Kos-Kosan di UMS Solo Ditinggal 4 Bulan Gegara Corona, Mahasiswa Ini Kaget Jamur dan Kutu Berpesta
Beras berkutu yang ditinggal di indekos yang disewa mahasiswa Madiun di kawasan Colomadu, Karanganyar. (Istimewa/Nia Kurniasih)

Solopos.com, SOLO – Seorang mahasiswa rantau asal Madiun, Jawa Timur, Puspita, kaget melihat kondisi kos-kosan yang disewanya di Sukoharjo, Jawa Tengah, yang ditinggal selama empat bulan akibat pandemi Covid-19.

Baju yang ditinggal di lemari berjamur serta bolong dimakan serangga. Langit-langit indekosnya pun menunjukkan bekas rembesan air.

Tak ketinggalan lantai kamarnya diselimuti debu tebal. Namun, Puspita tidak mendapat keringanan biaya indekos selama tidak ditempati akibat wabah Covid-19.

Mahasiswa dari Politeknik Negeri Madiun itu mengaku tetap membayar penuh sewa indekos di sekitar kampus UMS Solo tersebut.

“Kaget banget pas masuk kamar lihat baju pada jamuran, malahan ada yang bolong kayak bekas digigit serangga. Mana bayarnya penuh juga, Rp2,1 juta per enam bulan,” terangnya kepada Solopos.com, Rabu (1/7/2020).

Kurang Ajar! Karyawan Starbucks di Jakarta Intip Payudara Pelanggan Lewat CCTV

Kejadian serupa dialami Nia dan Ria. Dua mahasiswa asal Madiun itu kaget melihat semua bahan makanan yang ditinggal di kos-kosan kedaluwarsa. Bahkan, beras yang mereka tinggal dimakan kutu.

“Semua bahan makanan busuk dan kedaluwarsa. Bawangnya busuk, sarden kedaluwarsa, berasnya kutuan,” ujar Nia.

Sama halnya dengan Puspita, Nia dan Ria membayar penuh sewa indekos di kawasan Blulukan, Colomadu, Karanganyar tersebut.

“Bayarnya tetap full. Kami sewa indekos berdua Rp800.000, jadi per orang tetap bayar Rp400.000,” sambung Nia.

Curhat Pilu Anak Korban Tabrak Lari di Flyover Manahan Solo: Pertama dan Terakhir Diantar Ibu

Aman

Meski demikian Nia bersyukur sepeda motor yang ditinggal di kos-kosan tersebut masih ada. Hal itu membuktikan lokasi indekosnya cukup aman.

“Alhamdulillah banget motorku enggak hilang. Semua barang aman,” imbuh dia.

Puspita, Ria, dan Nia, bertandang ke Solo menumpang bus patas untuk menyelesaikan praktik kerja lapangan di Solopos. Menurut mereka perjalanan menumpang bus antar-kota antar-provinsi itu cukup aman, meski penumpang harus membayar lebih.

“Aman perjalanannya, enggak perlu pakai surat sehat. Di bus diatur tempat duduknya. Kalau kursi tiga ditempati 2 orang. Yang kursi satu cuma seorang. Bayarnya dobel, biasanya Rp20.000 sekarang jadi Rp30.000 per orang,” pungkas Nia.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom