Ilustrasi layanan kredit perbankan (Dedi Gunawan/JIBI/Bisnis)

Kredit Soloraya, dua momen yang bersamaan mendongkrak kredit di sejumlah BPR.

Solopos.com, SOLO--Penyaluran kredit oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Soloraya tumbuh signifikan selama semester I 2016. Ramadan dan Lebaran menjadi momen yang paling bagus karena penyaluran kredit bisa tumbuh hingga 20% dibandingkan biasanya.

Berdasarkan statistik yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo, penyaluran kredit BPR per Juni 2016 mencapai Rp3,92 triliun. Penyaluran tersebut tumbuh 13,05% secara year to date dibandingkan Desember 2015 yang mencapai Rp3,47 triliun.

Sedangkan, jika dibandingkan Juni 2015 atau year on year, penyaluran kredit tumbuh 15,42%. Tercatat pada periode yang sama tahun lalu penyaluran kredit BPR Rp3,402 triliun.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Soloraya, Aziz Soleh, menuturkan penyaluran kredit BPR terdongkrak saat Ramadan. “Penyaluran kredit saat puasa tumbuh cukup tinggi dan sangat bagus, kemarin bisa naik 15 persen sampai 20 persen. Sampai Juli ini penyaluran juga masih lumayan,” tuturnya saat dihubungi Solopos.com, Senin (1/8/2016).

Selain untuk menambah modal kerja, pertumbuhan kredit BPR juga dipengaruhi momen tahun ajaran baru sekolah. Masyarakat menginginkan proses pencairan kredit yang cepat dan tidak berbelit di BPR.

“Tahun ajaran baru anak sekolah juga mempengaruhi kenaikan penyaluran kredit. Banyak orang tua yang tidak siap dengan mahalnya biaya masuk sekolah, akhirnya mereka memilih meminjam ke BPR. Bagi nasabah lama, tidak perlu waktu untuk mencairkannya, hari ini juga pun bisa. Kami memberikan ketenangan kepada nasabah, yang penting anaknya bisa sekolah. Sebab nasabah kan ingin mencari yang cepat dan bunga di BPR juga bersaing,” paparnya.

Untuk terus menggenjot penyaluran kredit, BPR mengandalkan semua karyawannya untuk menjadi tim marketing di tempat tinggal mereka. Penyaluran kredit kepada tetangga karyawan juga lebih mudah karena bisa lebih paham terhadap latar belakang kehidupan mereka.

Kendati demikian, dia mengaku masih harus menyelesaikan pekerjaan rumah ihwal tingginya angka kredit macet. Per Juni angka kredit macet BPR Soloraya masih mencapai 8,46%.

Sementara, Kepala OJK Solo, Laksono Dwionggo, mengatakan penyaluran kredit BPR pada semester I sangat bagus. “(Penyaluran) Kredit BPR cukup bagus. Masyarakat mulai banyak yang percaya terhadap BPR meskipun saat ini permintaan kredit bank konvensional menurun karena ekonomi global yang belum sembuh sepenuhnya,” urainya.

Sementara, berdasarkan jenis penggunaan modal kerja masih mendominasi penyaluran kredit BPR di Soloraya dengan capaian Rp2,3 triliun per Juni 2016. Kredit konsumsi mengekor dibelakangnya senilai Rp1,2 triliun dan kredit investasi senilai Rp214 miliar. Sedangkan, berdasarkan sektor ekonomi, perdagangan besar dan eceran mendominasi penyaluran kredit dengan total Rp1,26 triliun per Juni 2016.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten