Ilustrasi kekerasan. (Youtube)

Solopos.com, SOLO – Menjalin toxic relationship jelas tidak baik. Dalam suatu hubungan asmara, tentu ada salah satu pihak yang dirugikan. Apalagi jika terjadi hal buruk yang tidak diinginkan dalam suatu hubungan.

Toxic relationship adalah hubungan yang tidak menyenangkan lagi bagi diri sendiri maupun orang lain. Hubungan semacam ini membuat seseorang merasa lebih buruk.

Hubungan beracun ditandai dengan perasaan tidak aman, ada kecemburuan, keegoisan, ketidakjujuran, merendahkan, memberi komentar negatif, dan mengkritik. Mempertahankan toxic relationship menyebabkan berbagai konflik, terutama konflik batin.

Pada intinya, toxic relationship menyebabkan orang yang terlibat di dalamnya merasa kesulitan untuk hidup produktif dan sehat. Seperti dialami Una (bukan nama sebenarnya) yang menjalin hubungan beracun dengan mantan kekasihnya, Ali (nama samaran).

Una dan Ali yang berbeda agama menjalin hubungan beracun hampir setahun. Pada mulanya, Una merasa nyaman menjalin kasih dengan Ali. Awal perkenalan hingga dua bulan awal berpacaran terasa indah.

Tetapi, memasuki bulan ketiga semuanya mulai berubah. Ali yang awalnya perhatian berubah hingga ketahuan selingkuh. Tak terima dituding selingkuh, Ali mulai berbuat kasar dan berani main tangan ke Una.

Perlakuan kasar itu membuat Una tak tahan. Namun, Ali selalu berhasil meluluhkan hatinya dengan permintaan maaf dan kata-kata manisnya. Padahal, sejak awal berpacaran Una sadar betul Ali adalah orang yang sangat posesif.

Semua yang dilakukan Una harus dilaporkan kepada Ali. Bahkan, Una yang bekerja sebagai MC di Kota Solo harus beberapa kali membatalkan kontrak kerja hanya karena Ali tidak suka dengan kliennya.

“Mulai dari aku kerja MC harus bilang dulu sama dia boleh apa enggak. Harus kirim bukti percakapan sama klien. Kalau dia enggak cocok sama kliennya, enggak boleh aku terima job itu,” terang Una kepada Solopos.com, awal Desember 2019 lalu.

Ironisnya, Una bahkan dilarang bepergian jika tidak ditemani Ali. Dia juga dilarang ke kampus untuk mengurus skripsi. Bahkan sampai tidak boleh bermain media sosial atau chatting dengan teman kerja.

“Enggak boleh ke kampus, padahal aku masih proses skripsi. Enggak boleh pergi ke mana-mana kalau enggak sama dia. Enggak boleh aku pakai sosmed. Update foto enggak bisa. Enggak boleh chatting sama teman kerja. Semua nomor mereka enggak boleh di-save,” sambung Una.

Semua aktivitas Una harus atas persetujuan Ali yang bekerja sebagai pegawai bank swasta ternama. Jika tidak sesuai dengan keinginan, Ali tak segan-segan memukuli Una hingga babak belur.

Meski tersakiti, Una selalu memaafkan perbuatan Ali. Dia mencoba melupakan rasa sakit hati demi bertahan sambil berharap pria yang dicintainya berubah.

Tetapi, harapan Una tak kunjung terwujud. Ali semakin menjadi-jadi. Dia terus saja menjadi korban kekerasan yang dilakukan pria asal Padang, Sumatra Barat itu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten