Tutup Iklan
Abbrizam Hammam Zufar, 5, penderita penyakit langka osteogenesis imperfecta terbaring di rumahnya di Dusun Badongan RT 001/ RW 001 Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Rabu (4/9/2019). (Solopos-Indah Septiyaning W.)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Bocah asal Sukoharjo, Abbrizam Hammam Zufar, 5, hanya bisa menghabiskan hari-harinya di kasur. Anak kedua pasangan Maryono, 40, dan Anita Agustina, 35, itu mengalami penyakit langka osteogenesis imperfecta atau kelainan tulang yang menyebabkan tulang mudah rapuh. 

Tulang kaki Izam, panggilan bocah itu, terlihat tak beraturan. Seperti yang terlihat saat solopos.com berkunjung ke tempat tinggal Izam di Dusun Badongan RT 001/ RW 001 Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (4/9/2019) pagi.

Anak kelahiran 8 November 2014 itu tampak terbaring lemah di kasur. “Itu… itu…,” ucap Izam lirih saat meminta tolong kepada solopos.com untuk memutarkan video Sopo Jarwo di Youtube via handphone.

“Izam itu hiburannya hanya menonton Sopo Jarwo, Mbak, karena tidak bisa ke mana-mana,” timpal sang ibu dari ruang kamar.

Agustina sibuk mengurus adik Izam bernama Arvan Rafif Alfarisky yang baru berusia dua tahun. Izam pun hanya dibaringkan sendiri di kasur di ruang depan sambil menonton Sopo Jarwo. Tak berapa lama, Agustina keluar dari sambil menggendong anak ketiganya.

Izam lantas bermain dengan sang adik. Sesekali, sang adik mengganggunya.

Aja nyenggol [jangan menyenggol] kaki mas Izam, dek,” ucap Agustina ke Arvan.

Agustina mengaku Izam kerap mengalami kesakitan pada bagian kaki. Sakit itu bahkan dirasakan secara tiba-tiba. Kondisi ini membuat berat badan Izan minim. Di usianya sekarang ini, berat badan Izam hanya delapan kilogram.

Badannya begitu kecil, tulang tangannya bahkan hanya selebar dua jari. “Izam itu susah makan, apalagi kalau kumat sakitnya. Tidak mau makan sama sekali. Hanya nangis sampai satu jam lebih,” kata Agustina.

Jika terasa nyeri, butuh waktu sekitar satu bulan pemulihan. Izam juga harus mengonsumsi multivitamin untuk menguatkan tulangnya. Harganya Rp70.000 per botol yang diminum sehari sekali, dan akan habis dalam waktu satu pekan. Selain itu obat anti nyeri, dengan harga yang hampir Rp70.000 dan kedua obat tersebut hanya bisa dibeli di rumah sakit.

"Kalau kata dokter, untuk penyembuhan belum ada," imbuhnya.

Profesi ayam Izam hanya sebagai buruh bangunan dan Agustina sebagai ibu rumah tangga praktis keduanya terpaksa berutang ke sana ke mari. Dia berharap adanya uluran tangan dari berbagai pihak untuk pengobatan anaknya.

“Kami selama ini menggunakan BPJS Kesehatan yang dibayar secara mandiri. Dan sekarang tengah proses BPJS dari mandiri diganti dengan KIS [Kartu Indonesia Sehat],” katanya.

Agustina mengatakan penyakit kelainan tulang diderita anaknya sejak lahir. Sejak dites USG pada usia kehamilan delapan bulan, kaki Izam sudah terlihat bengkok. Saat usia Izam baru tiga minggu, dokter meminta dilakukan rontgen.

Sejak saat itu, kaki Izam terus mengalami patah tulang. Setidaknya Izam telah mengalami patah tulang delapan kali sejak usianya masih tiga minggu hingga dua tahun.

“Sejak usia lebih dari dua tahun tidak pernah patah tulang lagi. Tapi suka mengalami sakit yang luar biasa, dan kondisi kakinya kini tak beraturan,” katanya.

Kini untuk menghirup udara luar, Izam, harus menggunakan kursi roda. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten