Tutup Iklan

KORUPSI WONOGIRI : Selewengkan Bantuan Sapi Senilai Ratusan Juta Rupiah, Ketua Poknak Ditahan Kejari

KORUPSI WONOGIRI : Selewengkan Bantuan Sapi Senilai Ratusan Juta Rupiah, Ketua Poknak Ditahan Kejari

SOLOPOS.COM - Agus Dwi Susilo (dua dari kanan), 45, dimintai keterangan saat pelimpahan tahap II kasus dugaan korupsi bantuan sapi di Kantor Kejari Wonogiri, Rabu (24/1/2018). (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)

Ketua kelompok ternak di Wonogiri ditahan Kejari setempat karena diduga menyelewengkan bantuan ternak sapi.

Solopos.com, WONOGIRI -- Kejaksaan Negeri (Kejaksaan) Wonogiri menahan Agus Dwi Susilo, 47, atas dugaan korupsi bantuan sapi dari pemerintah pada 2007 senilai Rp668,8 juta. Penahanan dilakukan setelah penyidik Polres Wonogiri pelimpahan berkas tahap II kasus tersebut, Rabu (24/1/2018) lalu.

Kerugian negara yang timbul akibat penyimpangan itu lebih dari Rp400 juta. Informasi yang dihimpun Solopos.com dari Kejari Wonogiri, Kamis (1/2/2018), semula kasus ini ditangani Polres pada 2014.

Saat bantuan sapi diterima, Agus merupakan Ketua Kelompok Ternak (Poknak) PP Alhuda Wonogiri asal Krompakan RT 002/RW 003, Pule, Selogiri, Wonogiri. Pada 2007, Poknak tersebut menerima bantuan 50 ekor bibit sapi betina jenis brahman dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Depertemen Pertanian (sekarang Kementerian Pertanian).

Bantuan itu diterima senilai Rp668,8 juta. Saat pengadaan harga sapi itu Rp13,3 juta/ekor. Berdasar pedoman umum (pedum) dan perjanjian kerja sama, seharusnya sapi-sapi tersebut dikembangkan untuk selanjutnya digaduhkan ke anggota poknak secara bergiliran.

Namun, Agus menjual sebagian sapi itu secara bertahap. Guru tidak tetap (GTT) di Kota Sukses itu beralasan hasil penjualan sapi untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional, seperti untuk membeli pakan dan pemeliharaan kandang. Penjualan dilakukan dua tahap.

Tahap pertama dia menjual 18 ekor. Tahap kedua dia menjual 17 ekor melalui rekannya. Total nilai sapi yang dijual senilai Rp468,3 juta. Dari hasil penjualan itu, Rp112,5 juta masuk kantong pribadi Agus.

Sebagian sapi lainnya akhirnya mati. Akibatnya program peternakan sapi tak berjalan. Seiring berjalannya waktu kasus tersebut dilaporkan ke Polres Wonogiri pada 2014.

Penyidik menaikkan status penyelidikan menjadi penyidikan pada November 2016. Polisi mengirim surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) ke kejari 12 November 2016. Berdasar audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), kerugian negara yang timbul akibat penyimpangan tersebut total loss atau total bantuan yang diterima, yakni Rp668,8 juta.

Kemudian pada 24 Januari lalu pelimpahan berkas tahap II setelah berkas perkara dinyatakan lengkap atau (P21). Sejak saat itu status Agus menjadi terdakwa dari sebelumnya tersangka. Agus dijerat Pasal 2 juncto Pasal 3 UU No. 20/2001 perubahan atas UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Dia terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP M. Kariri, menyampaikan sebelumnya penyidik tak menahan Agus karena dia kooperatif. Selain itu Agus mesti bekerja sebagai GTT untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Menurut dia, penanganan kasus cukup lama karena harus melibatkan banyak pihak.

“Menurut BPKP kerugian negara total loss. Tapi penyidik punya pandangan lain. Kerugian negaranya senilai sapi yang dijual Agus [Rp468,3 juta],” kata Kariri mewakili Kapolres Wonogiri, AKBP Robertho Pardede.

Sementara itu, Kasipidsus Kejari Wonogiri, Ismu Armanda, mengatakan Kejari menahan Agus untuk mempercepat proses agar berkas dapat segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang. Menurut dia, nilai kerugian negara masih menjadi perdebatan. Dia menyerahkan kepada majelis hakim yang akan menyidangkan kasus ini.

Hingga berita ini ditulis, Agus belum dapat dimintai konfirmasi. Solopos.com belum mendapatkan kontak dua pengacaranya, Purwanto dan Sugiyono.

Berita Terkait

Berita Terkini

Warga Solo Positif Covid-19 Dilarang Karantina Mandiri di Rumah, SE Terbit Hari Ini

Warga Solo yang terkonfirmasi positif Covid-19 meski tanpa gejala tidak boleh lagi menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

Latihan Lagi, Persis Ingin Lapangan di Solo

Persis perlu berkoordinasi dengan Bhayangkara Solo Football Club (BSFC) yang juga memakai Stadion UNS sebagai tempat latihan.

Temui Dubes Palestina, Ketum PBNU: Menurut Al-Qur'an, Israel akan Kalah

Said Aqil mengatakan NU telah menyatakan dukungan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina sejak 1938.

Ini 5 Ekses Setuju Kebijakan Baru Privasi Whatsapp

Whatsapp seperti dibahas SAFE net secara resmi menerapkan kebijakan privasi baru mulai Sabtu (15/5/2021) lalu.

Balon Udara Meledak di Delanggu Klaten, Polisi Periksa 6 Orang Saksi

Polisi sudah meminta keterangan dari enam warga Dukuh Krapyak, Desa Sabrang, Delanggu, Klaten, terkait ledakan balon udara dengan petasan,

Pemudik Motor Wajib Rapid Test Antigen Acak saat Balik

Kemenhub bakal mengecek Covid-19 dengan rapid test antigen secara acak terhadap pemudik pengendara sepeda motor yang balik ke Jabodetabek.

Awas Licin! Belasan Sepeda Motor Berjatuhan Di Jalan Seputar Alut Keraton Solo

Belasan sepeda motor mengalami kecelakaan saat melewati jalan yang licin di seputar Alun-Alun Utara Keraton Solo pada Minggu dan Senin.

Gubernur Jateng Minta Seluruh RS Antisipasi Lonjakan Covid-19

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta semua rumah sakit di Jateng siaga potensi lonjakan kasus Covid-19 pasca Lebaran 2021.

Tahukah Anda? Tiap Zodiak Punya Bakat Terpendam!

Tahukah Anda, setiap pemilik tanda zodiak memiliki bakat terpendam yang mungkin bermanfaat untuk mengarungi kehidupan manusia.

Viral Pemotor Nyemplung Pantai Jepara, Ternyata Begini Ceritanya

Dalam video berdurasi 16 detik itu memperlihatkan seorang pemotor yang tengah terjebak di pantai.

Polrestabes Semarang Gelar Tes Antigen Acak Pemudik di Simpang Lima

Total ada sekitar 100 kendaraan dari luar daerah yang terjaring operasi Satlantas Polrestabes Semarang di Simpang Lima.

Polri Akui Ratusan Kecelakaan di Puncak Arus Balik Lebaran 2021

Polri serius mencegah warga mudik Idulfitri atau Lebaran 2021, meski demikian Polri mengakui ratusan kecelakaan sepanjang puncak arus balik.