Kisah Wahyu Tri Nugroho, Comeback Tak Terduga "Si Anak Hilang"
Kiper Bhayangkara FC Wahyu Tri Nugroho (detik.com)

Solopos.com, SOLO – “Kalau ditawari balik ke Solo, pasti pengin balik.” Kalimat itu diucapkan kiper Bhayangkara Solo FC (dulu Bhayangkara FC), Wahyu Tri Nugroho, saat berkunjung ke Museum Titik Nol Pasoepati, Juli 2020 lalu.

Kiper asal Sukoharjo mengaku belum bisa melupakan manisnya membangun awal karier bersama Persis Solo medio 2006-2009. Meski saat itu masih berstatus pemain muda, Wahyu Tri sudah menjadi idola lewat penyelamatan-penyelamatan gemilangnya.

Cegah Persebaran Covid-19, Parkir Mal di Soloraya Bayar Murah, Cashless, dan Touchless

Pemain 33 tahun ini nyaris kembali ke Stadion Manahan saat ditawari membela Persis Solo musim ini. Sayang negosiasi mentok karena Bhayangkara FC memutuskan memperpanjang kontraknya. Namun takdir orang siapa yang tahu.

Hanya selang empat bulan dari kunjungannya ke Museum Titik Nol Pasoepati, Wahyu Tri benar-benar kembali ke Kota Bengawan. Namun kali ini bukan membela Laskar Sambernyawa, melainkan tetap membawa panji klub lama yang kini berubah nama menjadi Bhayangkara Solo FC.

“Saya baru tahu klub mau pindah ke Solo dua hari lalu. Sempat kaget, tidak percaya. Sekarang saya ada di sini, benar-benar nyata,” ujar Wahyu sambil menerawang ke Stadion Manahan yang kini lebih megah setelah direnovasi senilai Rp301 miliar.

Emosional

Bagi Wahyu, kepulangannya ke Solo sangat emosional karena namanya melambung dari kota budaya tersebut. Sebelum menjadi bintang di Persis, dia mengawali karier bolanya di klub lokal AT Farmasi. Wahyu mengaku sangat bahagia bisa kembali ke daerah asalnya setelah merantau selama 11 tahun.

“Buat saya ini sangat spesial. Saya awal tarkam di AT Farmasi, kemudian gabung di Persis. Kalau enggak main di Persis, belum tentu saya bisa main di klub sekarang dan kembali ke Stadion Manahan lagi,” ujar kiper Timnas di Piala AFF 2012 itu.

Tak Kuat Nanjak, Minibus Rombongan Pengantin di Sambirejo Sragen Terperosok ke Tebing

Wahyu Tri Nugroho berharap Stadion Manahan akan memberi tuah bagi klubnya. Setelah menjuarai kompetisi pada 2017, The Guardian “hanya” finis nomor tiga dan empat di dua musim berikutnya. “Semoga Solo membawa keberuntungan lebih, klub bisa juarai lagi,” ujarnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom