Kopi Kare, Kopi Khas Madiun yang Ditanam dan Diproduksi di Lereng Gunung Wilis
Biji kopi dari Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun yang siap disangrai. (Abdul Jalil/Madiunpos.com)

Solopos.com, MADIUN -- Kabupaten Madiun memiliki lahan subur untuk mengembangkan tanaman kopi di kawasan lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Kare, Kecamatan Kare. Saat ini ada sekitar 55 hektare lahan di kawasan Kare yang ditanami pohon kopi.

Ketua Kelompok Tani Mugi Lestari Desa Kare, Madiun, Sumadi, mengatakan salah satu komoditas andalan Desa Kare adalah kopi Kare. Saat ini pihaknya sudah bisa memproduksi kopi yang sudah menjadi bubuk dan siap konsumsi.

“Jadi, biji kopi yang dipanen dari perkebunan kami, kemudian diproses sendiri hingga menjadi bubuk kopi,” kata dia beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Exalos Evakuasi 2 Ular Piton, Salah Satunya Di Kantor Samsat Solo

Sumadi menuturkan kelompoknya sudah memiliki alat untuk mengolah biji kopi tersebut menjadi bubuk kopi. Kopi produksi para petani Kare ini pun sudah memiliki brand yaitu Kopi Kare. Untuk rasa, dia mengklaim kopi Kare ini memiliki cita rasa khas yang berbeda dari kopi daerah lain.

Kopi Kare bukan hanya kopi jenis robusta saja, tetapi juga ada jenis arabica. Tetapi, paling banyak memang kopi jenis robusta. Hal ini karena ketinggian wilayah desanya 700 meter di atas permukaan laut (MDPL) cocok untuk ditanami kopi robusta.

Sumadi yang juga seorang petani kopi ini menceritakan sebenarnya masyarakat Kare baru mulai menanam kopi pada 2009. Sebelumnya, sebagian besar warga Kare merupakan pekerja di perkebunan kopi Kandangan. Namun, karena kondisi perkebunan yang sudah tidak beroperasi, akhirnya para petani beralih menanam tanaman kopi ini.

Baca Juga: Tahun Lalu Meleset, BPBD Karanganyar Petakan Ulang Kawasan Rawan Bencana

“Saya dahulu juga sebagai pekerja di Kandangan. Kemudian saya baru menanam kopi pada 2009 dan baru panen 2014. Ternyata hasilnya menjanjikan,” jelas dia.

Semakin Berkembang

Hasil menanam kopi yang cukup menguntungkan ini kemudian ditiru oleh para tetangganya. Pada awal penanaman kopi hanya ada tujuh petani saja yang menanam. Tetapi setelah hasilnya terlihat, kini ada 35 warga yang ikut terlibat dalam penanaman kopi.

Untuk lahannya pun semakin luas. Menurut Sumadi pada awal-awal perintisan hanya sekitar 7 hektare saja, namun ini sudah mencapai 55 hektare. Warga memanfaatkan lahan hutan milik Perhutani untuk menanam kopi ini.

“Dari 55 hektare tersebut, yang baru bisa berbuah hanya sekitar 30 hektare saja. Sedangkan yang lain belum bisa berbuah,” ujar dia.

Sumadi menuturkan Kopi Kare ini baru dijual berupa bubuk pada tahun 2017. Ternyata antusias pasar terhadap kopi Kare ini cukup terbuka dan permintaan terus meningkat. Hingga akhirnya kopi Kare ini mendapatkan SNI.

Baca Juga: Manfaatkan Lahan Bekas Puri Waluyo, UMS akan Bangun Rumah Sakit 7 Lantai

Dalam satu bulan, pihaknya bisa memproduksi bubuk kopi sebanyak 70 kg atau 500 bungkus dengan dua kali produksi. “Satu kali produksi biasanya sekitar 35 kg. Jadi selama satu bulan rata-rata ya baru bisa memproduksi 70 kg saja,” terang Sumadi.

Untuk harga jual Kopi Kare jenis robusta kemasan 100 gram dijual dengan harga Rp15.000, kopi robusta lanang kemasan 100 gram seharga Rp25.000, dan kopi arabica kemasan 100 gram seharga Rp30.000.

Lebih lanjut, kopi Kare ini juga telah dijual di 15 toko modern yang ada di wilayah Pagotan, Jiwan, hingga Nglames.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom