kata Sarjono, Mursinah dan pengikut Toto Santoso lainnya sudah berinisiatif untuk pindah. "Yang tinggal di sana itu yang punya KTP Sleman hanya Mursinah. Yang lain setelah diselidiki oleh pihak kepolisian sini bukan penduduk Godean," jelasnya.

Di rumah kontrakan Toto, masih ada tujuh orang yang tinggal dan kerap melakukan ritual. "Ada anaknya Toto dan Fanni yang baru SMP dan TK. Kemudian yang lain adalah bukan keluarganya, tapi anggota kelompok KAS," terangnya.

Warga keberatan terhadap aktivitas di kontrakan Toto karena awalnya rumah itu tidak diperuntukkan untuk kegiatan Kerajaan Agung Sejagat. Pasalnya sejak awal izin aktivitas mereka hanya membuka angkringan.

"Rumah enggak digaris polisi tapi ditutup. Saat ini berdasarkan kesepakatan tadi malam selama masih waktu tiga hari ini tidak boleh menerima tamu. Tamu di luar rumah," terangnya.

Kedua anak Toto dan Fanni yang sampai saat ini masih tinggal di kontrakan juga rencananya akan diserahkan ke pihak keluarga. "Sampai saat ini belum tahu mau ditempatkan di mana, tetapi sama Mursinah akan dibawa ke keluarganya," tutupnya.

Sumber: Harian Jogja


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten