Ilustrasi celurit (JIBI/Solopos/Dok.)

Solopos.com, JOGJA -- Masyarakat Jogja kembali dihebohkan kembali dengan fenomenan klitih. Bahkan, dalam dua pekan lalu ada dua kejadian klitih yang mengakibatkan tiga korban luka-luka.

Salah satunya dalamai oleh Muhammad Awan Saktiyananto yang diserang oleh tujuh orang dikenal. Akibatnya, dia mengalami luka robek yang parah akibat serangan senjata tajam. Bahkan, ia harus melakukan tindakan operasi untuk menyembuhkan lukanya tersebut.

Hal tersebut diungkap sang kakak, Muhamamad Latif Rezza melalui surat tanda terima laporan polisi yang ia unggah di laman Twitternya, @latifrezza, Rabu (13/11/2019).

Baca Juga: Angin Kencang Terjang Baki dan Gatak Sukoharjo, Ini Dampaknya

"Adik saya jadi korban penganiayaan senjata tajam oleh tujuh orang tidak dikenal pada tanggal 10 November jam 01.45 WIB di daerah Kotagede, Yogyakarta, luka yang diderita parah di bagian kapal dan kedua tangan," ungkap Latif Rezza.

Fenomena klitih dari dulu memang menjadi ancaman bagi masyarakat Kota Jogja dan sekitarnya. Biasanya pelaku klitih akan menjalankan aksinya dengan menggunakan celurit pada malam hingga dini hari.

Baca Juga: Purbalingga Penuhi Permintaan Moskow Kembangkan Industri Gula Semut

Cuitan Latif Rezza banyak dikomentari oleh warganet. Bahkan, ada beberapa warga yang tinggal di Jogja menceritakan fenomena ini.

"Teman gue baru di-klitih gitu juga, doi kabur karena menghindari orang-orang bersenjata tajam enggak dikenal dan beliau kecelakaan tunggal meninggal di tempat. Klitih namanya kalau di Jogja, memang rawan kalau malam. Sepupu saya hampir meninggal karenanya. Stay safe gengsss," ucap akun @indahsuci9439.

"Zaman dulu masih bisa lewat Umbulharjo, Gedong Kuning, Kotagede jam 2-3 pagi, sekarang kok klitih makin merajalela, apa enggak ada upaya pihak keamanan buat mengadakan patroli dan upaya pencegahan buat memberikan rasa aman lagi?" tanya pemilik akun @andre_sheva07.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten