Aktivitas di salah satu wisma di kompleks prostitusi Sunan Kuning, Kota Semarang, Kamis (17/10/2019) malam. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, SEMARANG — Eyelash palsu dan gincu berwarna merah telah menghiasi wajah Rosa, 27, Kamis (17/10/2019) sore. Ia pun bersiap menanti tamu yang akan berkunjung ke wisma karaoke tempatnya bekerja di kompleks Resosialisasi Argorejo atau Sunan Kuning, Semarang.

Kendati demikian, tamu yang dinanti Rosa tak kunjung datang. Padahal, hari itu adalah hari terakhir kompleks prostitusi Sunan Kuning beroperasi sebelum dilakukan penutupan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, Jumat (18/10/2019).

“Belum ada tamu. Dari tadi sepi. Padahal saya sudah datang sejak sore,” ujar Rosa saat dijumpai  Semarangpos.com.

Rosa mengaku sejak ada kabar penutupan atau setahun yang lalu, kompleks Sunan Kuning memang sudah sepi dari tamu, tak terkecuali hari itu. Padahal dirinya berharap bisa meraup banyak pendapatan sebagai bekal pulang ke kampung halaman.

“Enggak, saya enggak akan beri diskon. Kalau diizinkan mami [pemilik wisma], malah penginnya naikan tarif. Soalnya inikan hari terakhir,” ujar Rosa.

Rosa mengaku sudah sejak dua tahun terakhir bekerja sebagai pemandu karaoke (PK) di Sunan Kuning. Dalam sebulan ia pun mampu meraup puluhan juta rupiah dari pekerjaannya itu.

Tarifnya selama satu jam menemani tamu karaoke dibanderol Rp60.000. Meski uang sebanyak itu masih dipotong Rp20.000 untuk pihak pengelola tempat karaoke, ia masih bisa mendapat keuntungan dari tip yang diberikan pelanggan. Belum lagi jika ada tawaran kencan dari tamu atau pelanggan.

“Lumayanlah hasilnya, bisa menafkahi keluarga di kampung. Kalau enggak seperti ini mau kerja apa? Kita kan pendidikannya rendah,” ujarnya.

Pemilik tempat karaoke Berkah di Sunan Kuning, Sukmawati, 58, mengaku selama satu bulan anak asuhnya yang menjadi PK bisa meraup penghasilan lebih dari Rp6 juta. Namun, untuk yang mau melayani kencan penghasilannya bisa mencapai Rp10 juta lebih dalam sebulan.

“Tapi ini malah mau ditutup. Tentunya kita sedih, tapi mau bagaimana lagi, itu kebijakan pemerintah,” ujar perempuan yang akrab disapa Wati itu.

Wati mengaku cukup kecewa dengan kebijakan pemerintah yang menutup kompleks prostitusi yang sudah berdiri sejak 1966 silam itu. Padahal, sudah hampir dua dasawarsa dirinya menggantungkan nasib di kawasan tersebut.

“Banyak anak-anak [pekerja seks] yang sedih dan kecewa. Bahkan, kemarin ada yang stres hingga dilarikan ke RSJ Amino Gondohutomo. Dia anak gang dua. Mungkin karena banyak pikiran, setelah ditutup mau ngapain,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto, mengatakan proses penuntupan kompleks prostitusi Sunan Kuning akan digelar Jumat pagi. Meski ditutup, pihaknya tetap mengizinkan tempat karaoke di kompleks tersebut beroperasi mulai Selasa (22/10/2019).

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten