Kisah Tim Pemakaman Jenazah Covid-19 Sepat Sragen: Napas Mengkis-Mengkis Tapi Masih Ada yang Nyinyir
Tim pemakaman jenazah Covid-19 Desa Sepat, Masaran, Sragen, memakamkan jenazah di salah satu desa di Masaran, Sragen, belum lama ini. (Istimewa/Tri Setyawan)

Solopos.com, SRAGEN -- Lima warga Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen, menguatkan tekad bergabung menjadi tim pemakaman jenazah Covid-19 yang bekerja sukarela alias tanpa bayaran.

Tim pemakaman jenazah Covid-19 Sepat Sragen itu dikoordinasi Kepala Desa (Kaes) Sepat, Mulyono, didampingi empat personelnya, yakni Tri Setyawan, 35, Fendy Zarkasi, 38, Wongso, 50, dan Paryono Wage, 37.

Mereka siap dipanggil sewaktu-waktu untuk memakamkan jenazah Covid-19.

Curhat Agen Bus di Terminal Klaten Penumpang Sepi Dampak PSBB Jakarta

Namun lima warga Sepat yang sebagian juga menjadi Satuan tugas (Satgas) Desa Sepat dan anggota SAR Poldes Masaran itu tidak semuanya memiliki alat pelindung diri (APD) yang lengkap.

"Ya, karena kami kan sesama manusia yang seharusnya saling tolong-menolong. Orang hidup itu wajibnya memakamkan orang yang sudah meninggal. Kalau semua tidak mau memakamkan jenazah Covid-19, apa lalu jenazah itu dibiarkan. Di mana kewajiban kita yang masih diberi umur?" ujar Mulyono saat dihubungi Solopos.com, Kamis (17/9/2020).

Dia menyatakan lima orang itu murni sukarelawan dan terbuka dengan hati nurani sendiri-sendiri. Perekrutan dilakukan Mulyono pun secara terbuka, yakni yang mau silakan bergabung.

Bergabung di Tim Kecamatan Masaran

Mulyono menyampaikan tim pemakaman jenazah Covid-19 sanggup dimintai bantuan 24 jam. Selama ini timnya sudah menangani lima kasus jenazah Covid-19 yang dimakamkan di wilayah Kecamatan Masaran dan Kedawung.

"Sukanya itu bisa membantu orang lain. Susahnya itu saat memakai APD, yakni sudah bernapas. Napasnya jadi mengkis-mengkis [tersengal]. Saat menguruk lubang itu seperti teletubbies. Kami niati dengan ikhlas. Di desa-desa lain belum ada. Kami pun bergabung di tim kecamatan Masaran yang terdiri empat orang anggota tim yang difasilitas Camat Masaran, Agus Winarno,” ujarnya.

Salah satu anggota tim pemakaman Covid-19 Sepat, Tri Setyawan, mengaku kadang masih mendengar suara nyinyir bahwa menjadi tim pemakaman jenazah Covid-19 itu dianggap seperti proyek dengan bayaran tertentu.

10 Berita Terpopuler : 13 Puskesmas Solo Terbaik Se-Jateng

Padahal jangankan upah atau bayaran, Tri dan teman-temannya bahkan membeli APD. Sebab kadang-kadang dari pihak petugas tidak siap APD.

“Kami dari rumah sudah menyiapkan APD yang dibutuhkan, mulai dari hazmat sampai sarung tangan, hand sanitizer, dan seterusnya,” katanya.

Kebanggaan dan Kepuasan Hati

Tri sendiri sebenarnya takut tetapi keyakinannya lebih kuat karena ada protokol kesehatan yang ketat. Tri terpanggil karena orang yang masih hidup itu wajib menguburkan jenazah siapa pun.

Bahkan menguburkan jenazah yang datang malam-malam dan selesai sampai dinihari pun dilakoni Tri dan teman-temannya dengan ikhlas.

Ketika bisa membantu itu, bagi Tri, menjadi kebanggaan dan kepuasan hati karena bisa bermanfaat bagi orang lain.

Presiden Jokowi Kirim Surat Ucapan Selamat Ultah Ke-23 Untuk Solopos: Semoga Selalu Menginspirasi!

Saat proses pemakaman, Tri menyampaikan banyak warga yang masuk takut. Mereka pun melihat dengan jarak 200 meter dari lokasi pemakaman. Belakangan, Tri sering memakamkan jenazah malam hari karena udaranya tidak panas apalagi saat memakai hazmat.

“Proses pemakamannya tidak seperti jenazah umum. Khusus untuk jenazah Covid-19 itu sudah dalam peti mati. Peti itu langsung dimasukkan dengan bantuan dua tali dadung dan dua buah balok. Setelah dimasukan ke lubang lalu diuruk. Kalau jenazah biasa kan petinya dibongkar, jenazahnya dikeluarkan,” katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom