Korban yang Bercerita

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 21 Juli 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

 Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi)

SOLOPOS.COM - Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Siapa yang tak stres menghadapi Covid-19. Siapa yang tak sedih harus kehilangan orang yang dicintai, anggota keluarga, teman, dan kolega. Semua bersedih. Semua menderita.

Hanya orang yang tak punya hati yang merasa senang dengan situasi ini. Sebuah komunitas yang saya ikuti, beberapa hari lalu,  mengadakan pertemuan virtual. Bukan dalam rangka koordinasi program.

Tak ada pembahasan urusan organisasi. Agendanya cuma mencurahkan isi hati, curhat, bercerita tentang apa yang telah mereka lalui selama pandemi. Ada yang bercerita kehilangan ayah atau ibunya.

Yang lain bercerita tertular Covid-19, sampai harus dirawat di rumah sakit, bahkan masuk ruang ICU 20-an hari. Ada juga anggota komunitas itu yang meninggal padahal masih muda. Dia memiliki komorbid atau penyakit penyerta.

Pertemuan itu jadi ajang melepaskan kesedihan. Kesedihan yang selama ini dipendam, dikeluarkan dengan cara bercerita. Ada yang memangis sesenggukan ketika bercerita. Anggota lainnya tak kuat ketika diminta bercerita karena beban yang terlalu berat yang mereka tanggung saat pandemi ini.

Namun, pertemuan itu bukan untuk curhat saja. Pertemuan itu adalah pemulihan kesedihan dan beban berat yang muncul saat virus corona penyebab Covid-19 mengobrak-abrik berbagai sendi kehidupan.

Saya yakin banyak orang yang memiliki cerita sedih atau peristiwa pilu yang kata orang mengandung bawang (bikin air mata keluar). Bencana, peristiwa yang menyedihkan, konflik, dan sejenisnya akan berdampak tak hanya fisik, tetapi juga psikis.

Ada trauma, ketakutan, kecemasan, stres, depresi, yang mengganggu kehidupan. Ada korban bencana yang selalu dihantui mimpi buruk. Takut ketika mendengar suara-suara tertentu karena trauma masa lalu.

Trauma itu harus disembuhkan. Dengan cara pendekatan kejiwaan. Biasanya, warga korban bencana mendapat pendampingan psikososial. Psikososial adalah hubungan dinamis antara aspek psikologi dan sosial. Keduanya berinteraksi dan saling mempengaruhi. Pendampingan psikososial adalah memulihkan penyintas agar emosi mereka stabil, tak lagi dihantui rasa takut, dan bisa kembali bisa menjalani kehidupan sosial secara normal.

Caranya dengan memberikan kesempatan penyintas bercerita, konseling, serta terapi. Mereka tak dipaksa untuk melupakan peristiwa masa lalu yang menyedihkan. Tak mudah, bahkan tak mungkin melupakan memori Covid-19 yang “mengambil” keluarganya atau pernah dihinggapi Covid-19 sampai hampir mati.

Pilihannya adalah menerima kenyataan, berdamai dengan masa lalu itu. Saya juga punya cerita sejenis. Sangat sedih dan shock rasanya ketika ada saudara tak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan karena rumah sakit penuh.

Rumah sakit pertama tak bisa menerima karena tak ada kamar kosong atau taka da tempat tidur kosong. Saat ke rumah sakit kedua, hal sama terjadi. Di rumah skait ketiga, baru di depan IGD, pasien sudah tak tertolong, belum sempat mendapatkan perawatan.

Banyak kasus seperti itu, pasien meninggal di tempat parkir, belum sempat ditangani dokter. Jadi, hampir bisa dipastikan orang Indonesia terdampak psikologis selama pandemi. Kecuali segelintir elite yang bisa pergi ke luar negeri dengan mudah untuk menghindari pandemi yang makin parah.

Selain kematian dan penderitaan tertular Covid-19, masih banyak kasus yang menerpa. Siswa dan mahasiswa tak bisa menjalani pembelajaran tatap muka, guru tak bisa mengajar tatap muka, warga mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat perusahaan bangkrut, usaha sepi, dan masih banyak lagi peristiwa yang menyedihkan.

Semua itu bikin stres. Belakangan ini di sejumlah kalangan muncul kampanye untuk tidak membaca berita Covid-19 agar tidak stres. Kampanye itu menyebar melalui media sosial di kawasan Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Purbalingga, Banyumas, Semarang, Yogyakarta, Majalengka, dan Cirebon.

Kampanye itu memuat pesan membaca berita Covid-19 yang berisi penambahan kasus, kabar kematian, dan tetek-bengek lain terkait pandemi malah menyebabkan orang stres yang berujung penurunan imunitas tubuh. Sekilas pesan yang tertera itu benar. Biarkan orang bekerja tanpa harus dihantui berita Covid-19.

Namun, ada bahaya di balik pesan itu. Jika tak mau mengikuti perkembangan kasus Covid-19, tutup mata terhadap kasus itu, orang akan menganggap situasi di lingkungannya aman-aman saja.

Padahal, saat ini Covid-19 sedang ganas-ganasnya yang ditandai peningkatan kasus baru, kematian yang bertubi-tubi, hingga rumah yang tak bisa melayani semua orang yang terinfeksi virus corona penyebab Covid-19.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menanggapi kampanye itu, mengkhawatirkan masyarakat terjebak pada rasa aman palsu (false sense of security). Warga akan mengabaikan protokol kesehatan. Akhirnya kasus meningkat dan pandemi tak kunjung berakhir.

Padahal, yang dibutuhkan masyarakat adalah informasi tepat tentang kasus Covid-19 sehingga berita itu bisa menjadi pedoman dalam bersikap. Berita di media massa itu bisa menjadi edukasi mana yang boleh dan tak boleh dilakukan untuk mencegah penularan masif.

Solopos sering dikritik saat menyampaikan berita-berita “seram” tentang Covid-19. Jangan beritakan yang seram-seram, nanti imunitas malah turun. Sajikan berita yang positif saja. Demikian tanggapan pembaca atas berita soal kematian.

Akan tetapi, saat Solopos menyampaikan kabar baik soal kasus melandai, angka kesembuhan meningkat, yang terjadi adalah pembaca dan warga Solo berbondong-bondong keluar rumah, mengabaikan protokol kesehatan. Ya, memang dilematis.

Karena itulah, berita yang tepat, edukatif, memberi panduan mitigasi pada saat terjadi pandemi adalah sesuatu yang utama dan dibutuhkan. Misalnya, perkembangan kasus Covid-19 sebenarnya, petunjuk melakukan isolasi mandiri, pengawalan penanganan Covid-19 oleh pemerintah, dan sebagainya. Yang tak dibutuhkan adalah hoaks, fitnah, bermuatan politik, yang biasa beredar di media sosial atau grup Whatsapp.

Berita Terkait

Espos Premium

Pebisnis Besar Berebut Kue Lezat Bisnis Pusat Data

Pebisnis Besar Berebut Kue Lezat Bisnis Pusat Data

Ekosistem digital tengah merebak di Indonesia seiring penetrasi Internet yang semakin meluas sehingga kebutuhan penyimpanan data semakin tinggi. Selama ini data penduduk Indonesia berada di luar negeri sehingga penarikan informasi memakan waktu dan jarak yang jauh.

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.