Kondisi bagian kotak hitam (black box) berisi Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang telah ditemukan oleh Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmada I di KRI Spica-934 , perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (14/1/2019). (Antara-Aprillio Akbar)

Solopos.com, JAKARTA -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membantah isi cockpit voice recorder (CVR) pesawat Lion Air PK-LQP yang beredar di publik. KNKT memastikan isi CVR yang sebenarnya tidak sama.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan bahwa isi rekaman CVR pada pesawat dengan nomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang tidak sama dengan apa yang beredar di media.

"Dengan demikian, menurut KNKT isi berita itu adalah opini seseorang atau beberapa orang yang kemudian dibuat seolah-olah seperti isi CVR," katanya dalam konferensi pers, Kamis (21/3/2019). 

Sebelumnya, Reuters memberitakan hasil investigasi terhadap Lion Air yang menggunakan pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 pada 29 Oktober 2018. Sesaat sebelum pesawat jatuh ke laut, pilot dan kopilot susah payah mencari informasi dari buku panduan setelah pesawat tiba-tiba menukik ke bawah.

Namun, tidak banyak yang dapat mereka lakukan. Mereka kehabisan waktu dan pesawat menghujam laut.  Ada tiga narasumber yang diwawancarai Reuters. Sumber itu menyatakan 2 menit setelah lepas landas, kopilot melaporkan masalah kontrol penerbangan' kepada pihak Air Traffic Control (ATC).

Soerjanto menegaskan bahwa tidak ada isi CVR Lion Air PK LQP yang bocor ke masyarakat. Dia mengatakan bahwa final report atas investigasi terhadap kecelakaan itu akan diumumkan pada Agustus atau September 2019 mendatang.

KNKT juga membantah isi CVR Lion Air JT 043 rute Denpasar-Jakarta yang menggunakan pesawat dengan nomor registrasi yang sama. Koordinator Air Safety Investigation KNKT Oni Soerjo Wibowo mengatakan bahwa rekaman penerbangan JT 043 sudah terhapus oleh sistem (overwritten) sehingga tidak ada di CVR. 

"Yang ada di CVR adalah rekaman 2 jam terakhir. Rekaman JT 043 terhapus otomatis. Hasil download CVR hanya merekam sejak persiapan penerbangan JT610 sampai dengan akhir penerbangan," jelasnya.

Meskipun demikian, KNKT tidak menampik adanya pilot lain yang berada di cockpit pada penerbangan JT 043 yang sempat mengalami gangguan setelah penggantian sensor angle of attack.

Pilot yang bersangkutan sudah diwawancarai oleh KNKT. Pilot itu adalah pilot yang telah selesai menjalankan tugas terbang dan akan kembali ke Jakarta. Pilot tersebut memiliki kualifikasi sebagai pilot Boeing 737 MAX 8. 

Sesuai dengan UU No 1/2009 pasal 359, pernyataan dari seseorang yang diperoleh selama proses investigasi tidak boleh dipublikasikan. "Untuk itu, KNKT tidak akan menyampaikan hasil wawancaranya," tutur Soerjanto. 

Sehubungan dengan perkembangan investigasi, KNKT telah melakukan kunjungan ke Boeing untuk melakukan rekonstruksi penerbangan JT 610 menggunakan engineering simulator dan diskusi tentang sistem pesawat Boeing 737 MAX 8. 

KNKT juga telah berdiskusi dengan Boeing dan FAA terkait design system manuvering characteristic augmentation system (MCAS) dan approval yang diberikan oleh FAA. Sementara itu, mengenai kecelakaan yang terjadi di Ethiopia pada 10 Maret 2019, KNKT tidak dapat memberikan komentar tentang ada atau tidaknya kemiripan antara kecelakaan ET 302 dengan JT 610. 

"Jika nantinya ada perkembangan lain dan KNKT dapat diberikan data kecelakaan ET302, maka tentu kami akan mengkaji dan menganalisis secara mendalam untuk melengkapi data di kecelakaan Lion JT 610," ujar Soerjanto.

KNKT telah mengajukan penawaran kerja sama investigasi dengan otoritas Ethiopia untuk keperluan bersama dan saling melengkapi data kecelakaan.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten