Mbah Warti menunjukkan kedua lengannya yang masih bengkak setelah disengat gerombolan tawon, Selasa (8/10/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Trauma begitu melekat di benak Suwarti, 80. Nenek-nenek asal Dukuh/Desa Jambanan, RT 002, Sidoharjo, Sragen, itu , terus saja menyebut nama Allah ketika menceritakan kembali peristiwa pada Selasa (8/10/2019).

Kejadian itu nyaris merenggut nyawanya. “Masya Allah, saya baru pertama ini melihat tawon sebanyak itu. Seperti burung emprit di sawah yang datang bergerombol lalu menyerang saya. Saya tak kuat menahan sakit. Saya pikir, saat itu ajal saya akan tiba,” ujar Mbah Warti, sapaan akrabnya, kala ditemui Solopos.com di rumahnya, Rabu (9/10/2019).

Sehari-hari Mbah Warti harus dibantu tongkat untuk berjalan. Oleh anak cucunya, Mbah Warti sudah diwanti-wanti untuk tidak pergi ke mana-mana.

Namun, pada Selasa pagi, Mbah Warti berjalan-jalan seorang diri ke pekarangan belakang rumahnya. Saat itu, Mbah Warti bermaksud membersihkan daun pisang kering atau klaras yang masih menempel di pohon.

Tanpa disangka, klaras itu menyenggol sarang tawon kunir yang menempel di dahan pohon melinjo. Ratusan tawon kunir keluar dari sarang lalu menyerang Mbah Warti yang sudah renta.

“Tawonnya keluar semua. Mungkin ratusan ekor. Mereka mutar-mutar di atas kepala saya lalu menyengat saya secara bertubi-tubi. Saya kelimpungan di tanah," jelas Mbah Warti.

Tawon itu tidak berhenti menyengat bagian atas kepala, wajah, tangan, punggung, dan kaki Mbah Warti. Dia berteriak kesakitan, tapi tidak bisa berlari. Dia hanya bisa merangkak sambil terus menerus minta pertolongan.

"Sampai emperan rumah, saya masih dikejar tawon itu. Sengatan di mana-mana sampai sekujur tubuh saya bengkak,” beber Mbah Warti.

Mendengar teriakan neneknya, Ismiyati, 42, yang baru pulang kerja berusaha menolong. Secara spontan dia mengambil kerudung lalu mengibas-ibaskannya untuk mengusir tawon.

Namun, Ismiyati justru balik diserang tawon itu. Ia pun terkena sengatan beberapa tawon di bagian kepala dan lengan.

Suparmi, 55, adik Mbah Warti, yang ikut menolong juga tidak luput dari amukan tawon. Sama dengan Ismiyati, Suparmi juga terkena sengatan beberapa tawon di bagian kepala dan lengan.

“Masya Allah. Tawon itu seakan terus mengajak teman-temannya untuk menyerang kami. Saya baru lihat ada tawon yang agresifnya minta ampun seperti itu,” timpal Ismiyati.

12 Suntikan

Oleh warga, Mbah Warti, Ismiyati, dan Suparmi kemudian dilarikan ke Klinik Saras Medika Desa Jambanan. Ismiyati dan Suparmi menjalani rawat jalan. Sedangkan Mbah Warti menjalani rawat inap.

Setelah diserang tawon itu, Mbah Warti terus meringis menahan rasa sakit. Kedua tangan dia terus menerus gemetar karena tak kuat menahan sakit. Total Mbah Warti harus mendapatkan 12 suntikan melalui selang infus untuk meredakan rasa nyeri di tubuhnya.

“Badan saya nyeri di mana-mana. Rasanya panas sekali. Saya tidak bisa berpikir apa-apa. Saya kira saat itu saya akan mati. Tapi, alhamdulillah Allah berkehendak lain. Sekitar pukul 17.00 WIB, saya baru bisa menyadari apa yang telah terjadi,” papar Mbah Warti.

Setelah menjalani perawatan intensif di bawah pengawasan dr. Siti Wahyuni, Mbah Warti diperkenankan pulang ke rumah pada Rabu pagi. Beruntung Mbah Warti langsung tertangani sehingga ia selamat dari maut.

“Dokter bilang, kalau tidak segera tertangani bisa bahaya karena racun dari sengatan tawon itu bisa masuk ke jantung,” jelas Ismiyati.

Pada Selasa malam, tim Search and Rescue (SAR) Pengamanan Ormas Lingkungan Desa (Poldes) Sepat, Masaran, Sragen, mengevakuasi sarang tawon yang telah menyerang tiga warga Jambanan tersebut.

Pada 2019 ini, sudah ada lima sarang tawon kunir yang dievakuasi di Desa Jambanan. “Beberapa hari sebelumnya, tawon juga menyengat warga kami. Sebelumnya juga ada anak kecil yang kena sengatan tawon. Tapi, yang paling parah kondisinya ya Mbah Warti itu,” papar Kepala Desa Jambanan, Sugino Welly.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten