Tutup Iklan
Anggota Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim menyisir Asrama Mahasiswa Papua di Jl Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019). Sebanyak 43 orang dibawa polisi terkait temuan pembuangan bendera di depan asrama. (Antara-Didik Suhartono)

Solopos.com, SURABAYA -- Tri Susanti, koordinator lapangan aksi organisasi kemasyarakatan Surabaya, salah satu perwakilan masyarakat yang mendatangi Asrama Mahasiswa Papua (AMP) meminta maaf di depan media. Permintaan maaf ini terkait adanya seseorang yang meneriakkan kalimat rasis.

Susi beralasan pihaknya mendatangi AMP hanya untuk membela Merah Putih yang isunya dirusak hingga dibuang. “Kami atas nama masyarakat Surabaya dan dari rekan-rekan ormas menyampaikan permohonan maaf apabila ada masyarakat atau pihak lain yang sempat meneriakkan itu,” kata, di Mapolda, seperti dikutip Suara.com dari Beritajatim.com, Selasa (20/8/2019).

Susi mengimbuhkan, “kami ini hanya ingin menegakkan bendera merah putih di sebuah asrama yang selama ini mereka menolak untuk memasang. Jadi ini bukan agenda yang pertama kali.”

Selain itu, Susi menegaskan pihaknya juga tak melakukan pengusiran kepada mahasiswa. Dia hanya ingin bendera merah putih dapat berkibar di AMP.

“Jadi kami tidak berkeinginan untuk menolak mengusir kepada mereka, kami hanya ingin di asrama tersebut ada bendera merah putih. Tujuan utama kita hanya fokus untuk memasang bendera merah putih aja,” lanjutnya.

“Kalau dibilang bahwa masyarakat Surabaya terjadi bentrok atau ada teriakan rasis, itu sama sekali tidak ada. Jadi kami hanya selama bendera merah putih berkibar dan tujuan kami hanya itu dan kami mohon juga pada rekan-rekan bawa ormas dan masyarakat Surabaya hanya untuk merah putih,” ujarnya.

Tri Susanti warga Kenjeran Surabaya ini pernah menjadi saksi bagi kubu pemohon (Prabowo Subianto - Sandiaga Uno) dalam sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi beberapa bulan lalu.

FKPPI Bantah Terlibat

Sementara itu, Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan TNI/Polri (FKPPI) membantah terlibat dalam aksi di depan Asrama Mahasiswa Papua (AMP) di Surabaya, Jumat (16/8/2019). Aksi yang diwarnai ucapan bernada rasisme itu memicu demonstrasi besar-besaran di beberapa kota di Papua dan Papua Barat.

FKPPI menyatakan tak memberi instruksi ke anggota melakukan aksi massa di depan Asrama Mahasiswa Papua itu. "Kami tegaskan bahwa FKPPI tidak terlibat dalam aksi di Jalan Kalasan Surabaya," ujar Sekretaris Pengurus Daerah (PD) XIII FKPPI Jatim, Tony Hartono, melalui keterangan tertulis yang diterima Antara di Surabaya, Rabu (21/8/2019).

Karena tidak ada intruksi dari organisasi kepada anggota untuk melakukan aksi apapun, kata dia, maka tak ada anggota FKPPI yang berada di lokasi. FKPPI mengaku menyayangkan nama organisasi itu disebut-sebut dan beritakan sebagai salah satu yang terlibat sehingga didesak meminta maaf.

Karena tidak terlibat dalam aksi massa itu, lanjut dia, maka mereka keberatan ada yang mengatasnamakan diri sebagai FKPPI menyatakan permintaan maaf.

Wakil Ketua FKPPI Jawa Timur Agus Mangunsong mengakui di media sosial sedang viral ada anggota organisasi massa yang disebut memberikan pernyataan tentang bendera yang dimasukkan ke selokan.

"FKPPI secara organisasi tidak mengintruksikan apapun terkait insiden di asrama Kalasan. Kami heran ada yang bicara di media massa dan menyatakan permintaan maaf. Apapun yang disampaikan tak ada kaitannya dengan organisasi, tapi personal," katanya.

Simangunsong juga mengatakan mereka sempat terkejut mendapat undangan lisan dari Polda Jawa Timur untuk membicarakan mengenai aksi terkait mahasiswa Papua.

"Kami menghadiri undangan itu karena sangat menghargai institusi Polda Jawa Timur dan niat baiknya meredakan ketegangan," katanya.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten