Warga Kashmir berdemo memprotes pencabutan status semi-otonom oleh pemerintah India. (Reuters-Mukesh Gupta)

Solopos.com, KASHMIR – Konflik di wilayah Kashmir—perbatasan India, Pakistan, dan Cina—kembali terjadi. Otoritas Pakistan menunda layanan kereta menuju ke India akibat memanasnya konflik Kashmir, Kamis (8/8/2019). Bahkan, warga Kashmir khawatir bernasib sama seperti Palestina.

Dikutip dari Channel News Asia, Jumat (9/8/2019), Pakistan memutuskan menurunkan status hubungan diplomatik dengan India. Pakistan juga bakal mengusir perwakilan India dan menunda perdagangan. Keputusan itu diambil setelah pemerintah India mencabut status semi-otonomi khusus di Kashmir yang telah berlangsung selama tujuh dekade.

Keputusan India itu telah diprediksi memicu konflik dengan Pakistan. Namun, India bersikukuh keputusan itu diambil karena urusan internal. Tetapi, Pakistan menyerukan komunitas internasional campur tangan dan bakal membawa masalah status otonomi Kashmir itu ke Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pancabutan undang-undang tentang otonomi khusus di Kashmir itu juga menuai protes dari warga India. Akibatnya, otoritas India menangkap ratusan demonstran yang melakukan aksi protes terkait kebijakan tersebut.

Dikutip dari BBC, wilayah Kashmir kini berubah menjadi penjara terbuka karena dijaga ketat militer India. Warga setempat tidak bisa keluar rumah dengan leluasa karena jam malam yang diterapkan. Pihak berwenang juga mematikan Internet, melarang berbagai aksi demonstrasi, serta menjebloskan pemimpin warga Kashmir ke penjara.

Sebelum mengakhiri status khusus Kashmir dan membaginya menjadi dua wilayah yang dikendalikan New Delhi, pemerintah India menempatkan puluhan ribu pasukan untuk mencegah pemberontakan. Mereka juga melakukan berbagai hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, salah satunya mematikan jaringan Internet.

Kondisi Kashmir yang memanas itu membuat warga setempat khawatir. Mereka tidak ingin tanah kelahirannya menjadi seperti Palestina. “Kami menghadapi kekejaman selama 40 tahun terakhir. Kini, saya benar-benar khawatir dengan masa depan anak-anak saya. Gambaran anak-anak Palestina muncul di benak saya. India mencurangi kami selama 70 tahun. Tapi, kami tidak akan membiarkan Kashmir menjadi Palestina lainnya,” kata seorang warga Kashmir, Waseem Wani, seperti dilansir Al Jazeera.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten