Kita dan Rasisme
Syifaul Arifin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Portal sejarah Historia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019 menggelar Pameran Asal-Usul Orang Indonesia di Museum Nasional Jakarta.

Ada asam deoksiribonukleat (DNA) sejumlah tokoh publik yang dicek untuk mengetahui asal-usul mereka. DNA adalah kode genetik dalam tubuh. Hasilnya mencengangkan. Tuan rumah Mata Najwa, Najwa Shihab, yang kita tahu keturunan Arab, ternyata DNA-nya yang dominan bukan dari Arab.

DNA Arab Najwa hanya 3,4%. Perempuan kelahiran Makassar pada 1977 itu memiliki DNA Asia Selatan (Nepal, India, Bangladesh, Tamil)  48,54%, Afrika Utara 26,81%, Afrika 6,86%, Asia Timur (Tiongkok) 4,19%, diaspora Afrika (Afrika-Amerika) 4,15%, Timur Tengah (Arab) 3,48%, Eropa Selatan (Portugal) 2,20%,  dan Eropa Utara (Dorset) 1,91%.

Ternyata walau wajahnya kearab-araban, ras Arab di tubuhnya hanya 3,48%.  Demikian pula penyanyi Ariel Noah yang memiliki nama asli Nazril Irham. Ayah-ibunya keturunan Padang. Dalam tes DNA, Ariel memiliki gen Asia Selatan 79,78%, Asia Timur 15,14%, Asian Dispersed 5,02%, dan Timur Tengah 0,05%.

Dari pameran itu terungkap ternyata tidak ada gen atau DNA manusia Indonesia asli. Orang yang tinggal di Sabang sampai Merauke memiliki gen campuran, berasal dari berbagai belahan dunia. Manusia berbagai ras berhubungan dan beranak pinak menghasilkan ras campuran.

Kenapa saya menyampaikan informasi tersebut sekarang? Ini ada kaitannya dengan isu aktual di Amerika Serikat (AS) yang  jadi perhatian dunia, yakni demonstrasi menentang diskriminasi rasial terhadap lelaki berkulit hitam George Floyd.

Lelaki berumur 46 tahun itu awalnya disangka menggunakan uang palsu saat membeli rokok. Polisi AS menangkap dia dengan menekan lehernya menggunakan lutut.  Dalam video penangkapan yang viral itu, Floyd dengan raut kesakitan mengatakan I can’t breathe (aku tak bisa bernapas) namun polisi berkulit putih itu mengabaikannya.

Dia akhirnya meninggal dunia. Kasus itu diyakini memiliki kaitan dengan pandangan rasis polisi AS terhadap orang kulit berwarna. Kematian Floyd menjadi momentum melawan rasisme di negara simbahnya demokrasi itu.  Demonstrasi berlangsung di puluhan kota di AS, padahal saat ini AS tengah dilanda pandemi Covid-19.

Ancaman virus corona diabaikan. Di AS, demonstrasi diwarnai kekerasan. Ada penjarahan toko dan supermarket. Patut disayangkan. Kalimat I can’t breathe dari Floyd itu yang digunakan dalam kampanye antirasisme. Kampanye itu juga menggunakan tanda pagar atau tagar #BlackLivesMatter.

Black Lives Matter adalah  gerakan menentang kekerasan dan rasisme terhadap orang kulit hitam.  Kampanye itu tak hanya dilakukan oleh warga kulit hitam, juga warga kulit putih dan kulit berwarna lain di AS maupun di belahan bumi lain.

Artis hingga pejabat negara turut berduka atas kematian Floyd dan praktik rasisme di AS. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau ikut berdemonstrasi sebagai solidaritas terhadap George Floyd. Dia berlutut tiga kali dalam sebuah demonstrasi di Ottawa.

Stereotip

Abad berganti, zaman berubah, namun rasisme masih bercokol hingga sekarang. Pada zaman modern ini kok masih ada pandangan negatif terhadap kelompok lain atas dasar ras? Rasisme adalah pandangan yang menganggap ras lain lebih rendah.

Penganut paham ini mengunggulkan rasnya dibandingkan kelompok lain.  Rasisme ada pada pikiran dan perbuatan. Seorang rasis memiliki stereotip tertentu pada ras tertentu. Stereotip adalah kepercayaan keliru tentang kelompok lain yang mungkin tidak benar atau hanya sebagian benar.

Orang memiliki stereotip tertentu karena berprasangka. Prasangka ini dalam bahasa Inggris prejudice dan prejudge. Prejudice berarti pendapat yang tidak didasarkan pada alasan atau pengalaman aktual yang berdampak negatif.

Sedangkan prejudge adalah penilaian tentang seseorang atau kelompok sebelum ada bukti.  Orang menilai orang lain padahal belum memahami orang lain itu. Penilaian tersebut didasarkan pada prasangka, bukan kenyataan.

Ketika memiliki stereotip dan prasangka, pandangan kelompok itu akan bias. Pandangan yang bias tidak memberikan kesempatan yang sama kepada ide yang berbeda. Rasisme, stereotip, prasangka, dan bias ini tak hanya ada pada pikiran.

Pandangan-pandangan itu bisa mewujud dalam tindakan, misalnya sebagian polisi AS yang bertindak keras terhadap orang kulit hitam karena mereka menganggap orang hitam itu cenderung kriminal. Ketika memiliki pandangan rasisme, tindakannya juga cenderung sama.

Karena itulah, akan terjadi diskriminasi. Ketika seseorang diperlakukan tidak adil atau berbeda dibandingkan yang lain, di situ terjadi diskriminasi. Dalam kasus rasisme, orang diperlakukan tidak adil atau diperlakukan buruk gara-gara warna kulit.

Di bidang politik dinamakan apartheid yang pernah berlaku di Afrika Selatan. Diskriminasi tidak hanya terkait ras. Ada diskriminasi usia, jenis kelamin, politik, orientasi seksual, identitas gender, pendidikan, agama, catatan kriminal pada masa lalu, gaya hidup, cara berpakaian, kecacatan, kelas sosial, dan sebagainya.

Rasisme ini tak hanya ada di Amerika sana. Di lingkungan kita masih ada. Harus diakui, di masyarakat ada prasangka terhadap suku lain, misalnya suku X itu pelit, suku Y itu kasar, suku Z itu pemalas. Itu prasangka. Ketika itu mewujud dalam perilaku, terjadilah diskriminasi.

Papua

Di tempat kerja, ada orang yang tak mau bekerja sama dengan pegawai dari suku Z yang dianggap pemalas atau suku Y yang dinilai kasar. Kalau ini terjadi, dia adalah rasis. Bangsa Indonesia yang terdiri atas beragam suku bangsa ini betul-betul diuji ketika masih ada rasisme.

Untuk mendapat gambaran sederhana adanya rasisme di masyarakat kita, coba lihat akun Tik Tok milik gadis Papua Anna Imbir. Dia sering menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Papua. Sayang, ada pertanyaan jahat bin rasis, misalnya,”Kakak binatang apa manusia?”

Pertanyaan lainnya,”Ndak ada lulur ka di Papua kok lututnya hitam sih”. Pertanyaan yang senada,”Woi di Papua bernapas pakai apa?” Pertanyaan-pertanyaan yang bikin marah itu dijawab dengan manis oleh Anna Imbir. Dia menjelaskan bahwa Papua sama seperti di tempat lain.

Orang Papua tak jauh berbeda dengan orang di Jakarta.  Jadi, harus diakui, masih ada orang yang mengunggulkan diri dan menganggap suku lain lebih rendah. Jika kita masih rasis,  cobalah tes DNA untuk mengetahui gen apa saja di tubuh kita. Jangan-jangan gen yang dominan di tubuh kita adalah ras dari suku yang selama ini kita cemooh. Kan malu jadinya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho