Ilustrasi paramedis menolong warga Palestina yang terluka dalam bentorkan di Jalur Gaza (Reuters-Samar Abo Elouf0

<p lang="zxx"><strong>Solopos.com, SOLO &ndash;</strong> Jalur Gaza kembali memanas, Selasa (29/5/2018). Puluhan bom mortir, roket, dan proyektil dari kelompok militan Palestina, Hamas dan Jihad Islam, ditembakkan ke wilayah Israel. Serangan besar itu disambut dengan tembakan melalui udara oleh militer Israel.</p><p lang="zxx">Sejumlah orang terluka akibat serangan besar antara Israel dan Palestina. Dua negara ini terlibat perang di <a href="http://news.solopos.com/read/20180530/497/919233/jalur-gaza-kembali-memanas">Jalur Gaza</a> sejak 2014 lalu. Pada periode April hingga Mei 2018, bentrokan antara warga Palestina dan militer Israel sangat sering terjadi. Banyak orang menjadi korban akibat konflik yang tak kunjung berakhir itu.</p><p lang="zxx">Penderitaan warga Palestina disaksikan langsung oleh salah seorang peutgas medis bernama Mazen Jabreel Hasna. Wanita yang akrab disapa Hasna itu selalu waspada dan langsung bergerak cepat setiap kali bentrokan terjadi. Meski telah bertahun-tahun menjadi tenaga medis di dareh konflik, Hasna tetap saja terguncang ketika melihat seseorang meregang nyawa di depannya.</p><p lang="zxx">Dikutip dari <em>Aljazeera, </em>Rabu (30/5/2018), Hasna ingat betul saat melihat banyak orang meninggal dunia pada bentrokan di Jalur Gaza 27 April 2018 lalu. Pagi itu, dia memulai aktivitasnya dengan membaca Alquran. Dia mencoba mengusir kegelisahan di hati dan pikirannya dengan membaca ayat suci. Namun, hal itu tak berhasil menghilangkan rasa cemas yang menyelimuti hatinya.</p><p lang="zxx">Benar saja, pada waktu itu terjadi bentrokan besar antara <a href="http://news.solopos.com/read/20180526/497/918594/bentrokan-di-gaza-109-warga-palestina-luka-ditembak-tentara-israel">warga Palestina</a> dan militer Israel. Bentrokan itu membuat Hasna harus berada di medan perang untuk menyelamatkan korban. Dia menyaksikan seorang wanita yang berusaha menerobos kawat berduri demi menyelamatkan nyawa anaknya. Wanita itu menjerit histeris. Tangannya mencoba menggapai putranya yang terluka, namun tak terjangkau.</p><p lang="zxx">Tembakan gas air mata membuat keadaan si wanita semakin payah. Melihat hal itu, Hasna bergegas untuk menolong. Namun, langkahnya terhenti karena badannya ambruk. Dia baru sadar kakinya tertembus peluru dari pistol milik militer Israel.</p><p lang="zxx">Pengalaman menjadi paramedis di daerah konflik ternyata tak cukup untuk menghindari tembakan itu. Hasna kala itu telah mencoba mengaburkan pandangan <a href="http://news.solopos.com/read/20180516/497/916459/tembakan-gas-air-mata-tentara-israel-renggut-nyawa-bayi-palestina">penembak jitu Israel</a> dengan mengenakan rompi hijau dan masker. Tapi, dia sadar profesinya sebagai paramedis menjadi salah satu sasaran utama militer Israel.</p><p lang="zxx">"Penembakan seperti itu menjadi seni bagi para <em>sniper </em>Israel. Mereka tahu betul luka seperti apa yang akan dialami calon korbannya. Jadi, jika dia ingin kamu hidup, maka kamu akan hidup. Tapi, jika tidak, dia akan membunuhmu dalam satu kali tembak," kata Hasna yang duduk di kursi roda.</p><p lang="zxx">Hasna sangat marah dengan kejahatan militer Israel yang menyerang warga Palestina tanpa ampun. Bahkan, dia yang berkerja atas dasar kemanusiaan ikut menjadi korban. "Di mana hak asasi manusia yang mereka bicarakan siang dan malam? Kehadiran saya di perbatasan untuk alasan manusiawi. Saya berniat menyelamatkan nyawa korban. Tapi, pasukan Israel menghukumku dengan tembakan ini. Mereka adalah eksekutor kemanusiaan," ujar Hasna geram.</p><p lang="zxx">Pada 2018 ini, bentrokan antara warga Palestina dan militer Palestina terjadi sejak 30 Maret. Lebih dari 13.000 orag terluka akibat bentrokan tersebut. Selain warga sipil, militer Israel juga menargetkan paramedis. Sampai saat ini, ada puluhan paramedis yang terluka dan sejumlah fasilitas kesehatan rusak akibat ulah militer Palestina.</p><p lang="zxx">&nbsp;</p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten