Kronologi Kakek-Kakek Penunggu Sungai Grompol Sragen Hilang Misterius
Sejumlah anggota SAR gabungan melakukan pencarian orang hilang di perairan Sungai Grompol, Masaran, Sragen, Selasa (19/5/2020). (Istimewa)

Solopos.com, SRAGEN – Kakek-kakek warga Dukuh Klembon, Desa Pilang, Kecamatan Masaran, Sragen, Tukiran, 60, hilang diduga hanyut di Sungai Grompol, Selasa (19/5/2020) petang. Proses pencarian korban masih dilakukan hingga Rabu (20/5/2020) siang.

Pejabat Humas Basarnas Pos Surakarta, Yohan Tri Anggoro, saat dihubungi Solopos.com, Selasa, mengatakan kakek-kakek tersebut sudah dua tahun tinggal di bantaran Sungai Grompol Sragen.

Tukiran kali terakhir dijumpai di dasar Sungai Grompol Sragen pada Selasa pukul 17.00 WIB. Kala itu dia mengenakan kaus putih dan bercelana abu-abu.

Tukiran asyik menyantap makanan yang dikirim kakaknya, Suyatmi. Suyatmi juga sempat membujuk adiknya meninggalkan dasar sungai karena cuaca mendung. Namun, bujukan Suyatmi ditolak oleh Tukiran. Suyatmi pun akhirnya meninggalkan Tukiran sendirian di dasar Sungai Grompol Sragen.

Pura-Pura Pesan Susu, Pembeli Gondol HP Pemilik Warung di Timur RS Moewardi Solo

Tak lama kemudian, hujan deras mengguyur wilayah Masaran. Hujan membuat volume air di Sungai Grompol meningkat. Suyatmi mulai panik lantas menyusul ke sungai untuk mencari Tukiran pada Selasa petang. Namun, ia tidak menemukannya.

"Saat itu kondisi Sungai Grompol masih dangkal. Namun, pada Selasa pagi debit air sungai meningkat atau banjir. Korban diduga terbawa arus sungai itu," ujarnya.

Suyatmi lantas melapor ke warga sekitar yang diteruskan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen. Sukarelawan dari berbagai instansi seperti BPBD, SAR Himalawu, SAR Poldes, Bagana, PMI Sragen, Polsek Masaran, Koramil Masaran dan lain-lain dikerahkan untuk mencari korban.

Kerja di Jogja, Perempuan 24 Tahun di Klaten Tengah Positif Covid-19

Susur Sungai

Mereka menyusuri Sungai Grompol Sragen dan Sungai Bengawan Solo. Sejak Selasa malam, sukarelawan juga memantau permukaan Sungai Bengawan Solo dari Jembatan Sari di perbatasan Plupuh-Masaran. Proses pencarian korban sempat terkendala derasnya arus dua sungai tersebut.

"Korban diduga terseret atau hanyut karena debit air Sungai Grompol," ujarnya.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, Tukiran yang memiliki gangguang kejiwaan sudah terbiasa tidur di dasar Sungai Grompol sejak tiga tahun terakhir. Kebetulan di tengah anak sungai Bengawan Solo itu terdapat gundukan tanah yang biasa dijadikan tempat bersantai sekaligus tidur bagi Tukiran.

Ngos-Ngosan hingga Salah Lafalkan Azan, Kronologi Begal di Plupuh Sragen Ditangkap Seusai Rampok Kerabat 

Pihak keluarga sudah berusaha membujuk Tukiran supaya menghentikan kebiasaan tidur di sungai. Akan tetapi, ajakan keluarga selalu ditolak. Mau tidak mau, pihak keluarga harus mengirim makanan kepada Tukiran setiap harinya.

“Dia biasa tidur beralaskan tikar [di dasar sungai]. Kebutuhan makanaan dikirim saudara. Kebiasaan itu dilakukan sudah lama. Akhir-akhir ini, fisiknya sudah semakin lemah. Mudah-mudahan saja segera ketemu,” terang perangkat Desa Pilang, Vicky Amin, kepada Solopos.com.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho