Kisah Pilu Alfian Pelajar SMK Klaten, 2 Tangannya Diamputasi Gara-Gara Kecelakaan Saat PKL
Alfian Fahrul Nabila, 18, warga Dukuh Dalem, Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, bersama kedua orang tuanya, Wagimin-Tri Ismani, Minggu (28/2/2021). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN — Kisah pilu dialami seorang pelajar SMK asal Klaten bernama Alfian Fahrul Nabila, 18, yang harus merelakan dua lengannya diamputasi setelah mengalami kecelakaan kala mengikuti praktik kerja lapangan atau PKL.

Kejadiannya pada 9 Maret 2020 silam. Alfian yang merupakan pelajar jurusan Teknik Komputer Karingan (TKJ) SMK di Klaten yag tengah PKL di salah satu perusahaan. Ia bersama enam temannya mempraktikkan ilmu dengan memasang Wifi di wilayah Kecamatan Wedi.

Alfian memanjat genting setinggi 4 meter guna memasang pipa besi sebagai tiang antena Wifi. Sementara keenam temannya menunggu di bawah. Tiba-tiba, pipa besi yang ia bawa ambruk menimpa kabel listrik PLN.

Baca Juga: Jadi Wali Kota Solo, Gibran Ternyata Masih Punya Utang KPR, Ini Nilainya

Seketika arus listrik bertegangan tinggi menyengat tubuh Alfian. Akibat kecelakaan itu, pelajar SMK di Klaten tersebut tak sadarkan diri.

Keesokan harinya Alfian tersadar dalam kondisi terlentang di tempat tidur rumah sakit dengan beberapa luka bakar. Kondisi luka paling parah berada pada kedua lengannya yang terus menekuk.

Awalnya jemari Alfian masih merespons ketika disentuh. Namun, lambat laun kondisinya memburuk hingga tangan kanan Alfian harus diamputasi. Semangat Alfian menurun hingga tak doyan makan dan terus terpikir hal-hal buruk terkait masa depannya.

Baca Juga: Keluarga Korban Kekerasan Seksual Sukodono Sragen Dibantu Modal Usaha Warung Hik

Memotivasi

Kondisi psikologis itu memperparah kondisi tangan kiri pelajar SMK Klaten yang mengalami kecelakaan itu hingga akhirnya harus diamputasi pula. Amputasi lengan kiri ini hanya berselang dua pekan dari amputasi tangan kanannya.

Selama 44 hari Alfian dirawat di rumah sakit sebelum diperbolehkan pulang ke rumahnya. Alfian kerap menangis ketika mengingat kondisinya yang tak lagi memiliki kedua tangan.

Orang-orang terdekat terutama ibunya terus memotivasi agar tak menyerah dengan keadaan. Teman dekat, guru, hingga orang-orang yang mengenalnya terus berdatangan membangkitkan semangat anak pertama dari dua bersaudara pasangan Wagimin dan Tri Ismani itu.

Baca Juga: Motor Sekdes Serenan Klaten Ditemukan Di Jembatan Sungai Grogol Sukoharjo, Pengendaranya Menghilang

Motivasi itu membangkitkan semangat pelajar SMK asal Klaten yang mengalami kecelakaan saat PKL itu. Perlahan, Alfian menata hati untuk beradaptasi dan mulai kembali tersenyum. Alfian mulai belajar agar bisa mandiri.

Jari kakinya beradaptasi untuk mengoperasikan ponsel, laptop, hingga makan camilan dan mi instan. “Tidak ada yang mengajari. Saya belajar secara autodidak. Karena saat itu saya merasa gabut,” kata Alfian saat ditemui di rumahnya, Dukuh Dalem, Desa Sawit, Gantiwarno, Klaten, Minggu (28/2/2021).

Semangat belajar Alfian patut diacungi jempol. Keterbatasan tak lantas membuatnya malas belajar. Saban hari, Alfian masih terus mengikuti pembelajaran sekolah secara daring. Teman-teman sekolahnya pun rajin datang ke rumah untuk belajar bareng.

Baca Juga: 2 Hajatan Dibubarkan Tim Gabungan Pemkab Boyolali, Sejumlah Orang Dites Antigen

Dikenal Berprestasi

Pelajar SMK asal Klaten yang mengalami kecelakaan hingga kehilangan dua lengan itu dikenal berprestasi. Ia pun menjadi tumpuan teman-teman sekolahnya untuk mengajari materi pelajaran tertentu yang sulit mereka pahami.

Alfian memiliki keinginan kuat bisa melanjutkan pendidikannya ke bangku perguruan tinggi. Ia pun sudah mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi di UNY jurusan Pendidikan Teknik Informatika serta Teknik Komputer Undip Semarang.

Alfian belum tahu kapan seleksi bakal digelar. Ia berharap bisa lolos tes. “Sejak lama saya sudah bercita-cita menjadi ahli komputer. Sejak kecil saya selalu tertarik mengutak-atik komputer, bongkar-pasang dinamo mainan,” katanya.

Baca Juga: Njomplang! Ini Nilai Harta Kekayaan Gibran-Teguh Di Awal Memimpin Solo

Seusai kecelakaan, pelajar SMK di Klaten itu ingin bisa memiliki tangan robotik yang kelak membantunya melakukan beragam aktivitas layaknya orang normal. Sayangnya, harga tangan robotik itu terlampau mahal, mencapai ratusan juta rupiah. Sementara keluarganya hidup sederhana mengandalkan pendapatan dari hasil buruh tani.

Ibunda Alfian, Tri Ismani, tak pernah lelah menyematkan keyakinan bahwa anaknya bisa menjadi orang sukses, membanggakan, dan mengangkat martabat keluarga meski kini kondisi tubuhnya tak lagi normal.

Tri Ismani berharap keinginan dan cita-cita anaknya bisa terkabul termasuk keinginan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Pun halnya dengan keinginan Alfian untuk mendapatkan tangan robotik.

Baca Juga: Pemancing Ngaku Lihat Laki-Laki Terjun Dari Jembatan Sungai Grogol Sukoharjo

Terus Jalani Perawatan

Kerabat keluarga Alfian, Restu, mengatakan pelajar SMK asal Klaten itu masih terus menjalani perawatan agar bekas luka operasi akibat kecelakaan segera mengering. Soal tempat PKL dan sekolah, Restu memastikan mereka sudah bertanggung jawab.

Mereka kerap datang ke rumah Alfian untuk memberikan bantuan dan memotivasi anak tersebut. Sementara itu, guna mewujudkan keinginan Alfian memiliki tangan robotik, sepupu Alfian yang bernama Fathiya, 15, menggalang donasi.

Baca Juga: Capek Disalahkan Terus Soal Underpass Makamhaji, Pemkab Sukoharjo Minta Ini Ke Kemenhub

Donasi bisa disalurkan melalui rekening Bank Mandiri 138-00-1195374-7 atas nama Ida Komaria atau Bank BRI 6734-01-001103-53-3 atas nama Purwanto. Hingga kini, dana yang terkumpul sekitar Rp19 juta.

Fathiya memastikan donasi seluruhnya digunakan untuk merealisasikan keinginan Alfian memiliki tangan robotik. Harga tangan robotik kisarannya Rp400 juta.



Berita Terkini Lainnya








Kolom