Kisah Unik Makan di Warung Saat PPKM di Boyolali: Ngiras 20 Menit Ga Cukup

Kisah unik kali ini berisi tentang pengalaman ngiras di warung makan di Boyolali yang dibatasi selama 20 menit selama PPKM.

 Ilustrasi PKL. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi PKL. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, BOYOLALI — Kisah unik kali ini menceritakan pengalaman saya dan beberapa warga makan di warung yang dibatasi 20-30 menit, sesuai dengan peraturan yang tertulis dalam PPKM Level 3 di Boyolali, Jawa Tengah.

Pada praktiknya, peraturan tersebut tidak mudah diterapkan. Apalagi jika Batasan waktu itu berptokan pada durasi pengunjung berada di warung makan, mulai dari menunggu penyajian menu hingga selesai makan.

Belum lama ini saya mencoba mendatangi warung makan di wilayah Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Saya memesan menu nasi pecel lengkap dengan lauk serta teh manis. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk menyajikan pesanan saya dalam empat porsi untuk makan bersama.

Pedagang di warung itu tampaknya ingin menyajikan menu dalam kondisi hangat. Semua lauk yang disajikan, seperti tahu goreng, tempe goreng dan telur ceplok, masih hangat.

Baca juga:  Gelap Gulita, PKL Jajanan Malam di Solo Baru Belum Berjualan Meski Aturan PPKM Dilonggarkan

Warung Makan Siap Saji

Tetapi kondisi setiap warung kemungkinan berbeda mengenai waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan makanan. Untuk warung makan dengan menu yang sudah tersaji, pengunjung tinggal memilih dan mengambil sesuai selera, sehingga kemungkinan akan lebih cepat. Namun untuk warung makan yang menawarkan menu makanan yang butuh pengolahan langsung, tentu akan butuh waktu yang lebih lama.

Salah satu pelaku usaha kuliner asal Sawit, Boyolali, Suratman, mengatakan setiap menu yang dipesan di warungnya, membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

“Untuk menu tengkleng dan ayam bakar, perlu waktu 10 menit untuk membuatnya panas. Tinggal 10 menit habis untuk menyajikan baik di piring, dus dan transaksinya,” kata dia.

Sedangkan untuk waktu makan pengunjung, menurutnya hal itu tergantung masing-masing orang. Biasanya setiap orang menghabiskan makanan kurang dari 20 menit.

“Kecenderungan orang makan di warung makan itu ingin suasana nyaman, waktu agak longgar sambil ngobrol. Kalau 20 menit itu sudah habis untuk penyajiannya saja,” lanjut dia.

Baca juga: Bidan Desa di Boyolali Aktif Tangani Pandemi Covid-19

Menurutnya kebijakan PPKM tidak mudah untuk dijalankan oleh pelaku usaha skala kecil menengah. “Kalau usaha kuliner skala mikro seperti saya jelas kebijakan itu tidak bisa berjalan. Kalau dengan pesan antar malah bisa dilakukan usaha kuliner rumahan yang tidak membutuhkan warung,” jelas dia.

Untuk itulah, sejak pelaksanaan PPKM Darurat, dirinya memilik menutup warungnya. Selain sulitnya menyesuaikan operasional warung makan dengan aturan PPKM, membuka warung justru akan merugikannya.

“Sebab apa yang sudah kami persiapkan untuk sajian warung, berisiko tidak habis jual. Bukannya untung tapi malah buntung menanggung sisa makanan yang tidak terjual. Belum lagi biaya listrik, air, dan lain-lain. Saat awal [PPKM] saya mencoba bertahan, tapi ternyata tidak mampu bertahan,” kata dia.

Salah satu warga, Sapto, mengatakan meski ada kelonggaran untuk bisa makan di warung makan saat ini, namun waktu yang ditentukan sangat terbatas.

“Untuk memesan menu saja butuh waktu. Misalnya pesannya banyak, kemudian harus dibuatkan satu per satu, butuh waktu untuk menunggu hingga hidangan siap makan. Misalnya mia ayam, satu porsi butuh waktu lima menit menghidangkan. Kalau empat porsi, sudah 20 menit. Belum makannya. Kalau hanya makannya, waktu 20 menit mungkin bisa,” kata dia.

Dia mengatakan beda menu, beda waktu menghidangkan. Untuk nasi rames mungkin lebih cepat. Tapi kalau nasi horeng tentu butuh waktu untuk memasak, sate juga butuh waktu untuk membakar dan menyajikan.

Baca juga: Juragan Tahu Asal Cokro Tulung Ini Kirim Bantuan Tahu ke Dapur Umum MDMC Klaten

Aturan PPKM Level 3

Diketahui, pada PPKM Level 3 yang diberlakukan mulai 26 Juli-2 Agustus 2021, terdapat beberapa penyesuaian. Untuk warung makan misalnya, jika pada PPKM Darurat lalu, tidak boleh melayani makan di tempat, hanya melayani pesanan di bawa pulang. Saat ini dibolehkan makan di tempat dengan waktu 20 menit.

Pada aturan yang disampaikan pemerintah dalam pelaksanaan PPKM Level 3 maupun Level 4, hanya disebutkan waktu makan di warung makan adalah 20 menit.

Tidak ada penjelasan apakah waktu tersebut hanya untuk saat makan, atau termasuk waktu yang dibutuhkan pengunjung warung makan untuk menunggu makanan yang dipesannya disajikan di meja.

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, saat menyampaikan penerapan PPKM Level 4 dan PPKM Level 3 pada Minggu (25/7/2021) lalu, menyebutkan untuk warung makan, PKL, lapak jajanan dan sejenisnya yang memiliki tempat usaha di tempat terbuka diizinkan buka dengan protokol kesehatan ketat hingga pukul 20.00 WIB dan waktu makan maksimal untuk pengunjung adalah 20 menit.

“Kami sarankan selama makan, karena tidak bermasker,  jangan banyak berkomunikasi,” kata dia. Dalam pelaksanaan di lapanagan, pihaknya meminta pemerintah daerah untuk membuat peraturan secara teknis.

Baca juga: Makan Di Warung Dibatasi 20 Menit, Begini Tanggapan PKL Solo

Untuk Boyolali, berdasarkan Instruksi  Bupati Boyolali Nomor 5/2021, tentang Perpanjangan PPKM Level 3 dalam Penanganan Covid-19 di Kabupaten Boyolali, diizinkan pelaksanaan kegiatan makan/minum di tempat umum dengan beberapa ketentuan. Jika mengacu instruksi tersebut, waktu makan di warung adalah 30 menit.

Disebutkan, warung makan/warteg, pedagang kaki lima, lapak jajanan/angkringan dan sejenisnya, baik yang berada pada lokasi milik sendiri atau pada fasilitas umum (area publik, taman umum, tempat wisata umum dan area publik lainnya) dan pusat perbelanjaan antara lain super market/mini market, pasar tradisional dan swalayan yang lokasinya berada di ruang terbuka diizinkan buka dengan protokol kesehatan yang ketat.

Waktu operasional sampai dengan pukul 20.00 WIB dengan maksimal pengunjung yang makan di tempat sebanyak 25% dari kapasitas normal dan waktu makan maksimal 30 menit.


Berita Terkait

Berita Terkini

Universitas Muhammadiyah Jawa Tengah di Karanganyar akan Miliki 6 Prodi

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Karanganyar mengusulkan 6 program studi (Prodi) yang akan diajarkan di Universitas Muhammadiyah Jawa Tengah.

Ternyata Ada Banyak Makam di Dasar Rawa Jombor Klaten

Awalnya warga masih kerap melihat nisan ketika Rawa Jombor dikeringkan.

KPU Sragen Usulkan Dua Opsi Biaya Pemilu, Jangan Kaget dengan Angkanya

KPU Sragen menyebut biaya pemilu 2024 bisa membengkak jika pandemi Covid-19 masih belum teratasi.

Giliran Mahasiswa UMS Demo Tuntut Bubarkan Menwa, Ini Penyebabnya

Setelah UNS Solo, kini mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta atau UMS juga demo menuntut pembubaran Menwa (Resimen Mahasiswa).

Minimarket di Wonogiri Wajib Pasarkan Produk UMKM

Minimarket wajib membuka 30 persen ruang untuk memasarkan produk UMKM berasal dari Kabupaten Wonogiri.

Daftar 8 Kawasan Kumuh di Kota Solo, Kampungmu Termasuk Lur?

Delapan kawasan kumuh di Kota Solo ini memiliki luas lahan seratusan hektare.

Patung Semar Di Karanganyar Bakal Jadi Objek Wisata Edukasi

Patung semar raksasa di Desa Salam, Kecamatan Karangpandan, Karanganyar rencananya dikembangkan jadi destinasi wisata edukasi.

Masih Ada Seratusan Hektare Kawasan Kumuh di Kota Solo

Hingga akhir 2020 luasan kawasan kumuh di Kota Solo tersisa 135,971 hektare.

Pengurukan Tanah Dimulai, Sukoharjo Segera Miliki GOR Tipe B

Proses pembangunan gedung olahraga (GOR) tipe B di Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo, dimulai dengan pengurukan tanah.

Polisi Temukan Barang Bukti Elektronik dalam Kasus Gilang

Ada temuan barang bukti elektronik yang ditemukan Polresta Solo terkait kasus kematian mahasiswa UNS Solo, Gilang Endi Saputra. Bukti tersebut tengah dianalisis Labfor Polda Jateng.

Ke Rumah Duka, Kapolresta Solo Serahkan SPDP Kepada Ayah Gilang

Kepada ayah Gilang Endi Saputra, Kapolresta Solo memastikan akan mengusut kasus tuntas kasus kematian mahasiswa UNS Solo itu saat Diklat Menwa.

Kasus Diklat Menwa UNS Solo: 26 Saksi Diperiksa Polisi, Ada Tersangka?

Polisi sejauh ini sudah memeriksa 26 orang saksi dalam kasus dugaan kekerasaan berujung meninggalnya salah satu peserta Diklat Menwa UNS Solo.

Siap-Siap, Ini 36 Daftar Agenda Seni dan Budaya di Klaten 2021

Daftar 36 agenda seni dan budaya akan digelar di Klaten hingga Desember mendatang.

Tancap Gas, Wankes Klaten Gelar 36 Kegiatan Saat PPKM Level 2

Dewan Kesenian (Wankes) Klaten langsung tancap gas menggelar 36 event/kegiatan seni dan budaya di Klaten di tengah PPKM Level 2.

Protes Kematian Anjing Canon Kembali Mengalir dari Solo

Protes atas kematian seekor anjing di Pulau Banyak, Aceh Singkil, setelah ditangkap Satpol PP terus mengalir dari Kota Solo.