KOMODITAS PANGAN : Bawang Merah Lokal Soloraya Kurang Diminati Konsumen Solo
Pedagang bawang di Pasar Legi Solo, Sri Mulyani, mengaduk tumpukan bawang merah di kiosnya, Senin (2/10/2017). (Danur Lambang Pristiandaru/JIBI/Solopos)

Konsumen Solo kurang meminati bawang  merah produksi sentra-sentra pertanian lokal meski harganya lebih  murah.

Solopos.com, SOLO -- Konsumen Solo masih lebih menyukai bawang merah produksi Brebes ketimbang produksi lokal Soloraya. Padahal beberapa sentra bawang merah di Soloraya salah satunya Cepogo, Boyolali, juga bisa memproduksi bawang merah sekualitas asal Brebes.

Berdasarkan hasil survei Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Bank Indonesia (BI) Solo di Pasar Gede pada Selasa (20/3/2018) harga bawang merah naik menjadi Rp25.000/kg dari harga pekan lalu Rp23.000/kg. “Itu bawang merah yang asal Brebes. Ada bawang merah dari Boyolali harganya sebenarnya hanya Rp20.000/kg, tapi pembeli masih lebih senang beli yang dari Brebes,” kata seorang pedagang di Pasar Gede, Samini, saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa.

Menurut Samini, bawang merah asal Brebes dan Boyolali memiliki rasa dan kualitas yang berbeda karena jenisnya berbeda. “Yang dari Brebes itu bawang merah Bima.”

Menurut Kepala BI Solo, Bandoe Widiarto, di Desa Gedangan, Cepogo, Boyolali, ada sentra bawang merah yang juga memproduksi bawang merah Bima dan kualitasnya bisa bersaing dengan kualitas bawang merah asal Brebes. “Kenapa tidak ambil yang dekat-dekat seperti dari Boyolali saja?” kata Bandoe.

Baca juga:

Jika pedagang bisa mendapatkan pasokan bawang merah dari Boyolali, harapannya harga jual ke konsumen bisa lebih terjangkau karena bisa hemat biaya distribusi. Selain bawang merah, Bandoe juga berharap cabai bisa dipasok lebih banyak lagi dari sentra-sentra di Soloraya.

Saat ini, sentra cabai yang sedang dikembangkan oleh BI Solo ada di Wonogiri. Saat ini di pasaran, cabai lebih banyak di pasok dari Boyolali dan Tawangmangu, Karanganyar.

Di Wonogiri, produksi cabai menggunakan teknologi screen house, yakni area tanam yang tertutup dan teknologi ini menjadikan tanaman tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem. “Memang sudah semestinya pengembangan atau produksi bawang merah dan cabai di Soloraya ini butuh sentuhan teknologi setidaknya teknologi yang tahan terhadap perubahan cuaca,” tutur dia.

Harga berbagai jenis cabai di Pasar Gede kemarin juga terpantau belum stabil tergantung banyak sedikitnya pasokan dan jumlah permintaan konsumen. Harga cabai merah senilai Rp45.000/kg naik dari harga pekan lalu yang masih Rp38.000/kg.

Harga rawit merah turun dari Rp60.000/kg menjadi Rp45.000/kg. Cabai rawit hijau juga turun dari Rp30.000/kg menjadi Rp20.000/kg, dan cabai rawit putih turun dari Rp20.000/kg menjadi Rp15.000/kg.

Sementara itu, dalam survei komoditas pangan kemarin, TPID dan BI juga melibatkan tim Satgas Pangan dari unsur kepolisian, kejaksaan, dan TNI. Survei sudah rutin digelar untuk memastikan ketersediaan pasokan komoditas terutama telur, beras, cabai, dan bawang merah. “Termasuk kondisi harga saat ini.”

Turunnya beberapa komoditas seperti cabai terjadi karena di beberapa tempat dan sentra cabai sudah mulai panen. Selain memantau komoditas, tim juga sempat mendatangi gudang tepung terigu dan gula milik distributor.

Pemilik Toko Semarang, Suryadi, menyebut pasokan gula pasir dan tepung terigu untuk saat ini aman karena konsumsi stabil. “Nanti kalau Puasa atau mau Lebaran baru biasanya permintaan tinggi,” kata dia.

Tanpa menyebut posisi stok hari kemarin, Suryadi menyebut harga gula masih stabil di 11.000/kg. Sedangkan harga tepung terigu juga stabil di Rp4.600/kg dan Rp6.500/kg untuk merek Cakra.

TPID Solo berencana mengumpulkan distributor berbagai komoditas agar disparitas harga antara satu pedagang dengan pedagang lain tidak terlalu jauh. “Karena dari survei tadi, ada harga yang perbedaannya cukup jauh antara satu pedagang dengan pedagang lainnya, ternyata karena distributornya lain,” ujar Bandoe.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho