KTNA Desak Bupati Sragen Percepat Beli Burung Hantu
Tyto alba atau burung hantu. (Freepik)

Solopos.com, SRAGEN —-Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen mendesak Bupati Sragen mempercepat pengadaan burung hantu untuk membasmi hama tikus.

Desakan ini muncul setelah adanya korban orang tersetrum jebakan tikus. KTNA menilai kebutuhan burung hantu mendesak dibutuhkan petani mengingat serangan tikus tak kunjung berhenti.

Desakan itu disampaikan Ketua KTNA Sragen Suratno saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (15/8/2020). Suratno menerangkan untuk mengatasi hama tikus itu memang sulit dan petani memilih menggunakan strum listrik.

Unik, Sejumlah Calon Mahasiswa Kasih Give Away Pulsa Gratis karena Lulus SBMPTN 2020

Jebakan tikus dengan strum listrik dianggap paling efektif membasmi hama tersebut kendari berisiko.Dia mengatakan pembasmian dengan pengasapan, gropyokan, dan seterusnya memang risikonya tak seberat jebakan berlistrik. Namun pembasmian model itu tikus yang tertangkap sedikit.

“Dengan kondisi seperti ini, bila jebakan berlistrik dihilangkan maka kebijakan pembelian burung hantu itu tidak perlu ditunda-tunda. Kalau tahun ini bisa beli burung hantu kenapa harus menunggu tahun depan? Maraknya serangan tikus kan tahun ini. Kalau pengadaan burung hantu itu dilakukan 2021, ya kalau tahun depan ada tikus?” kata Suratno.

Dia berpendapat kebutuhan lain yang tidak mendesak bisa dialihkan untuk pembelian burung hantu itu. Di sisi lain, Suratno meminta kepada pemerintah jangan menakut-nakuti petani dengan ancaman pidana.

Pemkab Sragen Bakal Borong 80 Burung Hantu buat Basmi Hama Tikus

Dilakukan 2021

Karena ancaman pidana lewat regulasi itu tidak menjadi solusi. Suratno juga mempertanyakan sosialisasi yang dilakukan Pemkab di 20 kecamatan. Karena faktanya masih ada petani yang nekat pasang jebakan tikus berlistrik.

Sementara itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyatakan tidak bisa mempercepat pengadaan burung hantu pada 2020. Yuni, sapaan akrabnya, menyampaikan pengadaan burung hantu dilakukan di 2021.

Dia juga membantah bila sosialisasi masif di 20 kecamatan itu tidak berpengaruh. “Sosialisasi di 20 kecamatan itu efektif. Tanpa ada sosialisasi itu kemungkinan korban akan lebih banyak,” katanya.

Limbah Cemari Bengawan Solo, Pabrik Ini Diminta Tutup Sementara 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sragen Eka Rini Mumpuni Titi Lestari mengatakan segala upaya sudah dilakukan Pemkab Sragen.

Mulai peringatan, sosialisasi, ajakan dengan MMT, lewat radio, pertemuan KTNA, pertemuan gabungan dan kelompok tani. Juga gropyokan, bantuan obat, pasang umpan basmikus, dan seterusnya.

“Sekarang tinggal kembali ke petani. Kalau setiap selesai panen, petani mau bersih-bersih lingkungan, gropyokan rutin, kemungkinan hama tikus itu dapat dikendalikan,” katanya.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom