KPK Prediksi Kaitan Suap PLTU Riau-1 dan Golkar, Tapi Belum Pembuktian
Anggota DPR Komisi VII Eni Maulani Saragih dengan rompi tahanan menuju mobil tahanan seusai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (14/7/2018). (Antara - Sigid Kurniawan)

Solopos.com, JAKARTA -- Partai Golkar kian kerap disebut dalam pengusutan kasus suap PLTU Riau-1. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria Pandjaitan terus mempertajam dugaan adanya aliran dana kasus suap PLTU Riau-1 ke Munaslub Golkar 2017 lalu.

Bahkan, KPK sudah memprediksi dari sejumlah keterangan saksi yang sudah dilakukan pemeriksaan diduga adanya aliran dana ke Partai Golkar tersebut.

"Informasi itu sudah ada [aliran dana ke Golkar]. Prediksi kami sudah ada ke situ , tapi pembuktian itu belum dapat," kata Basaria, di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/9/2018).

Basaria menegaskan tak memungkiri penyidik KPK mempunyai rencana melakukan pemeriksaan terhadap Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto. Namun penyidik KPK belum dapat dipastikan melakukan penjadwalan tersebut.

"Bisa saja [pemanggilan Airlangga Hartanto]. Bisa saja ke mana-mana penyidikan. Tapi kami enggak bisa target, oh si ini harus diperiksa, kami tunggu penyidik saja," tutup Basaria.

Hari ini, KPK juga mengonfirmasi Ketua Fraksi Partai Golkar DPR Melchias Marcus Mekeng soal aliran dana terkait kasus suap kesepakatan kerja sama pembangunan PLTU Riau-1. KPK pada Rabu memanggil Mekeng bersama dua orang lainnya sebagai saksi untuk tersangka mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih (EMS).

"Kami masih fokus pada pengetahuan para saksi terkait dengan salah satunya terkait dengan aliran dana pada pihak-pihak tertentu di PLTU Riau-1 ini, masih belum bisa disampaikan secara rinci aliran dananya dari siapa ke siapa," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu.

Selain Mekeng, dua saksi yang dipanggil untuk diperiksa itu antara lain staf khusus DPR RI Tahta Maharaya dan Herwin Tanuwidjaja dari unsur swasta.

"Tentu yang jadi fokus saat ini, pertama adalah dugaan aliran dana pada tersangka apakah bagian dari Rp4,8 miliar yang sudah kami identifikasi untuk tersangka EMS atau dugaan penerimaan yang lain itu masih terus kami dalam lebih lanjut," kata Febri.

Sampai berita ini disiarkan, pemeriksaan terhadap Mekeng masih berlangsung. KPK juga telah menetapkan dua tersangka lainnya, yaitu Johannes Budisutrisno Kotjo (JBK) yang merupakan pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited serta mantan Menteri Sosial dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham (IM).

Idrus diduga menerima janji untuk mendapat bagian yang sama besar dari Eni sebesar 1,5 juta dolar AS yang dijanjikan Johannes bila PPA (purchase power agreement) proyek PLTU Riau-1 berhasil dilaksanakan Johannes dan kawan-kawan.

Sebelumnya, KPK telah menerima uang pengembalian dari salah satu pengurus parta Golkar dalam Munaslub 2017 lalu sebanyak Rp 700 juta. Diduga uang tersebut dikembalikan terkait proyek PLTU Riau-1.

Hal itu pertama kali disampaikan oleh salah satu tersangka mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih menyebut adanya uang masuk terkait proyek PLTU Riau-1 ke Munaslub Golkar sebanyak Rp2 miliar. Ketika itu, Eni merupakan Bendahara Umum Munaslub Golkar 2017 lalu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom