Ilustrasi pengantin. (Reuters)

Solopos.com, KAIROKisah tragis dialami beberapa wanita di Mesir yang harus rela dijual keluarganya kepada para pria yang ingin melakukan kawin kontrak. Beberpa wisatawam pria datang ke Mesir setiap musim panas hanya untuk kawin kontrak.

Kebiasaan kawin kontrak di Mesir saat musim panas itu kini disebut sebagai Pengantin Musim Panas. Howeida, 28, salah satu wanita yang kerap menjadi Pengantin Musim Panas membeberkan kisah tragisnya.

Dilaporkan Detik.com, Rabu (13/11/2019), Howeida mengaku pernah dilamar pria asal Arab dengan mahar senilai 1.750 Euro atau sekitar Rp24,6 juta. Ia terikat kontrak pernikahan selama 20 hari.

Selama itu pula Howeida mengalami kekerasan seksual dan perkosaan. Ketika sang pria pulang ke kampung halamannya, liburan musim panas buat Howeida pun ikut berakhir.

Howeida mengaku mahar yang ditawarkan untuk menjadi Pengantin Musim Panas biasanya bernilai besar untuk keluarga perempuan, senilai hingga beberapa tahun gaji.

"Kedengarannya menggiurkan. Keluarga saya mengatakan saya akan mendapat hadiah dan baju baru. Saya masih muda saat itu. Lalu saya setuju," kisah Howeida saat kali pertama menjadi Pengantin Musim Panas. Dengan mahar yang didapat, kedua orangtuanya bisa membeli mesin cuci dan lemari es.

Sepanjang hidupnya, Howeida pernah delapan kali menjadi Pengantin Musim Panas, masing-masing hanya kontrak beberapa hari. Dia ingin mengubur aib masa lalu dan menolak menyebut nama aslinya.

Sejak berhenti menjadi Pengantin Musim Panas, dia mengenakan nikab berwarna hitam demi menutupi kecantikannya, kulit halusnya, dan rambut panjangnya yang sebahu.

Howeida mengaku ketika kali pertama dilamar, dia masih hidup bersama ayahnya, ibu, dan saudara tiri berusia 6,5 tahun. Keluarga kecil itu tinggal di rumah berkamar tiga di sebuah desa di luar Distrik Ouseem, 20 km dari Kairo.

"Saya masih lugu. Saya masih percaya pada cinta. Malam pertama sangat mengerikan. Setelahnya saya punya masalah psikologis," kata Howeida.

Meski demikian, keluhan itu tidak menghentikan keluarga menikahinya untuk kesekian kali pada musim panas berikutnya. Ketika Howeida kehilangan keperawanannya, mahar yang diberikan jauh lebih rendah, yakni sekitar 600 Euro atau sekitar Rp8,3 juta.

Sementara itu, kuasa hukum sebuah LSM yang khusus mengadvokasi kasus prostitusi dan perdagangan manusia Ahmed Moselhy, menegaskan kisah hidup Howeida bukan kisah unik namun merupakan kisah tragis.

"Banyak gadis ingin membantu keluarganya dan menikah secara sukarela. Lalu mereka melakukannya berulangkali, karena ketagihan uang. Setiap keluarga di sekitar sini punya delapan atau lebih anak. Setiap anak perempuan bisa menghasilkan uang untuk membeli satu mobil atau merenovasi rumah menjadi bertingkat," ujar Ahmad.

Kawasan pinggiran Kairo nyaris tak tersentuh pertumbuhan ekonomi. Seperempat penduduknya hanya berpenghasilan kurang dari Rp30.000 per hari.

Kondisi muram tersebut menguntungkan pelaku wisata seks. Terkadang seorang wisatawan bisa membayar 100.000 Euro atau Rp1,5 miliar, tergantung pada penampilan, usia, durasi pernikahan, dan status keperawanan.

Meski pernah dijual sebagai Pengantin Musim Panas, Howeida masih hidup bersama sang ayah dan ibu tiri. "Saya tidak lagi takut, tapi saya benci mereka. Terutama ayah saya. Kenapa dia membiarkan ini terjadi?" tukasnya.

Pernikahan ilegal di Mesir dimungkinkan karena adanya celah lebar dalam hukum pernikahan. Kontrak pernikahan bisa didapat di hampir semua toko buku.

Kolaborasi antara makelar hukum dan pengacara memastikan proses hukum berjalan mulus dan rahasia. Pernikahan semacam ini tidak tercatat dan bisa dibatalkan kapan saja.

Sumber: Detik.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten