Kosakata Nyeleneh Khas Sragen, Begini Penjelasannya Menurut Pakar Linguistik
Miftah Nugroho. (Istimewa)

Solopos.com, SRAGEN -- Pakar linguistik dari Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret atau UNS Solo, Miftah Nugroho, memberikan analisisnya terkait kosakata khas dan nyeleneh yang hanya dipahami warga Sragen.

Dalam teori sosiolinguitik, kata Miftah, setiap masyarakat tertentu biasanya memiliki keunikan tersendiri dalam bahasa yang dipakai sehari-hari. Entah itu dalam hal pelafalan, pengucapan bunyi atau fonetis, penggunaan kosa kata maupun kalimat.

Akan tetapi, keunikan itu tampak lebih jelas pada kosakata yang mereka pakai sehari-hari. Menurutnya, faktor geografi turut memengaruhi munculnya kosakata unik di suatu daerah.

Begini Sikap Ngeyel Warga Dan Pasien Covid-19 Yang Bikin Nakes di Solo Ngelus Dada

Sragen yang menjadi bagian dari eks Karesidenan Surakarta berada di perbatasan wilayah Jawa Timur dengan dialek jawa timuran dan wilayah Grobogan yang lebih dekat dengan dialek Pantura. Hal ini menjadi faktor yang memengaruhi munculnya kosakata khas Sragen tersebut.

“Kalau saya pakai istilah bahasa unik, bukan bahasa nyeleneh. Faktor geografi jelas memengaruhi. Oleh karena itu ada istilah variasi bahasa berdasar geografi atau dialek geografi,” papar Miftah kepada Solopos.com, Jumat (7/8/2020).

Kemunculan Bahasa

Selain faktor geografis, faktor budaya juga turut berperan dalam kemunculan bahasa unik di suatu daerah. Dia mencontohkan penamaan suatu benda biasa dipengaruhi kepercayaan atau budaya masyarakat setempat.

Gara-Gara Proyek Tol Solo-Jogja, 9 Rumah di Klaten Ini Terancam Terisolasi

Kemunculan kosakata unik tersebut juga dimungkinkan dipengaruhi oleh bahasa ibu atau bahasa pertama yang dikuasai seseorang. Miftah mengatakan sepengetahuannya belum ada kajian sosiolinguistik terkait kemunculan kosakata unik dan khas di Sragen atau Soloraya.

"Kosakata khas ini bisa dikaji secara sosiolinguistik, bisa juga secara etnolinguistik. Perlu wawancara dulu ke sana [Sragen], kok biasa beberapa kosa kata tertentu [dimaknai] berbeda dengan masyarakat tutur yang lain,” terang Miftah.

Sebelumnya diberitakan, salah seorang warga pendatang di Sragen, Ahmad, mengaku sempat kebingungan dengan arti kosakata yang diucapkan lawan bicaranya saat menanyakan alamat kepada warga asli.

Hoaks Dan Ketidakpercayaan Masyarakat Soal Covid-19 Bikin Kerja Nakes di Solo Kian Berat

“Pernah saya tanya alamat kepada seseorang yang saya temui di tepi jalan, jawabnya begini 'Lurus terus, ketemu enjeran, sampai plong kedua belok kanan'. Saya bingung, enjeran itu apa? Plong itu apa?” ujar pria asli Boyolali itu seraya terkekeh, Kamis (6/8/2020).

Setelah Ahmad bertanya lagi kepada lawan bicaranya, barulah ia mengerti apa maksud enjeran dan plong. "Ternyata enjeran itu maksudnya jalan menurun, sementara plong itu adalah gang jalan," beber Ahmad.

Membingungkan Orang Luar

Lenjeran dan plong merupakan kosakata khas Sragen yang bagi orang luar wilayah itu membingungkan karena tidak paham artinya. Pengalaman serupa diungkapkan Yani, 30, warga Semarang yang merantau ke Bumi Sukowati untuk bekerja.

Selain di Wonogiri, Ini 5 Temuan Mayat Tinggal Kerangka Yang Bikin Heboh

Yani bercerita dulu dirinya juga sempat kebingungan saat menanyakan alamat teman kepada seseorang yang dia temui di jalan. “Ceritanya dulu saya mau tanya alamat teman di Sragen. Saya coba tanya kepada orang yang saya temui di jalan. Dia bilang, saya harus jalan lurus nanti ketemu tugu lalu belok kiri," kata Yani mengisahkan.

Namun setelah melanjutkan perjalanan hampir 2 km, Yani tidak kunjung menemukan tugu yang dimaksud.

"Ternyata, tugu bagi warga Sragen itu dimaknai sebagai gapura. Di Sragen itu, tidak ada Gapura Mahbang, adanya Tugu Mahbang yang terkenal di Sambungmacan itu," jelas Yani.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom