Kabid Pelayanan Medik RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, Kurniyanto, menyerahkan bingkisan kepada Ismiyati, 43, pasien yang menjalani operasi bedah saraf pada daerah batang otak, Jumat (3/5/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Tim dokter bedah saraf RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten berhasil mengoperasi pasien yang mengalami trigeminal neuralgi atau nyeri mendadak pada satu sisi wajah yang dialami secara tiba-tiba. 

Kasus nyeri karena gangguan pada salah satu saraf yang berasal dari otak itu merupakan kasus langka. Operasi dilakukan tim dokter bedah saraf RSST yakni dua dokter bedah saraf, dr. Wisnu Baskoro dan dr. Andrianto Purnawan, dokter anaestesi, serta perawat, pekan lalu. 

Operasi bedah untuk kasus trigeminal neuralgi yang dialami Ismiyati, 43, warga Desa Karangdukuh, Desa Jogonalan, Klaten, itu baru kali pertama dilakukan RSST. Wisnu menjelaskan trigeminal neuralgi termasuk kasus langka yakni enam sampai delapan kasus per 100.000 orang. 

Rata-rata kasus tersebut ditemui pada pasien berusia di atas 50 tahun. Kebanyakan pasien tak menyadari terkena penyakit tersebut. 

"Pasien awalnya tidak mengenali. Baru terdiagnosis itu setelah bertahun-tahun berobat,” kata Wisnu saat ditemui wartawan di RSST, Jumat (3/5/2019).

Ciri trigeminal neuralgi yakni nyeri pada sebagian wajah seperti dahi, pipi, serta rahang bawah. Nyeri seperti tersengat listrik itu bisa dirasakan penderita secara tiba-tiba. 

“Pencetus nyeri bisa karena kondisi udara dingin, berkumur, gosok gigi, atau terkena angin. Namun, bisa timbul tanpa pemicu apa pun,” katanya.

Trigeminal neuralgi terjadi lantaran saraf trigeminal, salah satu saraf di daerah batang otak, mengalami iritasi mekanik. Kasus tersebut paling sering terjadi lantaran suatu jepitan pembuluh darah atau tumor otak.

Wisnu mengatakan tingkat risiko operasi dipengaruhi kondisi pasien termasuk tingkat nyeri yang dialaminya. Ia mencontohkan nyeri pasien yang dioperasi tim dokter RSST masuk kategori akut. “Dari skala 1-10, tingkat nyeri pasien ini pada level 10,” ungkapnya.

Operasi bedah saraf pada pasien yang mengalami penyakit trigeminal neuralgi dilakukan dengan teknik microvascular decompression (MVD). Dalam operasi itu, tim bedah saraf menggunakan mikroskop khusus yang bisa menjangkau batang otak sehingga anatomi batang otak beserta struktur saraf dan pembuluh darahnya terlihat jelas. 

Namun, operasi ini memiliki risiko tinggi dan memerlukan ketelitian dan akurasi yang tinggi lantaran tidak boleh ada cedera pada batang otak. Operasi kasus trigeminal neuralgi yang baru kali pertama dilakukan tim RSST tersebut berlangsung sekitar 90 menit. 

Seusai dirawat selama dua hari, pasien diperbolehkan pulang dengan proses pemulihan melalui rawat jalan. Soal biaya operasi tersebut, Wisnu memperkirakan butuh Rp60 juta-Rp80 juta. Namun, Ismiyati terbebas dari biaya tersebut lantaran terjamin melalui BPJS. 

Wisnu menjelaskan selain operasi di wilayah batang otak, dokter bedah RSST sudah melakukan operasi dengan teknik endoskopi pada pasien yang mengalami hidrosefalus. Melalui operasi tersebut, pasien hidrosefalus tidak memerlukan pemasangan selang kepala permanen di dalam tubuhnya. 

Selain itu, dokter bedah saraf RSST juga melakukan operasi tulang belakang di daerah leher depan dan operasi tumor tulang belakang. 

Pasien trigeminal neuralgi yang baru saja dioperasi, Ismiyati, 43, mengatakan sakit tersebut ia derita sekitar empat tahun terakhir. Ia tak mengetahui penyebabnya hingga setiap saat mengalami nyeri hebat. 

"Saya tidak tahu penyebabnya apa. Rasanya itu tidak karuan, langsung greng dan cekot-cekot. Kadang sembuh, kadang kumatan," kata warga Desa Karangdukuh, Kecamatan Jogonalan, Klaten, tersebut.

Awalnya Ismiyati menahan nyeri meski cukup mengganggunya bekerja sebagai penjahit. Ia rutin mengunjungi puskesmas hingga rumah sakit untuk mengobati penyakitnya. Namun, nyeri masih sering terasa. 

Hingga delapan bulan terakhir nyeri sudah tak tertahankan lagi. Saking hebatnya nyeri yang dirasakan, ibu satu anak dua cucu tersebut tak bisa makan, berbicara, apalagi tidur nyenyak saat nyeri yang ia derita kumat. 

"Setiap hari, setiap malam, setiap detik terus menerus nyeri. Akhirnya saya ke RSST dan menyampaikan ke dokter saya sudah tidak betah. Setelah operasi, saya sudah bisa tidur nyenyak lagi. Sudah tidak merasa nyeri-nyeri lagi," kisah Ismiyati.

Kabid Pelayanan Medik RSST, Kurniyanto, mengatakan tindakan operasi di RSST saban tahun meningkat. Pada 2015, dokter RSST mengoperasi 15 pasien. Jumlah itu meningkat pada 2018 dengan 421 pasien. 

“Kebanyakan kasus yang ditangani cukup berat seperti kasus stroke hingga mengalami perdarahan otak atau tumor,” katanya. 

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten