Kisah Pengkhianatan di Balik Situs Watu Lumpang Pemalang

Selain memberikan pengalaman wisata yang menarik, rupaya di desa ini terdapat peninggalan pra sejarah yang dikenal dengan Watu Lumpang. Masyarakat sekitar percaya bahwa batu ini memiliki kekuatan magis.

Jumat, 21 Mei 2021 - 20:45 WIB Penulis: Yesaya Wisnu Editor: Alvari Kunto Prabowo | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Watu Lumpang Desa Cikendung (Youtube didik politik)

Solopos.com, PEMALANG -- Desa Cikedung, Kecamatan Watukumpul di Kabupaten Pemalang merupakan desa wisata yang menarik untuk  dikunjungi. Desa ini terletak di sebelah timur kaki Gunung Slamet. Untuk menuju desa ini membutuhkan sekitar 1,5 jam dari pusat Kota Pemalang.

Selain memberikan pengalaman wisata yang menarik, rupaya di desa ini terdapat peninggalan prasejarah yang dikenal dengan Watu Lumpang. Masyarakat sekitar percaya bahwa batu ini memiliki kekuatan magis.

Berdasarkan pantauan Solopos.com di kanal Youtube didik politik, Jumat (21/5/2021),  Watu Lumpang ini berbentuk memanjang ke atas dan terdapat lubang di bagian atas batu yang dalam dan dasarnya tidak bisa dijangkau oleh tangan.

Baca Juga : Kerap Ada Kesurupan Massal di Pantai Widuri, Ini Sebabanya

Tempat berdirinya Watu Lumpang ini sering didatangi oleh orang-orang yang hendak mencari berkah. Orang-orang itu biasa datang di hari Jumat dan memberikan sesaji di sekitar batu  lalu memeluk batu itu sebagai bagian dari ritual.

Penduduk lokal mengatakan jika datang dengan tidak ada kepentingan di area Watu Lumpang pada hari keramat, yaitu Jumat, dipercaya akan terserang penyakit. Menurut legenda yang  dipercaya, kisah Watu Lumpang ini berawal dari seorang Kyai bernama Calam yang sakti mandraguna, hendak mencari istri karena dirinya sudah dewasa.

Ibunya, Nyai Karsih, meminta dia untuk tapa brata di sebuah mata air selama 7 hari dan 7 malam. Saat masa tapa bratanya selesai, Calam terbangun karena mendapat bisikan bahwa ada seorang putri cantik bernama Nyai Carang Lembayung yang tinggal tidak jauh dari Desa Cikendung.

Baca Juga : Melepas Rindu, Kristina Selalu Makan Menu Ini Saat di Pemalang

Kemudian Calam menceritakan wangsit itu kepada ibunya dan ibunya menceritakan pula kepada sesepuh desa, yaitu Mbah Kyai Tuwuh Wijaya. Oleh karena saran Mbah Tuwuh untuk segera melamar Nyai Carang Lembayung, Nyai Karsih mencari hari yang baik untuk melakukan lamaran.

Setelah mendapatkan hari baik, Nyai Karsih menemui Nyai Carang Lembayung yang tinggal di sebuah lembah yang sekarang dikenal sebagai sebutan Candi Kendal, perbatasan dengan Desa Cikendung sebelah utara.

Mbah Gunung Slamet, ayah dari Nyai Carang Lembayung menerima lamaran Nyai Karsih dengan syarat, disaat hari besanan, tidak boleh ada seorangpun yang mengetahui. Kalau sampai ada yang mengetahui, semua barang bawaan akan menjadi batu arca.

Baca Juga : Wisata Alam Pemalang Ini Bakal Picu Adrenalin Pengunjung

Setelah ada kesepakatan antara kedua belah pihak, akhirnya hari yang ditunggu, yaitu hari Selasa bulan ganjil menjadi hari untuk besanan. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan, seperti makanan hingga alat dapur, seperti lumpang, pawon dan perlengkapan lainnya.

Dengan kesaktiannya, Calam membuat barang bawaannya mengikuti dia dan karena syaratnya tidak boleh ada yang tahu, maka Calam dan ibunya Nyai Karsih berangkat pada pagi-pagi buta. Di saat baru berjalan beberapa saat, Calam terkejut karena ada orang yang menghadangnya dan seketika kabut tebal menyelimuti barang-barang bawaannya dan menjadi batu arca, termasuk kudanya juga menjadi batu dan orang yang mengadangnya juga menghilang.

Watu Lumpang yang menjadi situs prasejarah itu diyakini adalah salah satu barang bawaan yang digunakan sebagai seserahan di hari besanaan Kyai Calam dan Nyai Carang Lembayung. Seiring berjalannya waktu, Kyai Calam tahu bahwa yang menghadangnya adalah orang suruhan Nyai Carang Lembayung, yaitu Pangeran Teja Arum atau dikenal sebagai Mbah Weja yang akhirnya mempersunting Nyai Carang Lembayung.

Dengan amarah, barang bawaan yang menjadi arca itu ditendang keras oleh Kyai Calam, dan Watu Lumpang itu terlempar sampai ke tengah-tengah Desa Cikendung dan menjadi situs pra sejarah hingga sekarang

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif
HEADLINE jateng Mengulik Sejarah Asli Marabunta, Gedung Unik di Kota Lama Semarang 9 menit yang lalu

HEADLINE jateng Semarang Panas, Suhu Diprediksi Capai 39,5 Derajat Celcius 31 menit yang lalu

HEADLINE jateng Wisatawan ke Borobudur Mencapai 1,2 Juta Orang 1 jam yang lalu

HEADLINE jateng Beli Oli Yamalube, Warga Jebres Solo Raih Yamaha Aerox 3 jam yang lalu

HEADLINE jateng Menengok Gedung Sarekat Islam di Semarang yang Didirikan Tokoh Pendiri PKI 7 jam yang lalu

HEADLINE jateng Potret Destinasi Wisata di Jateng Dipamerkan di Kota Lama Semarang 8 jam yang lalu

HEADLINE jateng Driver Ojol Semarang Dikeroyok saat Antre BBM di SPBU Dapat Donasi Rp43 Juta 17 jam yang lalu

HEADLINE jateng DPRD Kota Semarang Sentil Pembangunan RSUD Mijen, Harus Rampung Tahun Ini 17 jam yang lalu

HEADLINE jateng Keseruan Acara Solopos Goes to Campus 2022 di Udinus Semarang 17 jam yang lalu

HEADLINE jateng Gagalkan Aksi Perampokan, Kadus di Semarang Tertusuk Pisau 22 jam yang lalu

HEADLINE jateng Rekan Jadi Tersangka Pengeroyokan, Ratusan Driver Ojol di Semarang Gelar Aksi 22 jam yang lalu

HEADLINE jateng Hore, FO Ganefo Selesai Dibangun, Oktober Sudah Bisa Digunakan 23 jam yang lalu

HEADLINE jateng Wakil Rektor Udinus: Solopos Goes to Campus Selaras dengan Program Kampus 23 jam yang lalu

HEADLINE jateng Solopos Goes to Campus 2022: Pimred Solopos Bagi Pengalaman ke Mahasiswa Udinus 1 hari yang lalu

HEADLINE jateng Solopos Goes to Campus 2022: Sutradara Mas Mus Motivasi Mahasiswa Udinus 1 hari yang lalu