Kisah Rakyat Ini Melegenda di Rawa Pening…
Rawa Pening di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Instagram—wisatasemarang)

Solopos.com, UNGARAN — Rawa Pening menjadi destinasi wisata yang menjanjikan panorama indahnya alam Kabupaten Semarang. Namun, di balik keindahan alam itu ada kisah rakyat awal mula terbentuknya danau tersebut yang melegenda.

Rawa Pening terletak di Kabupaten Semarang. Danau tersebut berada di empat kecamatan dengan luas sekitar 2.670 ha. Danau itu menjadi ramai setelah ada beberapa objek wisata di sekitar Rawa Pening.

Namun siapa sangka, ada legenda turun-temurun yang menceritakan kisah awal mula terbentuknya Rawa Pening.

Bukan Hanya Memesona, Bledug Kuwu Grobogan Juga Punya Legenda Unik

Seperti yang dihimpun Semarangpos.com dari berbagai sumber, Senin (4/5/2020), legenda tersebut berawal dari pasangan suami istri yang tinggal di Desa Ngasem yang terletak di antara gunung Merbabu dan Telomoyo. Mereka adalah Ki Hajar dan Nyai Selakanta.

Belum Dikaruniai Anak

Sayang sekali, walaupun terkenal memiliki sifat suka menolong, mereka berdua belum dikaruniai anak. Sampai akhirnya Ki Hajar bertapa di lereng Gunung Telomoyo untuk mewujudkan keinginan sang istri.

Tumbasin.id Jadi Solusi Belanja saat Social Distancing di Semarang

Nyai Selakanta khawatir dengan sang suami yang tidak segera pulang. Namun, dari situlah ia tahu jika sedang mengandung. Semakin hari perutnya semakin membesar.

Tiba waktunya Nyai Selakanta untuk melahirkan. Namun ia terkejut bukan main, karena melahirkan seorang anak dengan wujud naga. Akhirnya ia menamai anak tersebut Baru Klinthing.

Konon katanya, nama "baru" berasal dari kata Brahmana yang berarti ia adalah seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari pendeta. Dan "klinthing" berarti lonceng.

Aplikasi Nyayur.id Jadikan Warga Salatiga Seakan Panen Sayur

Karena malu dengan masyarakat sekitar, Nyai Selakanta merawat Baru Klinthing secara sembunyi-sembunyi. Sampai akhirnya beranjak dewasa, Baru Klinthing bisa berbicara layaknya manusia pada umunya.

Tiba-tiba, Baru Klinthing penasaran dengan sosok sang ayah. Akhirnya Nyai Selakanta menyuruh Baru Klinthing untuk menyusul sang ayah, karena menurutnya sudah saatnya buah hati mereka tahu wujud sang ayah.

Melingkari Gunung Telomoyo

Ia pun menyusul sang ayah di lereng Gunung Telomoyo dengan membawa tombak Ki Hajar. Baru sampai, Ki Hajar tidak percaya jika naga tersebut adalah anaknya. Ia pun menyuruh Baru Klinthing untuk melingkari Gunung Telomoyo.

Karena si anak memiliki kesaktian, ia dengan mudah melingkari gunung tersebut. Melihat hal itu, Ki Hajar akhirnya mengakui Baru Klinthing dan menyuruhnya untuk bertapa di Bukit Tugur agar berubah wujud menjadi manusia.

Es Krim Toko Oen Semarang Janjikan Kesegaran Legendaris

Sampai suatu hari, ada sebuah pesta yang dilakukan oleh orang-orang dari sebuah desa bernama Pathok. Mereka memburu binatang untuk dijadikan sajian pesta. Namun sayang sekali, saat itu mereka tidak menemui hewan satu pun.

Mereka pun mengunjungi Bukit Tugur dan menjumpai Baru Klinthing yang tengah bertapa. Para warga merasa senang dan langsung memotong daging naga itu untuk dijadikan hidangan pesta.

Ketika sedang berpesta, datanglah seorang anak laki-laki yang tubuhnya dekil dan penuh luka. Konon katanya, anak itu adaah jelmaan Baru Klinthing. Dia bergabung dan meminta makanan, namun sayang sekali ia malah diusir.

Rumah Harta Karun Semarang Ditunggu Sosok Baik Hati

Ia pun meninggalkan desa. Baru beberapa langkah, ia bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Lantung. Nenek tersebut dengan ramah menawarkan makanan kepada Baru Klinthing.

Naik Lesung

Mereka pun menghabiskan waktu bersama. Baru Klinthing tiba-tiba ingin membalas perbuatan warga di Desa Pathok. Ia pun mengingatkan Nyi Lantung untuk segera naik ke lesung untuk menumbuk padi jika mendengar suara gemuruh.

Wali Kota Semarang Punya Anti Lapar-Lapar Club

Baru Klinthing kembali ke pesta sambil membawa sebuah lidi. Kemudian ia menancapkan lidi tersebut dan membuat sayembara. Jika ada orang yang bisa mencabut lidi itu, maka Baru Klinthing akan menyerahkan diri sebagai budak.

Benar saja, orang-orang langsung antusias. Mereka mencabut namun tidak ada yang berhasil. Hingga akhirnya Baru Klinthing mencabut lidi itu dengan mudah. Begitu lidi itu tercabut, air muncul dari lubang bekas tancapan itu.

Semakin lama air semakin tinggi dan terjadilah banjir besar. Para penduduk desa tidak bisa melarikan diri kecuali Nyi Lantung yang sudah siap dengan perahunya dari lesung. Baru Klinthing pun berubah wujud menjadi naga dan menjadi Rawa Pening.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom