Bangunan salah satu ruang kelas di SDN 2 Gentan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo rusak parah dan disangga bambu. Foto diambil Kamis (6/2/2020). (Solopos/Indah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO - Sekilas tak terlihat berbeda bangunan SD Negeri 2 Gentan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo dengan sekolah lain, Kamis (6/2/2020). Bangunan ini tampak berdiri kokoh di kawasan perdesaan.

Namun saat memasuki satu per satu ruangan di sekolah yang berada di wilayah perbatasan Sukoharjo dan Kabupaten Wonogiri ini begitu memprihatinkan. Di bagian paling timur bangunan sekolah, yakni ruang kelas IV kondisinya berantakan. Kotoran bubuk kayu yang lapuk berserakan di lantai.

Kemudian tumpukan buku-buku bacaan diletakkan di atas kursi yang tak beraturan. Di ruang itu pula bagian atap juga tampak disangga oleh bambu-bambu. Dengan kondisi plafon ruangan bolong karena ambrol. Sementara tiang penyangga teras di bagian depan ruang kelas itu juga telah diganti dengan bambu.

"Bangunan di sekolah ini kondisinya banyak yang rusak, butuh perbaikan," ujar Kepala SDN 2 Gentan, Sriyani kepada Solopos.com di ruang kerjanya.

Ruang kelas IV bahkan terpaksa dikosongkan dan tidak digunakan sejak setahun lalu. Kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa kelas IV yang hanya berjumlah enam orang itu terpaksa dipindahkan ke ruang kepala sekolah. Padahal kondisi ruang kepala sekolah juga sama, plafon rawan jebol. "Ruangan sempit dan sebenarnya tidak layak untuk KBM. Plafonnya sudah bergelombang dan rawan ambrol," katanya.

Berlaku di Solo, Ini Bocoran Tes Psikologi Pemohon SIM

Pemindahan siswa kelas IV di ruang kepala sekolah terpaksa dilakukan karena tidak adanya pilihan lain ruangan yang bisa digunakan untuk KBM. SDN 2 Gentan merupakan bangunan SD Inpres tahun 1975, dan baru sekali mengalami renovasi pada 2011 lalu. Namun renovasi hanya dikerjakan untuk tiga ruang kelas saja. Sedangkan lainnya belum tersentuh renovasi.

Sriyani juga mengatakan, selain ruang kelas IV, penyangga bambu juga dipasang di ruang guru karena kuda-kuda ruangan sudah lapuk. Begitu juga di bagian teras sekolah dimana kayu penyangga patah karena lapuk sehingga diganti dengan bambu.

“Kami khawatir di musim hujan ini beban atap makin berat sehingga sewaktu-waktu atap ruangan khususnya ruang kelas IV runtuh,” ujar Sriyani yang baru lima bulan menjabat kepala di SD tersebut.

Panen Kedelai Wonogiri Menurun dari Tahun ke Tahun, Ini Sebabnya

Kondisi bangunan sekolah rusak telah dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo. Harapannya Disdikbud memprioritaskan perbaikan sekolahnya. Sebab sekolah ini menjadi satu-satunya jujukan warga sembilan RT di Dukuh Sungsang yang berada di wilayah perbatasan Sukoharjo dan Wonogiri.

Kondisi geografis sekolah yang berada di wilayah perbukitan dan jarak dengan sekolah lain mencapai 1,5 kilometer (km) tidak memungkinkan jika harus diregrouping atau digabungkan sekolah tersebut. Meskipun murid di sekolah itu tercatat secara keseluruhan hanya berjumlah 50 siswa.

Perinciannya kelas 1 sebanyak tujuh siswa, kelas 2 ada 10 siswa, kelas 3 ada 11 siswa, kelas 4 ada enam siswa, kelas 5 ada 10 siswa dan kelas enam ada enam orang siswa. "Sekolah ini harus dipertahankan dan menjadi satu-satunya sekolahan bagi warga di Dusun Sungsang," katanya.

Kepala Disdikbud Sukoharjo Darno merespons laporan kondisi bangunan ruang kelas di SDN 2 Gentan yang ambrol. Pihaknya akan menerjunkan petugas untuk mengecek kondisi tersebut. Hasil pengecekan ini akan menjadi dasar Disdikbud melangkah dalam prioritas perbaikan di tahun anggaran ini.

Jika Jadi Wakil Gibran Rakabuming, Achmad Purnomo Dianggap Kurang Kerjaan

"Nanti akan kita lihat hasilnya di lokasi. Kalau memang mendesak direnovasi, tentu kita akan memprioritaskan. Dengan cara mengalihkan anggaran renovasi sekolah lain ke sekolah itu," katanya.

Di tahun ini, Disdikbud akan merenovasi 19 SD yang mengalami kerusakan parah. Besaran anggaran renovasi masing-masing sekolah bervariasi disesuaikan dengan kebutuhannya. Prioritas renovasi, lanjut Darno, selain mempertimbangkan kondisi kerusakan bangunan juga jumlah murid.

Darno pun mengaku dilematis dengan kondisi di sekolah-sekolah pinggiran. Terutama di wilayah Kecamatan Bulu dan Weru yang sangat minim jumlah murid. Sementara jika diregrouping sangat tidak memungkinkan karena jarak antar wilayah cukup jauh. "Kita mungkin akan melakukan renovasi. Tapi dilihat dulu kondisinya bagaimana, kalau memang mendesak, kita renovasi," katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten