Regu penyelamat mencari korba topan Hagibis di Tokyo, Jepang, Minggu (13/10/2019). (Reuters/Kim Kyung-Hoon)

Solopos.com, TOKYO - Jumlah korban jiwa akibat bencana topan terdahsyat yang menghantam Jepang dalam beberapa dekade terakhir telah mencapai 66 orang pada Selasa (15/10/2019).

Sementara tim penyelamat bekerja keras menggali lumpur dan puing-puing dalam upaya pencarian dengan harapan yang semakin menipis untuk menemukan korban yang hilang. Ribuan rumah juga dilaporkan masih belum mendapatkan kembali aliran listrik dan air.

Kantor berita NHK melaporkan 15 orang masih hilang hampir tiga hari setelah Topan Hagibis menghantam Jepang wilayah tengah dan timur. Lebih dari 200 orang mengalami luka-luka akibat badai yang namanya dalam bahasa Tagalog berarti "kecepatan".

Sekira 138.000 rumah tangga masih belum mendapatkan pasokan air sementara 24.000 kekurangan listrik, jauh menurun dibandingkan angka awal di mana ratusan ribu rumah tangga dibiarkan tanpa listrik. Namun, masalah tersebut menjadi perhatian di daerah utara di mana suhu menurun.

Angka korban jiwa tertinggi adalah di prefektur Fukushima utara Tokyo, di mana tanggul jebol di setidaknya 14 tempat di sepanjang Sungai Abukuma, yang melintasi sejumlah kota di prefektur pertanian itu.

Laporan NHK yang dilansir Reuters menyebutkan, sedikitnya 25 orang tewas di Fukushima, termasuk seorang ibu dan anak yang terperangkap di perairan banjir. Seorang anak perempuan lainnya masih hilang.

Perdana Menteri Shinzo Abe memperingatkan bahwa dampak ekonomi akibat terjangan topan kemungkinan akan lebih panjang.

"Pemerintah pusat akan terus melakukan segala yang mungkin dilakukan sehingga para korban bencana ini dapat kembali ke kehidupan normal mereka sesegera mungkin," kata Abe kepada komite parlemen sebagaimana dilansir Reuters.

Menteri Keuangan Taro Aso mengatakan ada 500 miliar yen (sekira Rp65 triliun) dana cadangan untuk pemulihan bencana dan lebih banyak uang akan dipertimbangkan untuk dikucurkan jika diperlukan.

Ribuan polisi, petugas pemadam kebakaran, dan personil militer terus mencari orang-orang yang mungkin terperangkap oleh banjir dan tanah longsor, dengan harapan semakin berkurang bahwa yang hilang akan ditemukan hidup-hidup.

Meskipun ancaman hujan diperkirakan akan berkurang pada Selasa, suhu cenderung turun di banyak daerah akhir pekan ini, dalam beberapa kasus ke tingkat rendah yang tidak biasa. Empat dari kilang utama Jepang mengatakan badai tidak berdampak pada operasi kilang mereka.

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten