Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD tampil sebagai pembicara seminar di kampus Universitas Semarang, Sabtu (16/3/2019). (Antara-USM Semarang)

Solopos.com, SOLO -- Operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK terhadap Ketua Umum PPP Romahurmuziy atau Rommy belakangan membuat Mahfud MD menjadi pusat perhatian. Pernyataan Mahfud sebelumnya yang pernah menyinggung Rommy dihubung-hubungkan dengan kasus ini seolah dirinya tahu banyak tentang kasus itu. Benarkah?

Bahkan berkembang opini bahwa Mahfud tahu banyak kasus itu dari KPK. Mahfud menegaskan dirinya mengetahui berbagai kasus, termasuk soal Rommy, dari KPK. Tapi bukan berarti dirinya diberitahu oleh jajaran pimpinan atau orang dalam KPK karena hal itu tak boleh dilakukan.

"Saya pertama begini. Saya jawab tidak benar saya itu mengatakan saya diberitahu KPK, saya tahu dari KPK. Tahu dari KPK dengan diberitahu KPK itu beda. Tahu dari KPK itu artinya KPK sudah mengumumkan nama Rommy, sudah sering dipanggil, menjadi pemberitaan, disebut di pengadilan oleh jaksa, bahwa orang ini pernah ketemu Romi, kan udah sering. Tidak harus diberitahukan pimpinan KPK dan pimpinan KPK memang tidak boleh memberitahukan orang luar tentang kasus yang berjalan di dalam," kata Mahfud dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC) yang ditayangkan live oleh TVOne, Selasa (20/3/2019) malam.

Dalam program tersebut, Mahfud MD juga menjawab sebagian orang yang mempertanyakan mengapa dirinya tidak melapor saja ke KPK jika tahu banyak tentang kasus itu. Pasalnya, KPK sendiri sudah tahu dan dirinya tahu dari fakta-fakta yang diungkapkan KPK ke publik.

"Kenapa Pak Mahfud tidak melapor saja ke KPK kalau Rommy itu dijejak oleh KPK? Orang saya tahunya dari KPK. Itu jangan sampai menyesatkan pikiran orang bahwa seolah-olah saya dengan KPK itu punya hubungan-hubungan gelap, enggak mungkin. Saudara bisa tahu juga dari sekarang, kapan Rommy itu disebut dalam beberapa kasus. Itu kan sudah ada di dakwaan jaksa, ada dipanggil resmi, diumumkan dalam daftar resmi. Kan ada tiap hari juga di KPK," kata Mahfud.

Mantan Ketua Mahkamah Konsitutusi (MK) ini mengakui memang dirinya sering datang ke KPK, namun hal itu untuk keperluan lain. Misalnya dia sering mengisi pengajian di Gedung KPK, memberiukan khutbah Jumat, mengisi seminar dan lain-lain. Karena itu dia juga kerap mengetahui isu yang sedang diburu oleh wartawan di Gedung KPK.

Namun dia mengakui memang pernah bertemu secara khusus oleh pimpinan KPK di bawah pimpinan Taufiequrrachman Ruki selaku Plt Ketua. Pertemuan itu terkait kasus-kasus korupsi yang dianggap mandek oleh publik.

"Waktu itu 18 Agustus 2015 saya ingat, saya kirim surat khusus kepada Presiden Jokowi karena ada pengaduan banyak sekali dari masyarakat. 'Itu Pak, kasus-kasus pidana kok banyak sekali yang mangkrak. Nazaruddin itu baru dihukum dalam 2 kasus, padahal kasusnya menurut KPK sendiri ada 33. kenapa tidak diteruskan? lalu kenapa orang dipenjara itu bisa keluar pada hari Minggu'. Saya kirim surat ke presiden, maksudnya biar yang korupsi yang tidak bisa dilanjutkan oleh KPK itu bisa dilanjutkan oleh kejakgung, kepolisian, kalau sudah disebut oleh KPK."

Oleh Istana, surat Mahfud tersebut didisposisikan kepada KPK agar kasus-kasus yang dimaksud bisa ditindaklanjuti. Menerima surat tersebut, pimpinan KPK saat itu kemudian mengundang Mahfud ke Gedung KPK untuk menunjukkan progress kasus-kasus itu yang ternyata tidak berhenti.

"[saya] Diajak ke tempat tertutup itu. Diberitahu, 'Pak, yang disebut Pak Mahfud di surat itu bukan tidak kami tangani'. Disebut semua, ini lho Pak kasusnya, lalu disebut banyak sekali orang yang menerima orang dari siapa. Itu banyak sekali, jadi itu bagi saya ngeri," lanjut Mahfud.

Di situ, pimpinan KPK menunjukkan ada banyak kasus korupsi yang harus dipecahkan namun dalam proses pembuktian yang panjang dan rumit. "Jadi rumit itu KPK. Sehingga saya jadi maklum KPK itu tidak main-main, sungguh-sungguhan. Sehingga kalau sudah OTT itu kena. Saya katakan di sini, saya tidak pernah dikasih tahu KPK tentang yang kita ributkan di sini."


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten