Konsumsi Internet di Karanganyar Selama Pandemi Naik 76 Persen, Ini Penyebabnya
Guru melaksanakan program pembelajaran jarak jauh (PJJ) kepada siswa selama pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. (Istimewa/ SMPN 1 Matesih)

Solopos.com, KARANGANYAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Karanganyar menyebutkan masa pandemi Covid-19 mengubah pola konsumsi masyarakat, termasuk penggunaan Internet. Berdasarkan survei yang dilakukan, konsumsi kuota Internet dan pulsa warga naik hingga 76 persen dibandingkan sebelum pandemi.

Berdasarkan data yang diperoleh Solopos dari BPS Karanganyar, dari total 506 responden, sebanyak 72 persen mengaku pandemi Covid-19 membuat pola konsumsi Internet dan pulsa naik hingga 76 persen.

Hasil analisis dari survei tersebut digolongkan sesuai dengan pendapatan responden. Berdasarkan data tersebut, pola konsumsi terbesar datang dari kelompok pendapatan Rp1,8 juta hingga Rp3 juta dan pendapatan Rp3 juta hingga Rp4,8 juta.

Datangi Umbul Donga, Gibran-Teguh Napak Tilas Perjuangan Jokowi-Rudy

Sisa dari data tersebut, sebanyak 26 persen responden mengaku tidak mengalami perubahan pola konsumsi kuota Internet dan pulsa. Sedangkan 2 persen sisanya justru mengaku mengalami penurunan pola konsumsi.

Kepala BPS Karanganyar, Dewi Tri Rahayu, mengatakan hasil analisis tersebut menunjukkan faktor meningkatnya konsumsi kuota Internet dan pulsa karena kebijakan bekerja dari rumah dan belajar dari rumah. Peningkatan pengeluaran untuk hal tersebut mulai dari 60 persen hingga 76 persen dari setiap kelompok pendapatan yang dipetakan.

“Selama masa pandemi Covid-19, pemicu utama tingginya penggunaan kuota Internet dan pulsa karena untuk menyelesaikan pekerjaan, tugas, dan belajar secara online dari rumah. Selain itu pengadaan rapat virtual juga berpengaruh besar menjadi indikator meningkatkanya konsumsi sektor tersebut,” ucap dia kepada Solopos, Sabtu (15/8/2020).

Wow! Bimo Bocah Wonogiri Bikin Wayang Ganjar Pranowo Bermasker

 

Berat Konsumsi Internet

Kepala SMPN 1 Matesih, Nardi, mengaku sebanyak 38 wali murid di sekolahnya mengizinkan anak mereka mengikuti pembelajaran tatap muka. Beberapa faktor yang memengaruhi hal tersebut lantaran mereka merasa berat dengan konsumsi Internet yang tinggi selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Beberapa mengakui jika mending offline saja pembelajarannya karena kuota boros dan susah sinyal. Kalaupun tidak mereka menginginkan setor hasil tugas dan mengambil soal dengan datang ke sekolah,” terang dia.

Desa Wisata Ketenger Suguhkan Pemandangan Alam Bak Swiss

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom