Konsumsi Daging Anjing Bisa Terkena Rabies? Ini Faktanya
Ilustrasi anjing (Bisnis-Nurul Hidayat)

Solopos.com, SOLO — Konsumsi daging anjing di berbagai daerah di Indonesia kerap mendapat perhatian khusus. Salah satu alasannya adalah berpotensi menyebarkan penyakit rabies.

Hal ini pula yang menjadi landasan Pemkab Karanganyar menutup warung-warung yang selama ini menjual daging anjing. ”Dalam rangka mencegah penyakit yang disebabkan setelah mengonsumsi daging anjing, kami segera menindaklanjuti dengan menutup semua warung gukguk, warung [makanan dari daging] anjing di Karanganyar,” kata Bupati Karanganyar Juliyatmono pada 17 Juni 2019 lalu.

Perwakilan Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI), Angelina Pane, menyebut 13.000 ekor anjing didatangkan dari Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat untuk memenuhi kebutuhan kuliner olahan anjing di Soloraya.

Eks Tukang Rosok Di Klaten Kantongi Rp80 Juta/Bulan Dari Jualan Sup Ayam

Bila mengacu data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jawa Timur sudah dinyatakan sebagai provinsi bebas rabies. Tidak demikian dengan Jawa Barat. Provinsi ini dinyatakan belum bebas rabies. Ada kemungkinan anjing yang didatangkan dari Jawa Barat mengidap rabies.

Angelina menyebut konsumsi daging anjing dapat menyebabkan penyakit rabies dan penyakit zoonosis lainnya. Salah satu konsumsi olahan daging anjing yang kerap dijual di warung sate gukguk adalah menu setengah matang. Olahan setengah matang ini cukup membahayakan konsumen karena ada potensi virus penyebab rabies tidak benar-benar mati saat dimasak.

”Virus penyebab rabies tidak dapat benar-benar mati jika cara memasaknya tidak benar. Virus ini mirip flu burung. Informasinya, orang yang gemar mengonsumsi memilih dimasak setengah matang. Terlalu beresiko karena yang diserang virus ini adalah syaraf,” sebut Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Karanganyar Sumijarto pada 24 September 2014 lalu.

Perampok Bersenpi Satroni Gudang Wonogiri Di Siang Bolong, Korban Diikat Dan Mulut Dilakban

Wahid Fakhri Husein dari NTA Zoonosis and EIDS Control Food an Agriculture Organization (FAO) menyebut orang yang mengonsumsi daging anjing tidak memiliki risiko terinfeksi rabies asalkan cara mengolahnya benar.

”Kalau makan daging anjing olahan [yang sudah dimasak] tidak ada risiko terinfeksi rabies. Ini karena patogen [bakteri] pada anjing pasti mati [saat dimasak],” kata Fakhir dalam acara Workshop Protecting Lives and Livelihoods di Bogor, Jawa Barat, 6 Maret 2018, sebagaimana dikutip dari Liputan6.com.

Pengolah Lebih Rentan

Berbeda dengan orang yang konsumsi daging rabies, orang yang mengolah daging anjing lebih rentan terinfeksi rabies. Adanya gigitan dan kontak terhadap air liur anjing menjadi risiko kuat seseorang terinfeksi rabies. Populasi anjing yang tidak terkontrol bisa juga membuat mudah tertular rabies.

“Yang berisiko tertular rabies itu orang yang mengolah daging anjing. Ini karena saat mengolahnya, seseorang bisa terkena air liur anjing dari mulutnya,” lanjut Fakhri.

Kepala Seksi Advokasi Kesejahteraan Hewan di Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Yadi C. Susanto, mengatakan pekerja yang menangani anjing mulai dari penangkapan sampai proses penyembelihan memiliki risiko terkena rabies.

Mereka bisa tergigit anjing saat proses penangkapan. Sedangkan dalam proses penyembelihan, pekerja bisa terkena air liurnya. Risiko kian tinggi bila pekerja itu berada di daerah endemis rabies.

Ditinggal Beri Makan Sapi 15 Menit, Honda Beat Milik Warga Gesi Sragen Raib

Di Indonesia baru sembilan provinsi yang dinyatakan bebas rabies. Sembilan provinsi itu adalah Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat. Sisanya, 25 provinsi lain masih endemis rabies.

”Perlu edukasi bahwa konsumsi daging anjing bukan hanya tidak layak [bukan kategori pangan] tetapi juga berisiko membawa penyakit seperti E. coli, Salmonella, Kolera dan Trichinellosis,” ujar Yadi sebagaimana dikutip dari laman kesmavet.ditjenpkh.pertanian.go.id.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom