Tutup Iklan
Suasana Pasar Kono di Lingkungan Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, pada siang hari pukul 13.30 WIB. (Solopos-Wahyu Prakoso)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Lingkungan Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, dikenal dengan penyelenggaraan upacara adat Mondosiyo.

Tradisi Mondosiyo merupakan bentuk silaturahmi, ucapan doa, dan rasa syukur kepada semesta yang dilakukan setiap enam lapan (satu lapan 35 hari) sekali pada Selasa Kliwon.

Acara puncak upacara adat Mondosiyo berupa lempar dan tangkap ayam atau masyarakat sering menyebutnya abur-abur sebagai wujud syukur setelah melewati cobaan yang datang sebelumnya. Ayam merupakan media nazar bagi warga Dusun Pancot.

Warga yang bernazar melepas satu pasang ayam ke atap pendopo. Para penonton berusaha menangkap ayam tersebut sebagai wujud usaha mendapatkan keberuntungan dan berkah ketika mendapatkan ayam.

Tradisi enam lapan sekali ini dilakukan di Pasar Pancot atau Pasar Kono yang berlokasi di tengah wilayah Lingkungan. Selain digunakan untuk tradisi Mondosiyo, area pasar dipakai warga untuk hajatan dan kegiatan ruwatan dusun. Ruwatan dusun dilakukan setiap tiga tahun sekali.

Area pasar memiliki tiga bangunan lawas sebagai tempat serangkaian upacara adat yaitu, Punden Watu Gilang, Punden Balai Pathoan, dan Pendopo. Yang unik dari bangunan tersebut tidak ada pedagang yang berkumpul layaknya pasar pada umumnya.

Koordinator Lingkungan Pancot Lor, Santoso, menjelaskan bangunan Pasar Pancot berdiri sejak dahulu kala.

Ia masih teringat masa kecilnya sekitar tahun 1970an Pasar Pancot menjadi pusat ekonomi desa dengan banyaknya pedagang dan petani bawang bertransaksi bisnis.

“Dulu banyak pedagang yang membeli hasil panen bawang merah dan bawang putih petani. Mayoritas warga sebagai petani bawang saat itu,” ujarnya kepada solopos.com saat ditemui di rumahnya, Rabu (9/10/2019).

Santoso mengatakan sebagai sentra bawang merah dan bawang putih banyak petani yang membeli bekal untuk ke ladang. Banyak pedagang yang menjajakan beragam jajanan kuliner tradisional, antara lain, getuk dan ketela goreng di Pasar Pancot.

“Saking dekatnya lokasi pasar dengan rumah warga. Banyak warga yang menyebut Pasar Pancot dengan istilah Pasar Kono. Pasare ning kono [pasarnya di situ],” ujarnya.

Dia mengatakan kala itu bangunan pendopo masih sederhana. Kemudian masyarakat gotong royong merenovasi pendopo pada 1990.

Kondisi berubah ketika Orde Baru berakhir. Kala itu harga bawang merah dan bawang putih terjun bebas yang berdampak kepada kerugian petani. Para petani yang rugi beralih menanam komoditas lain.

Para tengkulak tidak mendapatkan pasokan barang. Mereka pindah ke Pasar Blumbang.

Sementara, petani yang bertahan menanam bawang merah dan bawang putih menjual hasil panen ke Pasar Blumbang mengikuti para tengkulak.

Ketika harga bawang merah dan bawang putih pulih, para petani mulai menanam komoditas tersebut.

Namun, transaksi di Pasar Kono tetap tidak hidup kembali karena para tengkulak yang pernah eksis sudah meninggal.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten