SOLOPOS.COM - Ilustrasi Perumahan.(Dok/JIBI/Solopos).

Ilustrasi Perumahan (Dok/JIBI/Solopos)

Ilustrasi Perumahan (Dok/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO—Kredit pemilikan rumah (KPR) bank umum di Soloraya sepanjang semester I-2013 mengalami pertumbuhan sebesar 13,66%.

Promosi BRI Group Buka Pendaftaran Mudik Asyik Bersama BUMN 2024 untuk 6.441 Orang

KPR untuk rumah tempat tinggal tipe komersial yaitu tipe 22 sampai dengan tipe 70 mendominasi pembiayaan. Hal ini sejalan dengan tingginya penjualan rumah dan tumbuhnya klaster baru perumahan di kawasan Solo dan sekitarnya.  Dari data yang diterima Solopos.com dari Bank Indonesia (BI) Solo, KPR yang disalurkan bank umum di Soloraya mencapai Rp3,53 triliun per Juni 2013. Angka ini naik 13,66% dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp3,10 triliun.

KPR untuk rumah tempat tinggal tipe 22 sampai dengan tipe 70 mampu tumbuh signifikan hingga 34,31% menjadi Rp1,40 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp1,04 triliun. Sementara, KPR untuk rumah di atas tipe 70 juga tumbuh signifikan sampai 21,63%. Pembiayaan untuk rumah tipe ini mencapai Rp1,03 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu hanya Rp853 miliar. Aturan tentang loan to value (LTV) minimal 70% tidak menggerus KPR tipe di atas 70%.

Pemilik Harmony Residence, Satriyo Budi, yang sudah mengembangkan perumahan di kawasan Sumber, Solo, membenarkan penjualan rumah sepanjang satu tahun terakhir sangat tinggi. “Setahun kami sudah jual sekitar 63 unit untuk tiga proyek perumahan yang kami bangun mulai dari Sumber, Solo dan Baturan, Colomadu,” kata Satriyo, saat ditemui Solopos.com, akhir pekan lalu.

Puncak Penjualan

Tingginya permintaan rumah, kata Satriyo, tidak lepas dari lokasi perumahan yang dia kembangkan. Sumber merupakan kawasan yang cukup strategis. Dengan lokasi yang masih berada di dalam kota, serta harga yang tidak terbilang murah yaitu mencapai Rp340 juta per unit, rumah tipe 50 yang dia kembangkan laris manis.

Kenaikan harga bahan material, kata Satriyo, belum banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan bisnis properti. Apalagi, kata dia, rumah tipe 50 ini banyak diminati khususnya untuk segmen pasar yang saat ini sedang berkembang pesat, yaitu segmen menengah ke atas. “Meskipun harga material naik, kami tetap menjaga kualitas bangunan rumah. Kami juga tetap mempertahankan harga jual kami sesuai daya beli pasar.”

Sebelumnya, Real Estate Indonesia (REI) Solo memproyeksikan pasar properti khususnya pengembangan perumahan di Solo dan sekitarnya tahun ini bisa tumbuh kisaran 20%. Potensi pasar ini tentunya akan meningkatkan kinerja perbankan khususnya dalam penyaluran kredit.

Menurut Kabid Hubungan Perbankan Real Estate Indonesia (REI) Solo, Anthony Hendro, puncak penjualan properti akan terjadi di kisaran Oktober-November.  Pemilik Era Athaya ini juga masih optimistis bisa menjual rata-rata tujuh hingga delapan unit rumah sederhana dan empat hingga lima unit rumah komersial per bulannya. “Seperti proyek kami di Tirtasani Palur, saat ini malah ada waiting list sekitar 50 unit.”

Diakui Anthony, memang ada sedikit hambatan untuk pasar properti di semester II tahun ini. Yaitu harga rumah yang diperkirakan bakal terkerek naik mengikuti kenaikan harga material akibat kenaikan harga BBM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Saluran WhatsApp dengan klik Soloposcom dan Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini" Klik link ini.
Solopos Stories
Honda Motor Jateng
Honda Motor Jateng
Rekomendasi
Berita Lainnya