Kriteria Kurang Jelas, Ganjar Belum Ajukan PSBB Jateng
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan paparan dalam acara Anugerah Keterbukaan Informasi Badan Publik Provinsi Jawa Tengah di Hotel Patra Jasa Semarang, Kamis (19/12/2019). (Bisnis-Istimewa)

Solopos.com, SEMARANG – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, belum berniat mengajukan PSBB guna mengatasi persebaran wabah Covid-19. Saat ini pihaknya sedang menghitung secara teknis data kuantitatif jumlah persebaran kasus virus corona.

Orang nomor satu di Jateng itu mengatakan tidak disebutkan pasti berapa minimal jumlah kasus yang membuat suatu daerah harus mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB. Meski demikian, sejumlah upaya pembatasan fisik sudah diterapkan di Jateng sejak beberapa pekan terakhir.

“Karena di dalam PSBB kan produk akhirnya sekolah tidak berjalan. Dalam arti sekolahnya pindah ke rumah, sudah kita lakukan. Tidak usah berkantor, 70% sudah kita lakukan. Pembatasan transportasi, KA, sudah berkurang, bus juga. Hampir rata-rata semua sudah. Maka sekarang, kita lagi menghitung secara detail angkanya agar ada aturan turunan," ujar Ganjar kepada Semarangpos.com, Selasa (7/4/2020)..

Maret 2020, Pasien ISPA di Puskesmas Sragen Naik hingga Ratusan Orang

Tolok Ukur PSBB Kurang Jelas

Ganjar menambahkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) memang tidak ada aturan kuantitatif. Praktis hanya ukuran kualitatif soal PSSB. Hal inilah yang membuat Ganjar belum berniat mengajukan PSBB untuk wilayah Jateng.

“Maka seandainya terjadi peningkatan seperti mereka yang mengalami kesakitan, atau seandainya terjadi persebaran. Maka yang jadi pertanyaan, kata seandainya itu berapa?” sambung Ganjar Pranowo mempertanyakan langkah konkret aturan PSBB.

Dalam peraturan itu hanya disebutkan jika terjadi peningkatan kasus atau persebaran, seperti berapa jumlah warga yang dinyatakan positif.

"Maka yang jadi pertanyaan apakah itu levelnya desa, apakah level kecamatan, atau kabupaten/kota, atau provinsi? Maka kita menyiapkan terus," imbuh Ganjar.

Pemudik Berkurang, Posko Kesehatan di Teriminal Wonogiri Tutup

Dengan segala aturan yang belum jelas itu, Ganjar Pranowo pun belum berniat mengajukan PSBB Jateng untuk menangani wabah Covid-19.

Saat ini, pihaknya terus mengendalikan kondisi yang terjadi di masyarakat. Termasuk agar mereka tetap tidak mudik dan patuh menggunakan masker di luar rumah.

Guna menekan dampak ekonomi, dia berharap pabrik yang masih bisa berproduksi tidak libur.  Seperti, sektor konfeksi yang bisa beralih mode dengan menjahit pakaian lain, seperti alat pelindung diri (APD).

Strategi Ganjar Pranowo Tangani Covid-19

JK Rowling Bagi Tips Agar Sembuh dari Gejala Corona

Di samping itu Ganjar berharap pabrik memberlakukan pengaturan jam kerja, physical distancing terhadap karyawan yang masuk, hingga penggunaan masker.

“Kalau dulu berhimpitan duduknya, kini jaraknya direnggangkan, agar bisa menghindari potensi penularan, termasuk cuci tangan dan cek kesehatan," jelasnya.

Ganjar juga menuturkan sejauh ini belum ada klaster penularan virus corona di Jateng. Sejumlah pasien positif virus corona di Jateng, klasternya justru berasal dari luar daerah seperti Jakarta, Bogor, dan luar negeri.

Tak Serukan Pakai Masker, Jekek: Saya Takut Jadi Bahan Tertawaan

Oleh karenanya, ia pun meminta seluruh pemudik yang pulang ke Jateng menjalani isolasi mandiri.

"Ini wajib hukumnya. Model isolasi memang tidak bisa seragam, tapi enggak boleh enggak," tutur Ganjar.

Sebagai informasi, hingga Selasa (7/4/2020) pagi  sudah ada 132 kasus positif corona di Jateng. Dengan perincian, 96 kasus positif masih ditangani atau menjalani perawatan, 14 kasus sembuh, dan 22 kasus meninggal dunia.

Sementara, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 15.062 kasus. Sedangkan, jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) mencapai 450 orang.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho