Ilustrasi puasa (Reuters-Navesh Chitrakar)

Solopos.com, JAKARTA – Berpuasa pada bulan Ramadan diketahui bisa membuahkan banyak manfaat, tak hanya bagi kesehatan fisik, melainkan juga kesehatan mental.

Mental orang yang berpuasa akan cenderung lebih teratur dan tenang lantaran ketika berpuasa, ada pembelajaran perihal mengendalikan perilaku dan mengontrol diri.

Namun, Sekjen Asosiasi Psikologi Positif Indonesia Abdul Rahman Shaleh berpendapat ada juga orang-orang yang tidak merasakan manfaat berpuasa dari segi kesehatan mental tersebut.

Menurut Abdul Rahman , hal itu terjadi lantaran puasa yang dilakukan hanya berfokus pada puasa fisik, yakni menahan hawa nafsu makan dan minum saja, tanpa belajar mengontrol emosi.

“Atau melakukan puasa hanya sekadar merasa malu terhadap orang lain karena orang lain berpuasa, sementara dirinya tidak,” tuturnya kepada Bisnis..

Untuk mengatasi hal tersebut, Abdul menawarkan dua solusi.

Pertama, memahami fungsi meditatif dari puasa. Dia menjelaskan, meditasi akan bekerja ketika seseorang berani melepaskan ego, baik ego untuk makan berlebihan ataupun ego untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan lingkungan sosial.

“Kedua, kalau pakai istilah agamanya adalah keikhlasan lillahi ta’ala. Dalam bahasa psikologis, dia benar-benar memfungsikan puasa untuk mengolah dirinya. Jadi, sebagai latihan untuk merasa lebih rileks dan lebih tenang,” jelas Abdul.

Dengan begitu, lanjutnya, secara otomatis ada proses pembelajaran selama berpuasa. Apalagi ketika menjalani puasa di bulan Ramadan, waktu istirahat atau tidur cenderung lebih sedikit.

Pada saat itu, upaya memiliki tidur yang berkualitas menjadi pembelajaran tersendiri. Walaupun sedikit, asal cukup, di situlah belajar untuk meningkatkan ketenangan dan relaksasi diri.

“Itu merupakan usaha untuk menjadikan dirinya mindfull. Tujuannya benar-benar tertata dan teratur dan memang memiliki kebermaknaan yang tinggi serta menyadari apa yang dilakukan dengan sepenuhnya,” lanjut Abdul.

Abdul menyarankan dalam berpuasa sebaiknya memperhatikan beberapa hal saat sahur dan berbuka puasa. Upayakan sahur di akhir waktu dan tidak terlalu banyak sehingga tubuh benar-benar berenergi untuk memulai hari dengan baik.

Lalu, menyegerakan berbuka, setidaknya minum air secukupnya. Itu akan menjadi sebuah respons perilaku bagi tubuh, bahwa tugas tubuh sudah selesai untuk menahan makan dan minum sehingga saraf-saraf dalam tubuh bisa terbangun dan membuat mekanisme untuk malam hari.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten