Kritik untuk Sangkar Buku Kegiatan Ramadan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 19 Mei 2021. Esai ini karya Rohmah Jimi Sholihah, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Tasikhargo, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.

 Rohmah Jimi Sholihah (Istimewa/Dokumen pribadi).

SOLOPOS.COM - Rohmah Jimi Sholihah (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Buku kecil dengan sampul dominan warna hijau dan kertas buram menjadi ciri khas buku kegiatan Ramadan. Buku ini biasanya dibagikan menjelang Ramadan kepada siswa-siswi SD/MI hingga SMP/MTs. Demikian pula pada menjelang Ramadan 1442 Hijirah yang baru saja berlalu.

Terkandung harapan besar terkait beredarnya buku ini, yakni untuk panduan hingga evaluasi amalan yang dikerjakan oleh siswa-siswi pada bulan Ramadan. Terlebih pada Ramadan 1442 H yang baru saja berlalu kita masih dihadapkan pada kondisi pandemi Covid-19.

Kontrol guru pada kegiatan siswa di rumah semakin sulit dilakukan, namun benarkah sebuah buku bisa mengontrol kegiatan siswa-siswi di rumah? Menilik  pada buku kegiatan Ramadan yang beredar atau dibagikan kepada siswa-siswi sebelum Ramadan lalu dan sebagian sekolahan meminta para siswa mengumpulkan buku kegiatan Ramadan setelah libur Lebaran 2021, tidak ada perubahan yang berarti pada konten buku kegiatan Ramadan pada setiap tahun.

Pada umumnya terdapat materi global mengenai puasa dan seluk-beluknya serta kontrol kegiatan seperti tadarus, puasa, hingga ibadah salat lima waktu yang dikemas dalam bentuk tabel. Ada pula ruang untuk laporan ibadah Salat Tarawih lengkap dengan rangkuman ceramah yang disampaikan.

Siswa juga diminta mendapatkan bukti berupa tanda tangan pengisi ceramah maupun imam yang memimpin Salat Tarawih. Faktanya, dengan bermodal alat tulis, siswa dengan mudah dapat memanipulasi kegiatan yang bahkan tidak mereka lakukan.

Ada banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut, di antaranya kurangnya pengawasan dari orang tua maupun guru. Ada anggapan dari anak bahwa tidak ada tindak lanjut dari pengisian buku kegiatan Ramadan. Toh, tidak untuk dinilai, tidak mendapat umpan balik dari guru, bahkan bisa jadi tidak dikumpulkan, lalu untuk apa diisi dengan tertib dan jujur?

Misalnya apabila rumah guru berdekatan dengan rumah murid A dan guru melihat si A jarang terlihat di masjid, sedangkan buku kegiatan Ramadan terisi penuh. Ketika guru mendapati hal tersebut sebaiknya memberikan teguran atau bimbingan kepada anak yang bersangkutan.

Setidaknya hal tersebut dapat sedikit mengurangi pola pikir anak bahwa buku kegiatan Ramadan yang mereka isi tidaklah penting dan hal yang paling utama adalah mengisinya. Lemahnya arahan dari guru membuat siswa menganggap enteng buku kegiatan Ramadan yang mereka dapatkan.

Mereka hanya menganggap bahwa aktivitas mengisi buku Ramadan sekadar menggugurkan kewajiban, padahal apabila pengisian buku Ramadan dilakukan secara jujur dan efektif maka keberadaan buku kegiatan Ramadan untuk sarana evaluasi sangatlah berharga apabila dibandingkan dengan harga jual yang tidak seberapa.

Dengan demikian perlu dikaji ulang terkait dengan buku kegiatan Ramadan yang diedarkan supaya diisi sesuai kegiatan yang dilakukan dan sebagai media evaluasi bagi orang tua, guru, maupun siswa. Hingga Ramadan 1442 Hijriah berlalu, tampaknya buku kegiatan Ramadan masih sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya.

Penekanan pada Kebiasaan   

Tentu tak hanya dorongan agar siswa-siswi melakukan puasa secara tertib, tampaknya ada banyak hal vital lain yang harus mendapat perhatian lebih selama bulan Ramadan, salah satunya adalah kebiasaan. Momentum Ramadan di banyak daerah dijadikan wahana oleh anak untuk saling melempar petasan.

Seolah-olah Ramadan tanpa petasan adalah sayur yang kurang bumbu, padahal petasan yang digunakan dapat mengganggu ibadah hingga kenyamanan dalam masyarakat dan hal ini diatur dalam undang-undang darurat. Penggunaan petasan tak boleh sembarangan.

Masih maraknya penggunaan petasan yang mengiringi hari-hari selama Ramadan 1442 Hijriah membuat siswa merasa hal tersebut sudah biasa dilakukan sehingga tidak akan menimbulkan masalah. Jelas disebutkan dalam ajaran Islam bahwa kita dilarang untuk membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Jelas bahwa penggunaan petasan dapat membahayakan jiwa, kesehatan, hingga lingkungan karena berpotensi menimbulkan kerusakan, contohnya kebakaran. Terkait dengan hal tersebut, konten dalam buku kegiatan Ramadan akan lebih baik apabila dimodifikasi, diolah, dan dikembangkan sesuai kondisi aktual dan faktual.

Apabila kondisi warga pada Ramadan 1442 Hijriah masih berjuang dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang belum berkesudahan maka sebaiknya konten buku keguatan Ramadan banyak menyinggung hal tersebut. Panduan beribadah pada masa pandemi serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan maupun dihindari akan memberikan pengetahuan lebih kepada siswa.

Guru harus berpikir logis, konkret, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Siswa tidak hanya dikurung untuk beribadah dalam sangkar buku kegiatan Ramadan, padahal mereka mempunyai seribu cara untuk terbebas dari sangkar tersebut.

Penekanan lebih kepada kebiasaan sehingga mereka menjalankan ibadah yang bersifat wajib maupun sunah atas dasar kemauan dan kesadaran masing-masing. Sedangkan buku kegiatan Ramadan hanya dijadikan pelengkap. Tak adanya perubahan atau modifikasi dalam buku kegiatan Ramadan yang beredar setiap tahun tampaknya tak bisa memantik semangat siswa untuk mempelajari materi yang ada pada buku tersebut.

Adanya panduan dan arahan dari guru terkait buku keguatan Ramadan, modifikasi perwajahan hingga konten, serta bantuan dari orang tua diharapkan mampu mengentaskan permasalahan terkait buku kegiatan Ramadan ini. Dengan demikian, buku kegiatan Ramadan tidak hanya sebagai simbol atau formalitas datangnya Ramadan yang harus diisi penuh oleh siswa.

Tentu hal tersebut merupakan pekerjaan besar dan bukan sesuatu hal yang mudah dilaksanakan. Guru harus bergandengan dengan orang tua dalam mengawasi perilaku dan keguatan anak selama Ramadan dan terus mendampingi sehingga tujuan utama yang berkaitan dengan perbaikan kualitas diri akan tercapai.

Berita Terkait

Berita Terkini

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.

Sepekan Penuh Kejutan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 6 Agustus 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pidana Sumbangan Rp2 Tiliun dan Hoax yang Difasilitasi

Opini ini ditulis Ahmadi H. Dardiri M.H., Sekjen Pusat Studi Peraturan Perundang-undangan (PSPP) IAIN Salatiga dan Dosen Fakulutas Syariah IAIN Salatiga