KRL Jogja-Solo Diharapkan Terintegrasi dengan BST dan Trans Jogja
KRL Jogja-Klaten saat berada di Stasiun Klaten, Rabu (28/10/2020). (Istimewa-Dokumentasi Dishub Klaten)

Solopos.com, SOLO — Kehadiran kereta rel listrik (KRL) Jogja-Solo diharapkan bisa terintegrasi dengan moda transportasi pendukung lainnya di berbagai wilayah yang disinggahi. Selain itu, KRL juga diminta memfasilitasi para pesepeda.

Pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, mengatakan kehadiran KRL Jogja-Solo menginspirasi untuk membangun hal serupa di wilayah perkotaan lainnya, seperti Surabaya (Surabaya - Lamongan - Mojokerto), Bandung Raya, dan Semarang.

“Layanan KRL Jogja-Solo ini dapat terintegrasi dengan bus Trans Jogja dan Batik Solo Trans [BST]. Namun demikian, diharapkan integrasi tidak hanya fisik melainkan jadwal, sistem pembayaran [single trip ticket], dan layanan,” ujar dia dalam webinar Hadirnya KRL Jogja-Solo, Selasa (19/1/2021).

Banjir dan Longsor Sering Terjadi, Ini Penyebabnya Menurut BMKG

Djoko menjelaskan merujuk pada operator KRL, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), tiket KRL nantinya menggunakan kartu multi trip (KMT), Commuterpay, dan uang elektronik bank.

Pihaknya berharap alat pembayaran tersebut juga disinkronkan dengan moda transportasi lain seperti Trans Jogja dan BST.

Selama ini alat pembayaran Trans Jogja menggunakan single trip, tiket berlangganan, dan uang elektronik bank. Sedangkan BST dengan skema buy the service yang masih bersifat gratis. Ke depan pembayaran BST juga memanfaatkan e-money perbankan.

Efek Vaksinasi Covid-19: Mulai Lapar, Pegal-pegal Hingga Ngantuk

Selain itu, berbeda dengan KA lokal Prambanan Ekspres (Prameks) yang hanya menyinggahi 7 stasiun, KRL nanti bakal menaikturunkan penumpang di 11 stasiun. Artinya ada empat stasiun yang dihidupkan kembali.

Dengan begitu, menurutnya perekonomian sejumlah daerah ini berpotensi besar tumbuh. Sayangnya, di wilayah di luar Jogja dan Solo belum didukung dengan moda transportasi lainnya.

Pesepeda dan Pejalan Kaki

Sebagai contoh, Klaten yang belum memiliki moda pendukung lain yang terintegrasi dengan KRL. Padahal di Klaten KRL bakal berhenti di 5 stasiun (Delanggu, Ceper, Klaten, Srowot, dan Brambanan) 3 di antaranya stasiun lama yang dihidupkan lagi (Delanggu, Ceper, dan Srowot).

“Di sisi lain, integrasi tidak hanya sesama kendaraan bermotor, tapi juga dengan kendaraan tidak bermotor seperti pesepeda dan pejalan kaki. Terlebih fasilitas pesepeda dan pejalan kaki di Yogyakarta, Klaten, dan Solo, sudah ada perbaikan. Saya berharap sepeda juga dibolehkan dibawa ke dalam KRL Jogja - Solo,” papar dia.

Sementara itu, Komunitas Pramekers, Yusticia Eka Noor Ida, berharap headway atau jarak antartrip KRL diperpendek sehingga pilihan masyarakat berkereta semakin luas dan untuk mengurangi tumpukan penumpang.

Pengirim Karangan Bunga Sadis di Sragen Tak Diakui sebagai Member Arisan Online

Menurutnya, selama ini ketika mereka naik KA Prameks headway kereta sekitar 1,5 jam.

“Ini dampaknya akan sangat panjang. Selain itu, pelaju di jalur Jogja - Solo atau sebaliknya ini sebagian besar adalah pekerja sehingga jam berangkat dan pulang jelas. Kami berharap jadwal KRL nanti bisa ramah pengguna,” ungkap dia.

Sebelumnya, Direktur Utama PT KCI, Wiwik Widayanti, menambahkan akan ada banyak perubahan dengan kehadiran KRL Jogja-Solo.

“Jadwalnya kemungkinan besar menggunakan jadwal KA Prameks, yakni 20 perjalanan per hari dengan perjalanan paling pagi pukul 05.15 WIB dan headway sekitar 45 menit,” jelas dia.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom