Sungadi, 21, saat membantu tetangganya yang membangun rumah di Dukuh Jurang, Desa Sono, Mondokan, Sragen, Kamis (19/9/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Sejak lahir Sungadi sudah bertubuh subur. Dia lahir dengan bobot 4,8 kg. Karena bobotnya yang di atas normal itu pula dia sempat kesulitan untuk belajar berjalan.

Saat anak-anak seusianya sudah bisa berjalan pada usia sekitar satu tahun, Sungadi baru bisa berjalan pada usia lima tahun. “Sejak masih balita badannya sudah besar. Jadi untuk bangun saja dia kesulitan, apalagi mau berjalan,” ujar Suwarno, 59, bapak dari Sungadi, warga Dukuh Jurang, Desa Sono, Kecamatan, Mondokan, Sragen, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Kamis (19/9/2019).

Sungadi merupakan anak kelima pasangan Suwarno-Tukiyem, 58. Keempat kakak Sungadi tumbuh normal seperti anak pada umumnya. Hanya Sungadi yang yang berbobot tidak proporsional.

“Waktu kecil, Sungadi bisa minta makan 8-9 kali sehari. Setelah besar, porsi makannya justru berkurang. Dia sekarang makan tiga kali sehari, tapi dia kuat minum. Makanan favoritnya itu bakso. Kalau minuman yang paling disukai adalah air putih yang dicampur es. Dalam sehari, dia bisa mengabiskan lebih dari tiga liter air es. Tapi tak pernah pakai gula,” papar Suwarno.

Karena berat badannya yang tidak proporsional, Sungadi kecil memilih tidak bersekolah. Jarak rumah dengan SD terdekat sekitar 1,5 km membuat Sungadi tak kuat berjalan.

Sungadi, 21, beristirahat di sela-sela membantu tetangganya yang membangun rumah di Dukuh Jurang, Desa Sono, Mondokan, Sragen, Kamis (19/9/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
Sungadi, 21, beristirahat di sela-sela membantu tetangganya yang membangun rumah di Dukuh Jurang, Desa Sono, Mondokan, Sragen, Kamis (19/9/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Gangguan fonetis yang dideritanya itu juga menjadi penghalang Sungadi untuk sekolah. “Kalau dia bicara, tidak banyak orang yang paham maksudnya. Dengan kondisi seperti itu, Sungadi belum pernah mengenyam pendidikan formal. Pendidikan ya dari orang tuanya langsung,” terang Suwarno yang bekerja sebagai tukang kayu.

Kini Sungadi sudah berusia 21 tahun. Lima tahun lalu, berat badannya masih 116 kg. Kini, berat badannya bertambah menjadi 140 kg.

Kondisi itu membuat Sungadi mendapat perhatian dari bidan desa setempat. Kesehatan Sungadi terus dipantau. Secara periodik, bidan desa datang ke rumahnya untuk memeriksa kesehatannya.

Meski tergolong obesitas, Sungadi tidak merasakan adanya gangguan kesehatan di tubuhnya. “Yang dikhawatirkan bidan itu penyakit gula. Tapi, anak saya itu tidak suka makanan dan minuman manis. Jadi, setelah diperiksa ya memang tidak ada gangguan kesehatan. Cuma kalau sedang sakit, dia tidak mau minum obat, apalagi disuntik. Dia sama seperti bapaknya yang takut jarum suntik,” kelakar Suwarno.

Dengan bobotnya yang berat, Sungadi masih bisa beraktivitas. Dia terbiasa bangun pagi sebelum pukul 06.00 WIB. Setelah itu dia keluar rumah untuk membantu tetangganya.

Di mata warga sekitar, Sungadi terkenal ringan tangan alias suka membantu. Apa pun pekerjaan yang dilakukan tetangganya mulai dari mengupas jagung, memipil bawang, hingga menjadi buruh bangunan, Sungadi selalu menawarkan diri untuk membantu.

Dari pekerjaan membantu tetangga itu, Sungadi bisa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. “Dari membantu tetangga itu, anak saya biasa meminta bayaran Rp5.000 atau Rp10.000. Kalau dikasih lebih dari itu, dia malah tidak mau karena merasa tidak punya uang kembalian,” papar Suwarno.

Sungadi merasa senang bisa bekerja membantu tetangganya. Saat bekerja, Sungadi lebih senang bertelanjang dada. Oleh karenanya, tubuhnya yang subur itu telihat menggelambir.

Mengenakan pakaian atasan justru membuat dia merasa gerah. “Enakan tidak pakai baju, tidak panas,” ucapnya kala diajak berbincang dengan Solopos.com.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten