Suporter Persis Solo memenuhi tribun VIP Stadion Wilis, Kota Madiun, Rabu (9/10/2019). (Abdul Jalil-Madiunpos.com)

Solopos.com, SOLO — Sejumlah suporter akar rumput Persis Solo mulai gelisah dengan masalah kepemilikan klub yang kembali memanas belakangan. Suporter trauma dengan ancaman dualisme klub yang pernah terjadi pada tahun 2011-2013 hingga akhirnya membuat pemain asing Persis saat itu, Diego Mendieta, meregang nyawa.

Pendukung Persis mendesak petinggi kelompok suporter segera bersikap menyikapi kisruh di internal Laskar Sambernyawa. Kegeraman suporter terhadap manuver sejumlah pihak yang ingin menguasai Persis mulai ditunjukkan dengan memasang poster bertuliskan “Jangan Usik Persis Solo Kami” di beberapa lokasi di Kota Bengawan.

Suporter kecewa dengan langkah 25 klub internal yang memperkeruh situasi dengan ikut campur dalam polemik pengelolaan Persis. Awal pekan ini mereka telah menghadap Wakil Ketua Umum PSSI, Iwan Budianto, untuk membahas polemik internal Persis.

Seorang pendukung Persis asal Telukan, Sukoharjo, Sardi, 40, mengaku gerah dengan kegaduhan yang mendera Persis sebulan terakhir. Menurut Sardi, konflik kepemilikan saham antara Vijaya Fitriyasa, Her Suprabu dengan Setiyo Joko Santosa bersama gerbong klub internalnya sudah mulai mengancam stabilitas tim menyambut Liga 2 2020. Dia bahkan mencium dualisme Persis bakal muncul kembali apabila tidak segera ada solusi bersama ihwal kepemilikan saham.

“Suporter yang mendukung apa-adanya jelas ngelus dada dengan kisruh kepemilikan saham belakangan ini. Dulu orang-orang itu ke mana saat pemain Persis tidak digaji, saat suporter harus urunan untuk membuat dapur umum untuk Persis? Mereka ke mana saat Diego Mendieta meninggal dengan kondisi yang menyedihkan?,” tukas Sardi saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (19/11/2019).

Sardi menyebut kegelisahan suporter akar rumput bakal semakin terakumulasi apabila kelompok suporter tak segera bersikap. Menurut dia, petinggi Pasoepati dan Surakartans perlu segera merespons kegalauan suporter arus bawah dengan sikap atau kebijakan tertentu. “Jangan sampai suporter bergerak sendiri yang justru bisa semakin menambah runyam masalah.”

Seorang suporter Persis, Galang, menilai sudah saatnya suporter cerdas dengan tidak terbawa propaganda salah satu pihak yang hendak mencari keuntungan sendiri. “Ketika mungkin nanti keputusannya demo, demo itu harus jelas tujuan dan sasarannya. Suporter jangan cuma ikut-ikutan, itu malah bisa menjadi bumerang,” kata dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten