Kisah Pengkhianatan di Balik Situs Watu Lumpang Pemalang

Selain memberikan pengalaman wisata yang menarik, rupaya di desa ini terdapat peninggalan pra sejarah yang dikenal dengan Watu Lumpang. Masyarakat sekitar percaya bahwa batu ini memiliki kekuatan magis.

 Watu Lumpang Desa Cikendung (Youtube didik politik)

SOLOPOS.COM - Watu Lumpang Desa Cikendung (Youtube didik politik)

Solopos.com, PEMALANG -- Desa Cikedung, Kecamatan Watukumpul di Kabupaten Pemalang merupakan desa wisata yang menarik untuk  dikunjungi. Desa ini terletak di sebelah timur kaki Gunung Slamet. Untuk menuju desa ini membutuhkan sekitar 1,5 jam dari pusat Kota Pemalang.

Selain memberikan pengalaman wisata yang menarik, rupaya di desa ini terdapat peninggalan prasejarah yang dikenal dengan Watu Lumpang. Masyarakat sekitar percaya bahwa batu ini memiliki kekuatan magis.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Berdasarkan pantauan Solopos.com di kanal Youtube didik politik, Jumat (21/5/2021),  Watu Lumpang ini berbentuk memanjang ke atas dan terdapat lubang di bagian atas batu yang dalam dan dasarnya tidak bisa dijangkau oleh tangan.

Baca Juga : Kerap Ada Kesurupan Massal di Pantai Widuri, Ini Sebabanya

Tempat berdirinya Watu Lumpang ini sering didatangi oleh orang-orang yang hendak mencari berkah. Orang-orang itu biasa datang di hari Jumat dan memberikan sesaji di sekitar batu  lalu memeluk batu itu sebagai bagian dari ritual.

Penduduk lokal mengatakan jika datang dengan tidak ada kepentingan di area Watu Lumpang pada hari keramat, yaitu Jumat, dipercaya akan terserang penyakit. Menurut legenda yang  dipercaya, kisah Watu Lumpang ini berawal dari seorang Kyai bernama Calam yang sakti mandraguna, hendak mencari istri karena dirinya sudah dewasa.

Ibunya, Nyai Karsih, meminta dia untuk tapa brata di sebuah mata air selama 7 hari dan 7 malam. Saat masa tapa bratanya selesai, Calam terbangun karena mendapat bisikan bahwa ada seorang putri cantik bernama Nyai Carang Lembayung yang tinggal tidak jauh dari Desa Cikendung.

Baca Juga : Melepas Rindu, Kristina Selalu Makan Menu Ini Saat di Pemalang

Kemudian Calam menceritakan wangsit itu kepada ibunya dan ibunya menceritakan pula kepada sesepuh desa, yaitu Mbah Kyai Tuwuh Wijaya. Oleh karena saran Mbah Tuwuh untuk segera melamar Nyai Carang Lembayung, Nyai Karsih mencari hari yang baik untuk melakukan lamaran.

Setelah mendapatkan hari baik, Nyai Karsih menemui Nyai Carang Lembayung yang tinggal di sebuah lembah yang sekarang dikenal sebagai sebutan Candi Kendal, perbatasan dengan Desa Cikendung sebelah utara.

Mbah Gunung Slamet, ayah dari Nyai Carang Lembayung menerima lamaran Nyai Karsih dengan syarat, disaat hari besanan, tidak boleh ada seorangpun yang mengetahui. Kalau sampai ada yang mengetahui, semua barang bawaan akan menjadi batu arca.

Baca Juga : Wisata Alam Pemalang Ini Bakal Picu Adrenalin Pengunjung

Setelah ada kesepakatan antara kedua belah pihak, akhirnya hari yang ditunggu, yaitu hari Selasa bulan ganjil menjadi hari untuk besanan. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan, seperti makanan hingga alat dapur, seperti lumpang, pawon dan perlengkapan lainnya.

Dengan kesaktiannya, Calam membuat barang bawaannya mengikuti dia dan karena syaratnya tidak boleh ada yang tahu, maka Calam dan ibunya Nyai Karsih berangkat pada pagi-pagi buta. Di saat baru berjalan beberapa saat, Calam terkejut karena ada orang yang menghadangnya dan seketika kabut tebal menyelimuti barang-barang bawaannya dan menjadi batu arca, termasuk kudanya juga menjadi batu dan orang yang mengadangnya juga menghilang.

Watu Lumpang yang menjadi situs prasejarah itu diyakini adalah salah satu barang bawaan yang digunakan sebagai seserahan di hari besanaan Kyai Calam dan Nyai Carang Lembayung. Seiring berjalannya waktu, Kyai Calam tahu bahwa yang menghadangnya adalah orang suruhan Nyai Carang Lembayung, yaitu Pangeran Teja Arum atau dikenal sebagai Mbah Weja yang akhirnya mempersunting Nyai Carang Lembayung.

Dengan amarah, barang bawaan yang menjadi arca itu ditendang keras oleh Kyai Calam, dan Watu Lumpang itu terlempar sampai ke tengah-tengah Desa Cikendung dan menjadi situs pra sejarah hingga sekarang

Sumber: Youtube didik politik, Detik.com, Cikendung.desa.id

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Innalillahi, 335 Ibu di Jateng Alami Kematian Sepanjang 2022

      Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jateng menyatakan angka kematian ibu di provinsi tersebut sepanjang 2022 mencapai 335 kasus.

      PLN Salatiga Sosialisasikan Listrik Premium, Listrik Tanpa Padam

      PLN menghadirkan layanan listrik premium, dimana jalur kelistrikan pihaknya menyiapkan secara dobel.

      Kampung Melayu Bersolek, Siap Jadi Ikon Wisata Baru di Semarang

      Kampung Melayu saat ini tengah dalam tahap revitalisasi dan siap menjadi ikon baru wisata di Kota Semarang.

      Ini Kronologi Nelayan Rawa Pening Meninggal Tenggelam

      Saat perahu terguling, korban sempat berteriak minta tolong, tetapi karena jarak terdekat dari nelayan lain di luar jangkauan.

      Sedih! Korban Meninggal Akibat Banjir Bandang di Pati Bertambah

      Korban meninggal dunia akibat banjir bandang di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng), bertambah menjadi dua orang pada Kamis (1/12/2022).

      Diduga Korsleting, 3 Kios di Pasar Buah Mlati Kopeng Hangus Terbakar

      Kapolres Semarang AKBP Yovan Fatika H A, membenarkan akan kejadian kebakaran kios buah tersebut, dan pihaknya menjelaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

      Gegara Baling-Baling Perahu Nyangkut Tali, Nelayan Rawa Pening Meninggal Dunia

      Saat di tengah rawa, tiba-tiba baling-baling perahu tersangkut bekas tali pancang beranjang. Perahu terbalik di kedalaman kurang lebih 6 meter

      Pj Wali Kota: Layanan Kesehatan RSUD Salatiga Harus Maksimal dan Lebih Ramah

      Pada Desember ini RSUD Salatiga akan menggelar survei akreditasi agar bisa mempertahankan akreditasi paripurna.

      Intiyas Utami, Serba Pertama dari Guru Besar hingga Rektor Perempuan di UKSW

      Rektor UKSW Intiyas Utami merupakan guru besar perempuan pertama UKSW pemegang sertifikat internasional Qualified Auditor Internal dan Certified Management Accountant.

      Banjir Bandang Akibatkan 1 Orang Meninggal dan 146 Warga di Pati Dievakuasi

      Banjir bandang yang melanda dua desa pada dua kecamatan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng), mengakibatkan 1 orang meninggal dunia dan 146 orang dievakuasi.

      Cabul! Pria di Tegal Rudapaksa Bocah Perempuan saat Tidur

      Seorang pria paruh baya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng), tega melakukan perbuatan rudapaksa terhadap bocah perempuan berusia 13 tahun yang tengah tidur.

      Seharian Hujan Lebat, 3 Kecamatan di Pati Tergenang Banjir Bandang

      Sejumlah desa di tiga kecamatan pada Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng) diterjang banjir bandang pada Rabu (30/11/2022).

      Resmi! Intiyas Utami Jabat Rektor UKSW 2022-2027

      Prof Intiyas Utami resmi menjabat sebagai Rektor UKSW Salatiga untuk periode 2022-2027.

      Foto Sosok Dheo Daffa, Pembunuh Keluarga di Magelang Beredar di Medsos

      Foto sosok pelaku pembunuhan keluarga di Magelang, Dheo Daffa, beredar dan viral di media sosial atau medsos.

      Ternyata! DD Magelang Beri Dawet Campur Racun ke Orang Lain Selain Keluarga

      DD atau Dheo Daffa Syahdilla, anak yang bunuh keluarga dengan racun ternyata juga memberikan racun dicampur minuman dawet ke orang lain.