Klorokuin, Covid-19, dan Autoimun
Rahayuningsih (Istimewa)

Tulisan ini ditulis oleh Rahayuningsih Jurnalis Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia/JIBI-Solopos). Tulisan ini juga dimuat di Koran Solopos Edisi 17 April 2020. 

Virus corona baru (SARS CoV-2) terus menyebar dengan cepat, menginfeksi manusia di berbagai penjuru dunia. Setiap hari jumlah pasien positif mengidap penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini terus bertambah signifikan.

Meski banyak pihak menyebut tingkat kesembuhan cukup besar, kita tetap tidak bisa menyepelekan. Di Indonesia jumlah pasien meninggal masih tinggi. Hingga 16 April, jumlah pasien positif 5.516 orang, sebanyak 4.472 orang dirawat, 548 orang sembuh, dan 496 orang meninggal.

Secara global kasus Covid-19 telah mencapai 2,09 juta orang dengan jumlah pasien sembuh 520.930 orang dan yang meninggal 135.562 orang. Masih tingginya jumlah masyarakat dunia terinfeksi virus corona baru tidak terlepas dari faktor kedisiplinan dalam menjaga kebersihan maupun jarak (physical distancing).

Keterlambatan mengenali pasien positif juga kerap terjadi. Dunia kesehatan masih kesulitan mengidentifikasi pasien terjangkit Covid-19 karena minimnya peralatan tes. Penyakit ini juga mulai tidak disertai gejala khas seperti sebelumnya, yaitu batuk dan panas tinggi. Penularan semakin masif, terutama bagi orang-orang dengan imunitas rendah.

Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok (NHC) beberapa waktu lalu menjelaskan kasus baru Covid-19 di negara itu muncul dalam jumlah besar. Di antara 6.764 orang yang dinyatakan positif terinfeksi hanya sekitar seperlima yang menunjukkan gejala.

Banyaknya kasus baru tanpa gejala membuat pemerintah di berbagai negara harus lebih berhati-hati. Upaya menyetop persebaran harus lebih keras lagi. Industri farmasi dan organisasi kesehatan dunia berpacu dengan waktu mencari formula obat dan vaksin Covid-19.

Uji Klinis

Sampai saat ini belum ada obat yang teruji secara klinis. Obat tertentu yang beredar di pasaran ada yang efektif menyembuhkan. Di Amerika Serikat, Tiongkok, Prancis, dan beberapa negara lain memilih menggunakan klorokuin dan turunannya hidroksiklorokuin.

Keberhasilan dua obat tersebut mengobati pasien Covid-19 di beberapa negara menjadi alasan Presiden Joko Widodo memutuskan penggunaan klorokuin sebagai obat lapis kedua dalam penyembuhan. Pemerintah akan memproduksi tiga juta pil klorokuin.

Produksi obat ini dilakukan oleh PT Kimia Farma Tbk. Kementerian Badan Usaha Milik Negara mendatangkan bahan baku dari India untuk memproduksi sejuta tablet klorokuin. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengumumkan pemakaian obat tersebut untuk Covid-19.

Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat memperbolehkan penggunaan terbatas atas dua obat ini. Pemakaian obat ini sebenarnya masih menuai kontroversi karena efek samping yang ditimbulkan. Klorokuin harus dikonsumsi dengan hati-hati karena merupakan obat keras.

Obat ini menimbulkan rasa mual, pusing, dan efek samping serius mengonsumsi obat ini bisa menyebabkan kerusakan retina mata, gangguan hati, dan jantung. Pemakaian obat ini harus selektif karena tidak semua pasien cocok.

Artis Andrea Dian berhenti mengonsumsi obat itu setelah merasakan efek kecemasan, mual, muntah, pusing, jantung berdebar, napas pendek, hingga tangan tremor. Hal serupa juga dialami istri aktor kenamaan Tom Hanks, Rita Wilson. Perempuan berusia 63 tahun itu dinyatakan positif terjangkit Covid-19 saat berada di Australia bulan lalu.

Terapi obat klorokuin ternyata tidak diterima baik oleh tubuhnya. Alih-alih menyembuhkan, Wilson merasakan mual, vertigo, dan otot-ototnya melemah. Di Brasil, penelitian sekaligus uji klinis tentang kemampuan obat itu memerangi Covid-19 dihentikan sebelum waktunya.

Keputusan itu diambil setelah beberapa pasien mengalami komplikasi jantung yang berpotensi fatal. Ikatan Dokter Indonesia berulang kali menyampaikan risiko dan meminta masyarakat tidak membeli dan mengonsumsi secara sembarangan kecuali atas anjuran dokter.

Ketenangan Masyarakat

Selain didengungkan sebagai obat Covid-19, klorokuin sebenarnya digunakan secara luas selama puluhan tahun untuk mencegah dan mengobati penyakit malaria dan terapi pada penyakit autoimun seperti rheumatoid arthristis, sjogren syndrome, dan lupus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan obat ini dalam daftar obat esensial, yakni obat-obatan untuk memenuhi prioritas kebutuhan pelayanan kesehatan penduduk. Bagi pengidap autoimun, obat itu kerap dipakai sebagai pengobatan utama.

Tak mengherankan saat obat itu diumumkan sebagai obat Covid-19, masalah baru muncul. Obat tersebut mulai sulit ditemukan atau kalau pun ada harganya naik. Ketua Yayasan Lupus Indonesia Tiara Savitri tak berhenti menyerukan agar masyarakat tidak memborong obat tersebut, terlebih bila dalam kondisi sehat.

Banyak anggota yayasan itu mulai mengeluhkan kesulitan membeli obat tersebut. Saat inisetidaknya ada sekitar 1,5 juta pengidap lupus di Indonesia. Sebagian besar menggunakan dua obat itu. Bila pasokan tak aman, risiko penyakit semakin berat akan dihadapi.

Seorang perempuan berusia 35 tahun, Lidiawati, mengaku cukup lama mengonsumsi obat hidroksiklorokuin, padahal bila bisa memilih dia tidak akan mengonsumsinya karena efek samping yang ditimbulkan. Dia cukup bingung saat melihat banyak masyarakat ramai-ramai membeli obat tersebut.

Bertahun-tahun mengidap autoimun, dia telah mengalami stroke dan pembengkakan sendi karena tidak disiplin meminum obat tersebut. Kini Lidia mulai khawatir tak mendapatkan obat itu seperti yang dialami banyak temannya di berbagai wilayah di negeri ini.

Kelangkaan klorokuin juga terjadi di Amerika Serikat dan di berbagai negara di Eropa. Lupus Foundation of America melalui akun Twitter menerima banyak laporan mengenai kekosongan pasokan tersebut, termasuk komunitas lupus di Inggris.

Kita mungkin bisa belajar dari Vietnam. Sampai 16 April, negara ini belum mencatatkan kasus kematian akibat Covid-19. Data yang disampaikan di Worldometers, saat ini tercatat 268 orang positif dengan jumlah kesembuhan 175 orang.

Tidak ada obat atau vaksin khusus yang dipergunakan. Para dokter dan perawat memberikan obat mengikuti gejala sakit yang timbul. Bila demam maka diberikan obat penurun panas. Pasien juga harus menjalani diet ketat dengan makanan bergizi dan mengawasi penuh tingkat oksigen di dalam darah pasien.

Kita berharap langkah pemerintah memproduksi obat klorokuin dan jenis obat lainnya seperti Avigan dapat mengatasi kebutuhan obat-obatan pasien positif Covid-19. Tak kalah penting adalah menjaga ketenangan masyarakat agar aksi memborong barang tidak terjadi. Ketersediaan klorokuin di pasaran harus diutamakan karena banyak kelompok masyarakat di luar pasien Covid-19 seperti pengidap autoimun yang membutuhkan.

 

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho