Korban Covid-19 di Eropa Lebih Tinggi dari Asia, Ini Penjelasan Para Peneliti
Staf medis merawat pasien positif corona di Oglio Po, Cremona, Italia, 19 Maret 2020. (Reuters/Flavio Lo Scalzo)

Solopos.com, LONDON - Sejumlah peneliti masih mengusut kenapa tingkat kematian Covid-19 di Eropa dan Amerika cenderung lebih tinggi daripada di Asia. Perbedaan tingkat kematian yang sangat siginifikan ini masih menjadi misteri.

Tante Meninggal karena Covid-19, Maia Estianty: Masih Anggap Remeh?

Para peneliti mengakui adanya perbedaan kebijakan tes, metode perhitungan, dan pelaporan kasus. Sejumlah negara Asia juga bereaksi lebih cepat di awal penyebaran virus corona. Diketahui, negara-negara tersebut segera melakukan kebijakan pembatasan sosial dan menyelenggarakan tes massal dan pelacakan kontak yang masif.

Para peneliti juga mempertimbangkan sejumlah faktor lain seperti perbedaan genetik dan respons sistem imun, perbedaan strain virus, faktor iklim, dan tingkat obesitas warga.

Tangani Pasien Covid-19, Tenaga Medis Puskesmas Kedawung Sragen Diteror Via WA

Peneliti dari Chiba University School of Pharmaceutical Sciences, Akihiro Hisaka, menemukan adanya perbedaan yang signifikan terkait angka kematian Covid-19 di sejumlah wilayah. Perbedaan tersebut dinilainya dapat menjadi landasan untuk menyelidiki tentang perbedaan dampak penyebaran Covid-19 di sejumlah negara.

Sebagai contoh, China yang hingga kini telah melaporkan kurang dari 5 ribu kasus kematian Covid-19 memiliki rata-rata 3 kematian per 1 juta penduduk. Sementara itu, Jepang memiliki 7 kematian per 1 juta penduduk, India 3 kematian per 1 juta penduduk, dan Vietnam mencatat nol kematian per 1 juta penduduk.

Covid-19 di Eropa Parah

Di sisi lain, Jerman mencatat 100 kematian per 1 juta penduduk dan AS 300 kematian per 1 juta penduduk. Kemudian Inggris, Italia, dan Spanyol yang mencatat lebih dari 500 kematian per 1 juta penduduk.

Fakta Sering Ingat Wajah Lupa Nama, Begini Cara Mengatasinya

"Perbedaan regional harus dipertimbangkan lebih dulu sebelum menganalisa kebijakan atau faktor penentu lain yang mempengaruhi penyebaran COVID-19," ungkap Hisaka dilansir Washington Post pada Sabtu (30/5/2020).

Sementara itu, ahli epidemiologi Columbia University, Jeffrey Shaman, menilai bahwa seluruh dunia menghadapi ancaman virus yang sama. Respons imun masyarakat juga dinilainya sama.

Yang menjadi perbedaannya adalah kemampuan tes massal, pelaporan kasus, dan kontrol informasi di setiap negara. "Tapi juga terdapat perbedaan terkait jumlah warga yang mengalami hipertensi, penyakit paru kronis, dan penyakit penyerta lainnya di tiap negara," pungkas Shaman.

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho