Kritik yang Dirindukan

Demi mesra dengan kekuasaan, sering lahir persekongkolan intelektual yang melegitimasi penguasa melalui perannya sebagai “pendapat ahli”. Jati diri sebagai intelektual kadang menjadi terlupakan atas tugas utamanya sebagai penjaga moral dan pemegang kebenaran. Kaum intelektual lupa agenda menjaga dan mencerdaskan publik supaya pusaran demokrasi sesuai amanah konstitusi. 

 Bramastia (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Bramastia (Istimewa/Dokumen pribadi)

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kritik gara-gara tulisan yang kritis dan tajam tentang kebijakan pendidikan. Sebaliknya, saat mulai jarang menulis, saya mendapat kritik, kenapa tidak lagi kritis menulis?

Rasanya memang dilematis menanggapi kritik saat pikiran kritis dan pada saat tidak kritis. Ternyata untuk konsisten menjadi intelektual tidak mudah dan memang harus tahan terhadap kritikan itu sendiri.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Saya mengkritik karena begitu cinta kepada satu-satunya bangsa yang memiliki Pancasila. Begitu cinta saya kepada Pancasila, kadang juga merindukan lahirnya sosok intelektual Pancasila, yakni intelektual yang menjaga nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dan menjadi benteng bagi tegaknya Pancasila. Rasanya memang harus ada upaya melahirkan intelektual Pancasila yang menjadi semangat baru bagi kaum intelektual di Tanah Air dalam menjaga ruh ke-Indonesia-an yang mulai terkoyak.

 

Intelektual Pancasila

Kalau kita menjadi intelektual Pancasila tentu tidak perlu takut untuk bicara tentang kebenaran. Tatkala Pancasila sebagai dasar negara dan menjadi penanda semangat bangsa, intelektual Pancasila harus menjadi garda terdepan untuk membentenginya.

Kritis tidak perlu ditakuti karena menjadi bukti bahwa intelektual Pancasila cinta kepada Bangsa Indonesia. Intelektual Pancasila memang harus berpikir kritis karena nilai Pancasila kini mengalami reduksi dan degradasi (kemerosotan) atas perilaku pihak yang sering mengaburkan nilai Pancasila.

Bagi yang merasa sebagai intelektual Pancasila, tentunya sedih tatkala intelektual meninggalkan tugas terkait dengan kepentingan publik. Bagaimana kini seorang intelektual terlihat mulai enggan jika berurusan dengan medan pertarungan antargagasan. Lebih tragis lagi kadangkala menolak forum kebenaran berdasarkan pijakan keilmuwan dan lebih memilih dengan sesama komunitas keilmuan demi menuju kemakmuran.

Intelektual justru sering terlena dengan tradisi unjuk prestasi akademik daripada membangun jaringan publik demi menguatkan sains dan memberikan pencerahan publik.

Paradigma baru bagi intelektual akademik saat ini tanpa dia sadari akan mengubur dirinya sendiri. Suara dan kepercayaan publik lambat laun meninggalkan intelektual mapan dan lupa dalam membangun peradaban negeri.

Publik menjadi kian meragukan keberadaan kaum intelektual karena mulai sibuk dengan “lomba” memublikasikan karya ke jurnal ilmiah, tetapi lupa dengan tugas mencerahkan umat manusia. Lebih menyedihkan lagi tatkala intelektual lupa dengan budaya konfirmasi karena sudah merasa cukup menjadi alat (atau diperalat) untuk legitimasi. Apalagi saat kaum intelektual ada di persimpangan jalan, bisa jadi malah kebingungan menempatkan diri sebagai “penyambung aspirasi” atau larut diamputasi kepakarannya.

 

Kritik yang Dirindukan

Andai kita menjadi intelektual Pancasila, tentu harus khawatir karena kini muncul fenomena menyedihkan tatkala publik melihat kaum intelektual sebagai elite yang eksklusif. Bahkan, kini mulai ada stigma kepada kaum intelektual sebagai pemikir di “menara gading” yang mulai acuh, tidak peduli, tidak peka serta abai terhadap sekitarnya. Bahkan Antonio Gramsci (1978) menuduh kaum intelektual sebagai pengkhianat karena menyuarakan kebenaran tanpa terlibat dalam kerja praksis.

Sangat mengerikan tatkala kaum intelektual mengabdikan diri demi kepentingan kekuasaan. Kita harus mencermati intelektual kebanyakan justru lupa mengabdikan diri pada kepentingan publik. Buai kekuasaan mengakibatkan kaum intelektual kebanyakan mulai mabuk sekaligus terlena dengan nikmat kuasa. Penyelenggara “mengobral” karena ada persekongkolan akademisi dan politisi. Itu jauh dari nilai ideal intelektual Pancasila.

Demi mesra dengan kekuasaan, sering lahir persekongkolan intelektual yang melegitimasi penguasa melalui perannya sebagai “pendapat ahli”. Jati diri sebagai intelektual kadang menjadi terlupakan atas tugas utamanya sebagai penjaga moral dan pemegang kebenaran. Kaum intelektual lupa agenda menjaga dan mencerdaskan publik supaya pusaran demokrasi sesuai amanah konstitusi.

Andai mau menjadi seorang intelektual Pancasila, tentu harus lebih keras bersuara. Alangkah dosanya bila kaum intelektual membuat kemunduran peradaban bangsa menuju teknokrasi otoriter akibat para intelektual tidak lagi bersuara. Keberanian menempatkan diri sebagai intelektual Pancasila seyogianya akan menjadi leluasa dan keras bersuara serta membangun garis demarkasi jelas dan tegas antara dirinya dengan penguasa.

Apabila sudah berani menegaskan diri sebagai intelektual Pancasila, jangan menjadikan rakyat konsumen pasif yang menerima produk kepakaran intelektual. Jangan sampai penyandang gelar akademis abai, membikin cacat intelektual. Publik akan meragukan kepakarannya. Sikap kritis intelektual sesungguhnya meningkatkan kepercayaan publik.

Artikel ini ditulis oleh Bramastia
Peneliti di Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) UNS Solo

 

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Espos Plus

      Ujung Tanduk Nasib Piala Dunia U-20 setelah Tragedi Kanjuruhan

      Ujung Tanduk Nasib Piala Dunia U-20 setelah Tragedi Kanjuruhan

      Nasib sepak bola Indonesia berada di ujung tanduk. Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 153 orang berpotensi mengganjal Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023. Indonesia pun terancam mendapat sanksi berat lainnya dari FIFA.

      Berita Terkini

      Ambivalensi KKN

      Program unggulan mengenai pengabdian kepada masyarakat—kuliah kerja nyata (KKN)—yang pada masa pandemi diselenggarakan secara daring kini kembali ke konsep semula: mahasiswa hidup bersama masyarakat.

      Kebohongan demi Uang Pasti Kedaluwarsa

      Kebohongan itu memang menghadirkan uang bagi kreator konten. Semakin viral konten yang mengumbar kebohongan itu, makin banyak uang yang didapat dari Google Adsense.

      Perceraian dan Fenomena di Baliknya

      Berbagai kasus perceraian seharusnya memancing keprihatinan bersama, baik pemerintah maupun masyarakat secara luas.

      Panggung Energi

      Presiden Joko Widodo telah menandatangani Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2022. Ini menjadi landasan pengembangan kendaraan bernotor listrik di Indonesia

      Persaudaraan di Warung Madura 24 Jam

      Sejumlah kota besar di Pulau Jawa menjadi basis warung Madura 24 jam. Warung ini muncul di kawasan padat penduduk hingga menjadi pesaing minimarket waralaba.

      Petani Era Society 5.0

      Salah satu yang mencolok adalah penggunaan teknologi informasi dalam pemasaran komoditas pertanian dan pemanfaatan big data bagi kesejahteraan petani era kehidupan society 5.0.

      Media Kooperasi dan Kepercayaan Publik

      Tergerusnya independensi media bukanlah hal yang bisa dipandang sebelah mata. Kepercayaan publik taruhannya.

      Memaknai Perkemahan

      Ketika Lord Robert Baden Powell berkemah bersama 22 anak laki-laki pada 25 Juli 1907 di Pulau Brownsea, Inggris, ia punya maksud dan tujuan tersendiri.

      Relevansi Pemimpin Kerajaan sebagai Pemersatu

      Sebagai salah satu negara pelopor sistem monarki konstitusional, kedudukan penguasa kerajaan di Inggris hanya sebagai kepala negara yang tak punya hak politik untuk mencampuri urusan pemerintahan.

      Krisis Petani di Negeri Agraris

      Sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam pembangunan nasional

      Kepergian Ratu Elizabeth, Negara Persemakmuran, dan Bahasa Indonesia

      Elizabeth Alexandra Mary, Ratu Inggris Raya kelahiran 21 April 1926, mangkat pada 8 September 2022 di Kastil Balmoral.

      Karut-Marut Subsidi BBM

      Keluhan Presiden Joko Widodo ini salah besar karena lebih dari separuh anggaran subsidi bahan bakar dan energi merupakan subsidi LPG tabung tiga kilogram.

      Wrexham

      Sepak bola ternyata bisa menjadi opsi investasi yang seksi. Jadi mengapa para pengusaha tidak turun ke lapangan dan membangun klub sepak bola?

      Dilema antara Penerimaan Negara dan Kesehatan Masyarakat

      Dari perspektif kesehatan, kalangan medis menyebut ada segudang bahaya merokok, baik perokok aktif maupun bukan perokok yang turut menghirup asap pembakaran rokok (perokok pasif).

      Tidak Oleng Menghadapi Dampak Kenaikan Harga BBM

      Mengurangi jajan di luar rumah dan membiasakan memasak sendiri bisa menghemat uang dengan nilai lumayan.

      Menjadi Senior Bersama Teknologi Digital

      Bahagia rasanya mengenal teknologi dan budaya digital pada masa senior seperti yang saya alami kini.